Sukses

Kurir Langit untuk Orang Miskin Sakit dari Banyumas Siap Mendunia

Liputan6.com, Banyumas - Tahun 2019 boleh jadi adalah tahunnya Banyumas. Bagaimana tidak, pada tahun ini empat inovasi pelayanan publik Banyumas masuk dalam top 99 Kompetisi Inovasi Pelayanan Publik di negeri ini.

Lebih jauh lagi, tiga di antaranya berhubungan dengan pelayanan sosial dan kesehatan. Kalau boleh disebut, ini lah tahunnya orang-orang baik. Empat inovasi itu adalah Pattas Sosial Mitra Kurir Langit, PSC 119-Satria, Desa Demit, dan Saskia Gotak.

Singkat cerita, 99 inovasi dari seluruh Indonesia itu kembali disaring menjadi 45 inovasi terbaik. Sayang, tiga dari empat inovasi jagoan Banyumas terpental. Hanya satu inovasi yang masuk ke Top 45, yakni Pattas Pattas Sosial Mitra Kurir Langit.

Yang membanggakan, belakangan inovasi pelayanan publik Pattas Sosial Mitra Kurir Langit termasuk 11 terbaik inovasi pelayanan publik terbaik Indonesia. Inovasi ini juga bakal mendunia dan bakal dipresentasikan di United Nation Public Service Award (UNSPA) 2020.

Lantas, seperti apa kehebatan empat inovasi pelayanan publik asli Banyumas ini?

Pattas Sosial Mitra Kurir Langit adalah kependekan dari Penanganan Cepat, Tanggap dan Tuntas dalam Pandampingan Warga Miskin dan Orang Terlantar Penderita Sakit Kronis. Fokusnya adalah kesehatan dan kemanusiaan.

Inovasi ini muncul dari kegelisahan menyaksikan bagaimana orang-orang misikin kerap terlantar lantaran tak memiliki biaya untuk mengobati penyakit kronis.

Pemerintah Daerah (pemda) maupun pemerintah pusat memang telah memiliki beragam program jaminan kesehatan. Tetapi, seringkali ada warga miskin yang luput dari pantauan dan tak memiliki jaminan sosial.

“Lama karena birokrasi. Nah, Pattas Sosial Kurir Langit adalah pelayanan publik untuk orang-orang miskin yang dilakukan tanpa birokrasi,” ucap Sekretaris Daerah (Sekda) Kabupaten Banyumas, Wahyu Budi Saptono, Selasa, 19 November 2019.

Masalah orang miskin sakit begitu kompleks. Ambulans, Biaya rumah sakit, biaya makan penunggu, penginapan, hingga rumah singgah. Akhirnya, penanganan si sakit pun berlarut-larut. Butuh waktu panjang dan berjenjang agar si sakit miskin mendapat layanan kesehatan dengan layak.

Simak video pilihan berikut ini:

2 dari 4 halaman

Berbagi Kebaikan untuk si Miskin Sakit

Inovasi pelayanan publik in menggabungkan semua elemen untuk membentuk sebuah komunitas. Komunitas ini berisi lintas dinas dan lembaga. Di antaranya, dinas sosial, kesehatan, kepolisian, PMI, relawan, lembaga zakat, perusahaan swasta, BUMN, yayasan, panti sosial, Puskesmas, pengemudi ambulans, lembaga filantropi dan lain-lain.

“Idenya, kenapa sekarang pesan makanan saja bisa lewat online, cepat tidak berbelit-belit, kenapa kok orang sakit koka dilama-lamain. Kira-kira begitu lah. Jadi komunitas ini adalah satu cara untuk memotong birokrasi yang berbelit,” katanya.

Komunitas ini lantas berkembang. Ratusan orang dari berbagai lembaga bergabung. Tak terhitung berapa ratus orang miskin yang tertolong oleh inovasi ini. Hebatnya, Pattas Sosial tidak dibiayai pemerintah, alias swadaya.

“Di sini uniknya. Ini adalah kumpulan orang-orang atau sumber daya. Sehingga bukannya meminta biaya ke pemerintah, tapi justru membantu pemerintah,” dia menerangkan.

Bupati Banyumas lantas melegalkan komunitas ini dengan Surat Keputusan Bupati. SK bupati ini menjadi titik penting untuk memperluas keanggotaan dan jangkauan layanan.

Hampir serupa dengan Pattas Sosial Kurir Langit, Inovasi lain yang tak kalah menariknya adalah PSC-119 Satria, yang merupakan kependekan dari Publik Safety Center 119-Sistem Aplikasi Terpadu Rujukan, Informasi Kesehatan dan Ambulans Gawat Darurat Banyumas. Bedanya, PSC-119 Satria tak fokus ke warga miskin.

PSC-119 Satria lebih ke kondisi emergency atau darurat. Misalnya, terjadi kecelakaan lalu lintas yang butuh pertolongan cepat. Inovasi ini memungkinkan tiap layanan terhubung, mulai dari masyarakat, Puskesmas, Rumah Sakit, dan juga melibatkan lintas sektoral, seperti kepolisian dan pemadam kebakaran.

Untuk menjamin kebenaran sebuah informasi, lahirlah aplikasi PSC 119-Satria. Tiap pengguna mesti mendaftar dengan nomor induk kependudukan (NIK) yang diverifikasi oleh dinas terkait, dalam hal ini Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil.

Lantaran semua instalasi kesehatan terkoneksi, maka tak ada kata tak siap, baik ambulans maupun rumah sakit rujukan. Posisi pasien pun bisa dilacak dengan tracker, yang mengandalkan GPS.

Aplikasi ini secara otomatis mengarahkan rujukan ke rumah sakit terdekat berdasar kompetensinya. Sementara pasien dalam perjalanan, di rumah sakit tenaga medis bersiap untuk langsung menangani kondisi darurat.

3 dari 4 halaman

Desa Demit, Desa Canggih di Wilayah Terpencil

“Jadi sudah tidak lagi yang namanya keliling cari rumah sakit rujukan. Karena semua rumah sakit yang terkoneksi dipastikan sudah siap,” dia mengungkapkan.

Beda lagi dengan Saskia Gotak, Smart Aplikasi Kesehatan Ibu dan Anak Go Zero alias tak ada kematian ibu dan anak. Program terintegrasi melalui aplikasi Saskia Gotak adalah data terpadu ibu hamil dan proses persalinan.

Seluruh data itu selalu diperbarui, melalui kunjungan petugas Puskesmas, Dinas Kesehatan, hingga kader PKK dan Posyandu. Kesehatan ibu dan bayi pun terpantau dengan baik.

“Tahun 2018, kasus kematian ibu dan bayi berjumlah 26. Tahun 2019 ini menurun. Sampai sekarang 15 kasus,” Wahyu mengklaim.

Beda lagi dengan Desa Demit. Kepanjangannya adalah Desa Dermaji Melek Informasi dan Teknologi. Ini adalah inovasi pelayanan publik di desa terpencil.

Melalui inovasi ini, Desa Dermaji mampu menjelma dari sebuah desa yang berada di pinggir hutan terpencil, pegunungan, menjadi desa yang diperhitungkan. Salah satunya kecepatan pelayanan publiknya.

Kepala Desa Dermaji, Bayu Setyo Nugroho mengatakan Desa Dermaji memiliki website resmi yang dibangun sejak berbentuk blog pada 2008, hingga bertransformasi menjadi dermaji.desa.id, domain khusus desa-desa di Indonesia. Platform ini memungkinkan masyarakat luas memperoleh informasi yang lengkap, akurat dan cepat mengenai kondisi Desa Dermaji.

“Website juga menjadi media Pemerintah Desa Dermaji untuk transparansi anggaran APBDes, menampilkan potensi desa dan wisata desa,” kata Bayu.

Terkini, Pemdes memanfaatkan aplikasi Sistem Informasi Desa (SID) untuk mempercepat pelayanan publik di desanya, terutama dalam hal dokumen kependudukan. Dengan SID ini, layanan untuk pembuatan dokumen kependudukan bisa dipersingkat.

Petugas cukup mengklik Nomor Induk Kependudukan (NIK). Setelah itu, secara otomatis blanko dokumen kependudukan terisi oleh sistem.

4 dari 4 halaman

'One agency One Inovation' Ala Banyumas

SID adalah upaya untuk memberikan layanan yang baik dan cepat. SID akan mempermudah petugas, sekaligus masyarakat yang memerlukan dokumen kependudukan tersebut. Layanan tersebut, tak sampai lima menit.

Sementara ini, penggunaan SID masih terbatas pada layanan dokumen kependududukan. Akan tetapi, dia pun mengklaim kini tengah mengembangkan aplikasi kesehatan dan sumber daya alam bekerja sama dengan komunitas pengembang IT. Karenanya, kini dokumen kesehatan sementara waktu masih menggunakan database di Google Docs.

Kepala Bagian Organisasi Sekretariat Daerah (Setda) Kabupaten Banyumas, Titik Pujiastuti mengatakan, pemerintah kabupaten banyumas kini memiliki slogan One Agency One Inovation, satu instansi satu inovasi. Dan itu berdampak kepada munculnya lebih dari 80 inovasi sepanjang 2018.

Dia bilang, inovasi itu akan disaring oleh masing-masing instansi sebelum disetorkan kepada Pemkab. Oleh Pemkab, inovasi ini kembali diuji apakah benar-benar bermanfaat. Jika memang teruji, maka inovasi ini akan dibiayai melalui APBD Banyumas.

“Kita MoU dengan LAN, untuk melakukan pendampingan, termasuk juga desa,” kata Titik.

Dia bilang, tak semua inovasi menyedot biaya dari APBD. Pattas Sosial Kurir Langit, misalnya, adalah sebuah inovasi mandiri. Bahkan sifatnya tak lagi meminta, melainkan memberi. Pemerintah Daerah Banyumas sangat terbantu oleh inovasi ini.

Dia juga mengklaim, inovasi-inovasi yang lahir di Banyumas mendapat repson positif dari investor. Ini, karena Banyumas sangat proinvetasi dan punya Mall Pelayanan Publik. Proses perijinan dilakukan di satu gedung, dan bahkan, sudah melibatkan instansi vertikal di atasnya di provinsi.

“Karena mudah perizinannya, investor jadi lebih nyaman. Iklim usaha lebih baik,” ucap Titik.

Loading
Artikel Selanjutnya
Jembatan dan Kambing di Desa Canggih Banyumas Ini Dipasang QR Code