Sukses

Dr. Sardjito, Penyelamat Vaksin Cacar dalam Bandung Lautan Api

Liputan6.com, Yogyakarta Setelah menunggu sembilan tahun lamanya, perjuangan UGM mengusulkan Dr. Sardjito mendapat gelar Pahlawan Nasional pun tercapai. Rektor pertama UGM itu pun memperoleh gelar itu berdasarkan Keppres Nomor 120/TK/Tahun 2019 yang ditandatangani oleh Presiden Joko Widodo pada 7 November 2019.

“Sardjito adalah sosok ilmuwan pejuang sekaligus pejuang ilmuwan,” ujar Sutaryo, Guru Besar Kedokteran UGM sekaligus salah satu anggota tim pengusul, Jumat (8/11/2019).

Rektor pertama UGM, Prof. Dr. M. Sardjito, MPH, dianugerahi gelar Pahlawan Nasional, Jumat (8/11) di Jakarta. UGM telah memperjuangkan Sardjito sebagai Pahlawan Nasional sejak 9 tahun silam.“Tahun 2011 tim mulai dan Juli 2012 sudah ada surat pengusulan,”papar salah satu anggota tim pengusul, Prof. Dr. dr. Sutaryo, Sp.A (K).Menurut Sutaryo, Sardjito merupakan sosok ilmuwan pejuang sekaligus pejuang ilmuwan.

Tidak banyak orang yang mengetahui kedalaman sosok Dr. Sardjito. Orang awam lebih kerap mendengar namanya disebut untuk menunjuk nama sebuah rumah sakit di Yogyakarta.

Faktanya, Dr. Sardjito bukan sekadar dokter yang berkiprah di bidang kesehatan. Dia adalah pendidik, budayawan, sekaligus negarawan yang ikut berjuang pada masa pergerakan dan awal kemerdekaan RI.

Lelaki kelahiran Magetan Madiun, 13 Agustus 1889 itu merupakan salah satu murid STOVIA yang aktif dalam pergerakan Boedi Oetomo (BO). Ia menjadi lulusan STOVIA ke-263 pada 1915 dan memperoleh predikat lulusan terbaik.

Pada 1925, Dr. Sardjito juga menjadi ketua cabang Jakarta dan pengurus pusat BO. Ia selalu menamankan jiwa nasionalisme kepada murid-murid STOVIA untuk berbakti kepada bangsa negara melalui penyuluhan kesehatan kepada masyarakat.

Dr. Sardjito juga turut menunjukkan taji bangsa Indonesia di mata dunia. Ia memperkenalkan Indonesia sebagai negara merdeka ke dunia internasional melalui program restirasi pasca-Perang Dunia II yang bernama Colombo Plan.

 

2 dari 3 halaman

Penyelamat Vaksin Cacar dari Peristiwa Bandung Lautan Api

Dr. Sardjito juga menjadi orang pertama yang menjadi Direktur Institut Pasteur. Lembaga ini memproduksi vaksin dan obat-obatan untuk tentara dan masyarakat.

Ada satu cerita yang tidak terlupakan tentang Dr. Sardjito di tempat ini. Saat peristiwa Bandung Lautan Api terjadi, ia berusaha menyelamatkan vaksin cacar karena vaksin mernjadi aset penting dalam revolusi fisik.

Dr. Sardjito menorehkan vaksin cacar ke dalam tubuh kerbau. Hewan itu pun digiring dari Bandung sampai ke Klaten. Setibanya di tujuan, kerbau disembelih, limpanya diambil, dan vaksin cacar diperoleh kembali. Vaksin itu pun bisa menyelamatkan tentara dan masyarakat.

Dr. Sardjito juga dikenal sebagai budayawan ketika penelitiannya tentang Borobudur dipresentasikan pada Pacific Science Congress di Filipina 16-28 November 1953. Melalui presentasinya, ia berhasil membuka mata dunia melihat tingginya peradaban bangsa Indonesia.

 

 

3 dari 3 halaman

Pelopor KKN

Dr. Sardjito merupakan salah satu pendiri UGM. Dia hadir dalam peresmian UGM di Gedung Agung Yogyakarta pada 12 Agustus 1950.

Tidak hanya itu, Dr. Sardjito juga menggagas Tri Dharma Perguruan Tinggi. Salah satunya, menjadi pelopor Kuliah Kerja Nyata (KKN) yang menjadi bentuk pengabdian kepada masyarakat.

Dr. Sardjito juga pernah menjadi Rektor Universitas Islam Indonesia (UII). Ia berhasil mencapai Status Disamakan untuk Fakultas Hukum dan Ekonomi perguruan tinggi swasta tersebut.

Selain sebagai nama rumah sakit di Yogyakarta, perjuangan pahlawan nasional yang meninggal pada usia 80 tahun ini juga diabadikan melalui nama sebuah jalan.

Rektor UGM, Panut Mulyono, mengaku bangga dengan gelar Pahlawan Nasional yang disandang oleh almarhum Dr. Sardjito. Ia berharap semangat dan ketulusan Dr. Sardjito dapat diteladani dan diteruskan oleh semua orang.

Loading
Artikel Selanjutnya
Top 3: Kejadian-Kejadian Absurd di Atas Bus yang Bikin Bingung
Artikel Selanjutnya
Alasan Dr. Sardjito Dianugerahi Gelar Pahlawan Nasional