Sukses

Teror Tawon di Sukoharjo Bikin Warga Ketakutan

Sukoharjo - Petugas Pemadam Kebakaran (Damkar) harus berkerja ekstra mengevakuasi 143 sarang tawon raksasa yang menjadi teror bagi warga di Kota Makmur, Sukoharjo.

Kepala Bidang (Kabid) Damkar Satpol PP Sukoharjo Margono mengatakan, permintaan pemusnahan sarang tawon hampir merata dan bertambah banyak. Warga tidak berani memusnahkannya sendiri karena khawatir disengat.

"Wajar kalau takut karena sengatan tawon ini juga berbahaya," ungkap Margono seperti dikutip Jawapos.com.

Biasanya, sarang tawon tersebut ditemukan pada pohon, atap rumah, dan lokasi yang cukup tersembunyi lainnya. Ketika bertugas, anggota damkar mengenakan pakaian khusus dan tertutup. Untuk memusnahkan sarang tawon, ada yang disemprot menggunakan air maupun cairan khusus lainnya. Setelah tawon mati, sarang dimasukkan kantong plastik untuk dibuang.

"Ada rekan kita pas mau evakuasi sarang tawon di Nguter kena sengat dan harus dirawat di Rumah Sakit (RS) PKU Selogiri. Ini sudah menjadi risiko pekerjaan. Karena itu, paling penting safety first sesuai prosedur," kata Margono.

Sekadar informasi, pada awal 2018, serangan tawon di Dusun Puluhan, Desa Lawu, Kecamatan Nguter menyebabkan Mitro Yuwono, warga setempat meninggal dunia. 

Baca juga berita menarik Jawapos.com lainnya di sini.

Sementara itu, Kapolsek Nguter AKP Didik Noertjahjo mengatakan, kejadian tersebut bermula pada Kamis (22/3) sore pukul 16.00, Mitro sedang mencari daun pisang di lokasi kejadian. Ketika sedang mengumpulkan daun tersebut, dia tidak sadar bila di lokasi itu ada sarang tawon. 

Sarang tawon tersebut berada di pohon belimbing setinggi 2 meter. Tiba-tiba saat dalam proses mengumpulkan daun pisang tersebut, ribuan tawon itu menyerangnya. Mitro sebenarnya sudah berusaha lari menghindar. Namun, karena jumlahnya mencapai ribuan, dia tetap tak berdaya. 

"Korban sempat minta tolong pada warga lainnya agar melepas bajunya untuk mengusir tawon-tawon itu," kata Kapolsek mewakili Kapolres Sukoharjo AKBP Iwan Saktiadi

Korban kemudian pulang ke rumah dengan keadaan sakit. Dia mengalami luka memar memerah pada bagian muka, leher, tangan, dan punggung. Dia mengaku badannya panas dan gemetar. Keluarganya lantas membawa Mitro ke bidan desa Yuli Rahayu. 

Setelah diperiksa dan diberi obat, Mitro kemudian dibawa pulang. Nahas, ternyata kondisinya tidak membaik, tapi malah semakin memburuk. Dia kemudian dinyatakan meninggal pada pukul 19.30 WIB. Kemarin pagi, jenazahnya dimakamkan di desa setempat.

"Saat ini sarang tawon itu sudah dimusnahkan oleh pemadam kebakaran Sukoharjo," ungkap Iwan Saktiadi menambahkan.

 

* Update Terkini Asian Para Games 2018 Mulai dari Jadwal Pertandingan, Perolehan Medali hingga Informasi Terbaru di Sini.

 

Simak juga video pilihan berikut ini:

Loading
Artikel Selanjutnya
Langkat Kebanjiran, Sukoharjo dan Sragen Malah Krisis Air
Artikel Selanjutnya
Kisah Ayam Hitam dan Sejarah Desa Cemani Sukoharjo