Sukses

Ketika Semburan Api Ungkap Proyek Mangkrak di Banjarnegara

Liputan6.com, Banjarnegara - Kebun dan air adalah dua hal yang tak bisa dipisahkan. Air memastikan tanaman yang berada hidup dan menghidupi petani.

Tetapi, lain di Banjarnegara, Jawa Tengah. Di tanah bengkok atau tanah milik Desa Bantar Kecamatan Wanayasa, instalasi yang mirip jaringan pipa air itu tak mengeluarkan air.

Sekilas lalu, jaringan pipanya benar-benar serupa instalasi pompa air atau jaringan PDAM. Pipa itu tersambung ke dalam sumur bor.

Alih-alih mengeluarkan air, sumur bor berpengaman pipa logam ini justru mengeluarkan gas alam. Saat dipantik, gas itu menyemburkan api yang berkobar tiada henti.

Apa pasal? Pipa ini tersambung ke sumur bor gas alam lawas yang kini kondisinya telah mangkrak. Kondisi sumur dan instalasi gas alam ini nyaris tak terurus.

Kepala Desa Bantar, Eko Purwanto mengatakan sejak puluhan tahun lalu, ratusan meter di bawah naungan pepohonan ini, diketahui memang terkandung gas alam yang melimpah.

Di dasar lahan yang ditanami pepohonan produktif oleh petani itu, diyakini tersimpan kandungan gas yang melimpah.

Ia pun mengingat, saat masih remaja, sekitar 30 tahunan lalu, ia sudah melihat fenomena tersebut. Gas alam itu lantas disalurkan dengan instalasi pipa ke rumah-rumah penduduk.

Warga sekitar memanfaatkannya untuk memasak. Saat itu, warga tak lagi repot mencari kayu bakar dengan tersedianya sumber gas alam gratis ini.

Namun, entah kenapa, pemanfaatan gas alam untuk mencukupi kebutuhan bahan bakar dapur warga tiba-tiba berhenti. Mungkin, lantaran sumur dan instalasinya tak dirawat maksimal sehingga tak lagi bisa berfungsi.

2 dari 2 halaman

Rencana Pengelolaan Gas Alam Lewat BUMDES

Sumur gas alam di Bantar, Banjarnegara itu pun akhirnya mangkrak hingga sekarang. Hanya sesekali, gas itu dimanfaatkan oleh pemilik kandang ayam sekitar lahan.

"Dulu sempat dimanfaatkan, tapi terus tidak dimanfaatkan oleh masyarakat hingga sekarang," katanya.

Dengan berhentinya pemanfaatan gas alam ini, boleh dibilang, masyarakat mengalami kemunduran. Waktu mereka kembali banyak tersita untuk mencari kayu bakar.

Padahal, kayu bakar di hutan semakin susut. Hutan nan asri kini berubah menjadi lahan pertanian musiman, seperti sayuran atau komoditas paling populer di Banjarnegara, salak.

Aman pun berganti. Keluarga muda enggan memanfaatkan kayu bakar. Mereka menuntut yang lebih praktis, gas elpiji.

Masyarakat pun berbondong-bondong beralih ke tungku modern yang menjanjikan kemudahan. Pawon atau tungku tradisional pun tergeser oleh teknologi serba instan.

Sayangnya, kerap kali masyarakat kesulitan memperoleh gas elpiji. Harganya pun semakin membubung tinggi.

Menimbang hal ini, kini warga Bantar kembali melirik potensi gas alam yang sudah terbengkalai puluhan tahun. Alasannya, tentu agar biaya untuk kebutuhan gas keluarga bisa dihemat.

"Akan dimanfaatkan lagi untuk menjadi sumber gas keluarga," dia menerangkan.

Harapan pun bersambut. Pemerintah Desa Bantar bersedia memfasiltasi pembangunan sekaligus pengelolaan gas alam ini.

Rencananya, Pemdes Bantar akan membangun dan mengelola sumur gas ini melaui Badan Usaha Milik Desa (BUMDes). Dengan Begitu, pengelolaannya lebih baik dan mengurangi potensi kembali mangkraknya sumber gas alam ini.

"Kami berharap pemerintah dapat membantu pengembangan gas alam itu, mulai dari penelitian kandungan gas hingga pembangunan instalasi pendukung," ucapnya.

Sebagai uji coba pemanfaatan gas, pemdes berencana menyalurkan gas alam ini ke balaidesa. Pemanfaatan secara terbatas ini sebenarnya memang sering dilakukan oleh peternak di sekitar lokasi sumur.

Mereka memanfaatkan energi alam ini menjadi sumber bahan bakar pemanas untuk day old chiken (DOC) hingga berumur 10-an hari. Pada umur-umur ini, anak ayam memang membutuhkan kehangatan, layaknya mereka berlindung di balik hangatnya bulu-bulu induknya.

Saksikan video pilihan berikut ini:

DEBAT CAPRES: Energi, Pangan, Infrastruktur, Sumber Daya Alam, dan Lingkungan Hidup Sesi 4

Tutup Video