Sukses

Mahasiswa Palembang Tewas Usai Ikut Diksar Mapala di Gunung Dempo

Liputan6.com, Palembang - Pendidikan Dasar (Diksar) Mahasiswa Pecinta Alam (Mapala) kembali menelan korban. Kali ini AF (20), mahasiswa di Palembang meninggal dunia usai mengikuti diksar pecinta alam di Gunung Dempo, Kota Pagaralam, Sumatera Selatan (Sumsel).

Dari informasi yang diperoleh, diksar yang diikuti 11 orang peserta dan 19 orang panitia digelar oleh salah satu mapala di Perguruan Tinggi Swasta (PTS) di Palembang. Diksar kedua yang digelar di Gunung Dempo, dimulai dari tanggal 25 Januari 2019.

AF bersama 10 orang peserta lainnya yang sudah selesai mengikuti diksar lanjutan di Gunung Dempo, pada hari Senin, 4 Februari 2019 dijadwalkan turun ke Kampung 4 Gunung Dempo Pagaralam. Namun, saat berada di pelataran Gunung Dempo pada Senin siang, AF langsung kehilangan kesadaran.

Dian, salah satu warga Kampung 4 Gunung Dempo mengatakan, mereka mendapat informasi tersebut dari salah seorang pendaki asal Jambi, yang mengabarkan ada pendaki yang tidak sadarkan diri di pelataran Gunung Dempo.

"Informasi itu disampaikan hari Senin siang pukul 13.30 WIB, lalu diteruskan ke warga Kampung 4 dan basecamp panitia. Habis isya para warga, Forum Pecinta Alam Pagaralam (Forpa), Relawan Kampung 4 (Raka 4) dan panitia langsung naik gunung untuk membantu evakuasi," katanya kepada Liputan6.com, Selasa, 5 Februari 2019.

Sekitar pukul 02.30 WIB, tubuh warga Desa Sukadana, Kecamatan Mesuji, Kabupaten Ogan Komering Ilir (OKI) Sumsel tersebut, sudah dibawa turun ke Kampung 4 Gunung Dempo Pagaralam. Panitia langsung membawa mahasiswa itu ke Rumah Sakit Umum (RSU) Basemah Pagaralam.

Cuaca di Gunung Dempo saat itu, diakuinya memang sedang ekstrem, karena hujan turun terus, suhu udara yang sangat dingin dari biasanya dan kabut yang sangat tebal.

Dian pun sempat bertemu rombongan korban yang baru naik gunung, saat dirinya akan turun dari Gunung Dempo. Namun, kondisi para peserta dan panitia diksar mapala saat itu masih bugar dan terus beraktivitas.

"Saat dievakuasi di Kampung 4, kemungkinan korban sudah meninggal dunia. Saya tidak tahu juga penyebabnya, apakah hipotermia atau lainnya," katanya.

 

2 dari 2 halaman

Dugaan Penyebab Kematian

Kapolres Pagaralam Ajun Komisaris Besar Tri Saksono Puspo Aji mengatakan, saat dibawa ke rumah sakit, AF masih hidup. Korban juga sudah mendapatkan pertolongan medis, tetapi kesadarannya semakin menurun dan akhirnya AF mengembuskan nafas terakhir.

Panitia juga sudah mengantongi izin untuk menyelenggarakan diksar selama 10 hari sejak tanggal 25 Januari hingga 5 Febuari 2019.

"Saat di puncak gunung, AF memang tidak sadarkan diri. Lalu dilakukan proses evakuasi, namun meninggal di rumah sakit," katanya.

Setelah dilakukan visum, diketahui penyebab kematian adalah penurunan kesadaran, yang disebabkan oleh penurunan suhu tubuh secara drastis atau hipotermia. Pada tubuh korban juga tidak ada tanda-tanda luka akibat penganiayaan.

Firli, Anggota Luar Biasa (ALB) Mapala Brimpals mengatakan, saat diksar dilakukan, cuaca memang sedang ekstrem di Gunung Dempo Pagaralam. Kemungkinan karena faktor cuaca ini, membuat kondisi tubuh FR menurun.

"Faktor kondisi alam dan cuaca ekstrem, kita juga belum tahu kronologi pasti. Karena ponsel panitia yang ikut mendaki juga masih belum aktif, karena habis dari diksar," ujarnya.

Menurunnya kondisi FR hingga mengalami kehilangan kesadaran, baru diketahui panitia pada Senin malam. Panitia yang ikut mendaki gunung langsung menghubungi warga setempat untuk membantu mengevakuasi korban.

Sembari menunggu bantuan, panitia sudah melakukan pertolongan pertama dan menggotong tubuh korban ke Kampung 4 Gunung Dempo, untuk mendapatkan penanganan lebih lanjut.

"Setelah sampai di Kampung 4, korban langsung dibawa panitia ke Rumah Sakit Umum (RSU) Basemah Pagaralam. Saat di rumah sakit pada Selasa pagi, masih ada detak jantungnya. Tapi sehabis itu FR langsung meninggal dunia," ujarnya.

Atas keinginan keluarga, korban dibawa dulu ke rumah saudaranya di Kabupaten Ogan Ilir Sumsel. Dari sana, jenazah FR akan dibawa ke kampung halamannya di Desa Mesuji, Kabupaten OKI Sumsel.

Usai mendapat informasi meninggalnya salah satu peserta diksar, pimpinan Universitas Muhammadiyah Palembang (UMP), ALB, dan anggota aktif Mapala Brimpals langsung menuju ke Kabupaten OI dan rumah duka.

FR sendiri merupakan mahasiswa Fakultas Hukum yang baru menjalani perkuliahan selama 2 semester.

"Kondisi semua peserta sehat sebelum berangkat. Bahkan, saat mengikuti diksar awal, tidak ada keluhan sakit apa pun dari mereka. Hanya ada 1 orang peserta perempuan yang mengidap sakit asma, tapi saat pelatihan tidak ada keluhan," ungkapnya.

Sebelum lolos mengikuti diksar tahap awal, seluruh peserta sudah lulus tes administrasi. Salah satunya riwayat penyakit yang diidap. Korban sendiri tidak mempunyai riwayat penyakit parah, seperti ditulis dalam syarat diksar Mapala Brimpals.

 

Simak video pilihan berikut ini:

Sadis, Sopir Taksi Online Tewas Dikampak

Tutup Video