Sukses

Menyongsong Pagi Berkawan Celoteh Burung di Hutan Harapan

Liputan6.com, Jambi - Hutan Harapan menjadi hutan dataran rendah yang tersisa di bagian selatan dan tengah Pulau Sumatera. Terkepung ancaman yang begitu massif, ternyata Hutan Harapan masih menyimpan beragam potensi ekowisata yang perlu dilestarikan.

Ditetapkan pada 2008, Hutan Harapan adalah kawasan restorasi ekosistem pertama di Indonesia. Hutan ini, dikelola PT Restorasi Eksosistem Indonesia (Reki) yang memiliki luas 98.555 hektare.

Tak hanya untuk penelitian, Hutan Harapan juga menawarkan ekowisata pengamatan burung atau birdwatching. Birdwatching menjadi ekowisata andalan yang ditawarkan di Hutan Harapan.

Kegiatan pengamatan burung itu dilakukan di alam bebas, bisa melalui alat bantu teropong atau hanya mendengarkan riuh celoteh burung endemik hutan dataran Sumatra.

"Ekowisata birdwatching ini sebagian besar untuk peneliti. Ekowisata di Hutan Harapan ini lebih ke peminat khusus wisatawan, jadi bukan seperti tempat wisata yang terbuka untuk umum," kata Plt Manajer Bisnis Hutan Harapan, Zelvin Naoval Hidayat kepada Liputan6.com, Jumat (22/11/2019).

Ekowisata ini dapat dilakukan sepanjang tahun. Bagi wisatawan yang berminat, ada waktu terbaik untuk mengamati burung, yakni pagi hari saat fajar menyongsong.

Ekowisata birdwatching butuh kesabaran ekstra demi dapat mengamati aktivitas burung yang terbang dan hinggap di pepohonan. Sehingga, sebagian besar pengunjung yang datang adalah hanya wisatawan yang memiliki minat khusus.

"Tapi tidak jarang juga untuk ekowisata komersil. Mekanismenya sama minat khusus atau komersil kalau yang berminat bisa hubungi manajemen Hutan Harapan," ucapnya.

Simak video pilihan berikut ini:

2 dari 2 halaman

307 Jenis Burung di Hutan Harapan

Selain itu, wisatawan juga bisa menikmati suasana jelajah dan menyusuri hutan tropis menuju spot pengamatan burung yang berada di tengah hutan. Untuk pengamatan burung, wisatawan harus membawa peralatan seperti teropong, buku panduan, kamera dan peralatan camping untuk bermalam di hutan.

Manajemen Hutan Harapan mencatat, di kawasan seluas 98.555 hektare yang membentang di satu lanskap antara Jambi hingga Sumatera Selatan, terdapat 307 jenis burung, baik yang statusnya langka atau yang masih aman. Namun tak semua burung mudah ditemukan.

Dari ratusan jenis burung yang terdapat di Hutan Harapan itu ada beragam burung eksotik seperti Raja udang atau Cucak kuning. Ditemukan pula berjenis-jenis elang. Dari semua itu, yang menjadi maskot Hutan Harapan adalah Rangkong Julang Emas (Rhyticeros undulatus).

Rangkong Julang Emas berdasarkan IUCN (International Union for Conservation of Nature) masuk kategori jenis satwa berisiko rendah seiring berkurangnya luasan hutan yang menjadi populasi burung eksotis tersebut.

Selain menjadi habitat sebanyak 307 jenis burung, ada pula 64 jenis mamalia, 123 jenis ikan, 55 jenis amfibi, 71 jenis reptil dan 917 jenis pepohonan.

Kemudian masih ditemukan spesies payung (Umbrella Species) yaitu Harimau sumatera (Panthera tigris sumatrae), Gajah sumatera (Elephas maximus sumatranus), Tapir (Tapirus indicus) dan Beruang madu (Helarctos malayanus).

Di balik beragamnya jenis burung langka itu, ternyata kawasan Hutan Harapan termasuk salah satu wilayah hutan tropis Sumatera yang paling terancam di dunia. Ancaman nyata saat ini yang dihadapi Hutan Harapan adalah pembangunan jalan tambang yang akan menembus kawasan tersebut.

Kini, huta ini sangat butuh dorongan penyemalataman. Di kawasan Hutan Harapan itu ada nilai konservasi dan keanekaragaman hayati yang tinggi yang peru dilindungi.

Koalisi Anti-perusakan membuka petisi "Menolak jalan tambang di hutan dataran rendah yang tersisa di Sumsel dan Jambi" lewat laman change.org.