Sukses

Miris, Homoseksual Mengerek Angka Penderita HIV/AIDS di Serambi Makkah

Liputan6.com, Aceh - Penderita Human immunodeficiency virus/Acquired Immune Deficiency Syndrome atau HIV/AIDS di Provinsi Aceh mengalami peningkatan. Sejak 2004 hingga 2018, jumlah penderita mencapai 780 orang.

Pihak terkait menyatakan, sekitar 200 orang penderita telah meninggal dunia akibat penyakit tersebut. Sisanya menjalani pengobatan dan mendapat konseling.

Rincian jumlah penderita HIV/AIDS di Aceh dari tahun ke tahun, yakni, 2004; 1 AIDS, 2005; 3 AIDS, 2006; 2 HIV, 5. AIDS, 2007; 1 HIV, 8 AIDS, 2008; 8 AIDS, dan 2009; 2 HIV, 17 AIDS.

Selanjutnya, 2010; 7 HIV, 18 AIDS, 2011; 27 HIV, 33 AIDS, 2012; 7 HIV, 26 AIDS, 2013; 27 HIV, 47 AIDS, 2014; 29 HIV, 56 AIDS, 2015; 27 HIV, 53 AIDS, 2016; 36 HIV, 65 AIDS, 2017; 53 HIV, 78 AIDS, dan 2018; 66 HIV, 78 AIDS.

"Tertinggi, swasta 36 persen, ibu rumah tangga 21 persen. Jadi, seperempatnya ibu rumah tangga yang tidak tahu apa-apa, mereka kena dari pasangannya sendiri. Kemudian karyawan dan wanita penjaja seks (WPS) sebesar 7-8 persen," sebut Kasi Penyakit Menular Dinas Kesehatan Aceh, dr. Iman Murahman, kepada Liputan6.com, akhir pekan lalu.

Ada 10 kabupaten atau kota terdapat penderita HIV/AIDS terbanyak. Penderita paling banyak tersebar di kawasan pantai utara timur Aceh.

Mereka yang melakukan hubungan seksual antara lelaki sesama lelaki atau LSL ikut menyumbang angka penderita HIV/AIDS di Aceh. Pelaku LSL di negeri berjuluk Serambi Makkah ini mulai memprihatinkan.

"Biasanya mereka memakai jasa WPS. Sekarang banyak juga penderita HIV/AIDS karena LSL. LSL angkanya semakin tinggi di Aceh. Aceh Utara dan wilayah tengah itu semakin banyak," ungkap Iman.

 

2 dari 2 halaman

Fasilitas Pengobatan Penderita HIV/AIDS di Aceh

Fasilitas pengobatan untuk penderita HIV/AIDS di Aceh hanya tersedia di Banda Aceh, Aceh Utara, dan Langsa. Pihak terkait berencana membangun fasilitas serupa untuk mengobati penderita di wilayah barat selatan Aceh yang berpusat di Meulaboh.

Penderita HIV/AIDS dari wilayah barat selatan Aceh saat ini masih berobat ke Banda Aceh. Para pendamping sedikit banyak telah membantu keperluan mereka seperti mengambil obat, sehingga mereka tidak perlu lagi datang jauh-jauh ke pusat provinsi.

"Kalau di Banda Aceh, berobatnya ke Rumah Sakit Zainal Abidin dan sudah mulai di Meuraxa. Di Zainal Abidin sudah ada klinik voluntary counseling testing (VCT) atau sekarang Care Support and Treatment (CST). Di klinik, diperiksa kadar, di terapis gejala klinis, dan virusnya di dalam darah oleh para ahli yang sudah tersedia," kata Iman.

Hal paling penting selama proses mengobati memberi penyadaran kepada penderita. Banyak yang beranggapan HIV/AIDS adalah aib, sehingga penderita takut orang lain mengetahui kalau mereka menderita HIV/AIDS.

"Hal ini, menyebabkan penderita susah untuk mau berobat dan hanya percaya sama satu dua orang," jelasnya.

Semua pihak harus meretas stigma negatif tersebut. Penderita HIV/AIDS tidak selamanya merupakan pelaku utama, karena, banyak penderita terimbas orang terdekatnya.

"Seperti di Nagan Raya. Satu keluarga kena, 3 orang. Suami, anak, dan istri. 3 lagi, terpisah-pisah. Rata-rata AIDS. Dulu 8 orang, 2 orang sudah meninggal, sisanya 6," ungkapnya.

Keluarga, pemangku agama, bahkan semua pihak, harus berperan aktif dalam menekan angka penderita HIV/AIDS di negeri yang kesohor dengan syariat ini.

Pergaulan remaja yang cenderung bebas serta budaya luar yang semakin mengekspansi, menurut dr. Iman menjadi salah satu faktor, dan menariknya, homoseksual yang notabene budaya kaum Nabi Luth, juga berlaku di Aceh.

 

Simak video pilihan berikut ini:

Loading
Artikel Selanjutnya
Keren, Karyawan-Karyawan di Kafe Ini Eks Pecandu Narkoba
Artikel Selanjutnya
Andy Prawira Tinggalkan Bisnis Demi Pecandu dan ODHA