Sukses

BI Optimis Pertemuan IMF-World Bank Bakal Genjot Perekonomian Bali Tahun Ini

Liputan6.com, Denpasar - Pertemuan IMF-World Bank pada Oktober depan rupanya membawa dampak signifikan terhadap pertumbuhan ekonomi di Pulau Bali. Kepala Perwakilan Bank Indonesia (BI) Provinsi Bali, Causa Iman Karana memprediksi perekonomian Bali akan tumbuh pada tahun ini di kisaran angka antara 5,9 persen hingga 6,3 persen.

Ada dua faktor utama yang membuat pertumbuhan ekonomi Bali melonjak tajam. Pertama, telah pulihnya kondisi pariwisata Bali pascakrisis Gunung Agung. Saat ini, kondisi pariwisata Bali dalam tahan recovery usai dihantam bencana erupsi Gunung Agung.

"Hingga Agustus 2018 ada 4,1 juta turis yang masuk melalui Bandara I Gusti Ngurah Rai. Belum lagi yang masuk melalui pintu lainnya. Itu salah satu pendorong pertumbuhan perekonomian Bali," kata Iman saat dialog di Kantor Ombdusman Provinsi Bali, Jumat, 21 September 2018.

Faktor kedua yang mendorong pertumbuhan ekonomi Bali adalah pertemuan Annual Meeting IMF-World Bank yang akan diselenggarakan pada bulan depan. Event tahunan itu, Iman melanjutkan, akan mendorong perekonomian Bali dari tiga sisi yakni, konsumsi, investasi, dan ekspor-impor.

Dari aspek konsumsi, Iman meyakini para delegasi yang hadir akan berbelanja cukup besar di Bali. Sementara dari sisi investasi, ada banyak penanaman modal di bidang infrastruktur sebagai bagian dari penyelenggaraan pertemuan bergengsi tersebut. Investasi itu di antaranya Underpass Ngurah Rai, perluasan Bandara I Gusti Ngurah Rai, perbaikan TPA Suwung dan beberapa proyek lainnya.

Sementara dari sisi ekspor-impor, menurut Iman, turis asing akan semakin banyak datang ke Bali. "Itu juga kan bagian daripada ekspor jasa yang ada di Bali. Semua akan bergerak. Faktor-faktor itu yang kita yakini akan mendorong perekonomian Bali tumbuh menjadi 5,9-6,3 persen pada tahun ini. Kami meyakini pertumbuhan ekonomi Bali di atas 6 persen dan lebih baik dari tahun lalu," urainya.

Simak video pilihan berikut ini:

Artikel Selanjutnya
BI Prediksi Kembali Terjadi Deflasi pada September 2018
Artikel Selanjutnya
BI Apresiasi Pengusaha Surabaya yang Ramai-Ramai Tukar Dolar AS