Sukses

Awas, Ubur-Ubur Api Muncul di Pantai Cilacap

Liputan6.com, Cilacap - Gelombang tinggi di perairan selatan Jawa berangsur normal. Nelayan pun mulai melaut. Berkah pun datang, musim panen ubur-ubur telah tiba.

Datangnya musim ubur-ubur pada musim angin timuran ini menjadi pelipur sengsara nelayan kecil yang berpekan-pekan atau bahkan berbulan-bulan melaut tanpa kepastian. Kebanyakan bahkan memilih libur total.

Para nelayan pemberani, barangkali lebih tepat disebut nekat, melaut walau kemungkinan gelombang tinggi bisa menerpa kapan saja. Selama berbulan-bulan, ombak selatan seolah tak bersahabat.

Ketua Himpunan Nelayan Seluruh Indonesia (HNSI) Kabupaten Cilacap, Sarjono mengatakan musim ubur-ubur biasanya memang muncul pada musim angin timuran sekitar Juli-Agustus 2018. Namun, tangkapan ubur-ubur nelayan belum terlampau banyak.

Tiap perahu hanya memperoleh sekitar dua hingga tiga kwintal ubur-ubur. Pada puncaknya, nelayan yang khusus mencari ubur-ubur bisa memperoleh lebih dari satu ton. Dalam sehari nelayan bisa dua atau tiga kali melaut sehingga hasilnya antara 2-3 ton.

"Nah, ini beberapa hari ada ubur-ubur yang mulai keluar setelah ada gelombang tinggi, kemarin. Setelah mereda beberapa hari, kemudian nelayan sudah mulai melaut, dapat ubur-ubur," ucap Sarjono kepada Liputan6.com, Rabu, 1 Agustus 2018.

Namun, harga ubur-ubur  saat ini masih rendah, yakni Rp 700 per kilogram sebab belum banyak pengepul yang menerima ubur-ubur. Harga normal kisaran Rp 1.000 per kilogram, dengan harga tertinggi mencapai Rp 1.200 per kilogram.

"Ini belum mencapai puncaknya. Ini pengelolanya saja masih belum banyak yang buka. Nanti seiring banyaknya pengusaha yang buka, harga mungkin akan merayap naik," dia menjelaskan.

1 dari 2 halaman

Bahaya Leteh, Rawe atau Ubur-Ubur Api

Bersamaan dengan menurunnya intensitas gelombang tinggi di perairan selatan Jawa, pantai-pantai wisata di Cilacap pun kembali beraktifitas normal. Wisatawan mulai berkunjung ke pantai.

Sarjono memperingatkan, ubur-ubur banyak ditemui di kawasan pantai. Sebab itu, wisatawan diminta untuk berhati-hati. Sebab, ubur-ubur bisa menyebabkan gatal-gatal pedas.

Bahkan, ada sejenis ubur-ubur yang oleh warga lokal disebut Leteh atau Rawe, yang sengatannya bisa bikin melepuh. Tak jarang, tentakelnya yang beracun bikin korban pingsan.

"Itu sangat berbahaya. Cirinya lebih kecil. Tudungnya berwarna biru," ucap Sarjono.

Sarjono menerangkan, Leteh ini banyak ditemukan bersamaan dengan munculnya ubur-ubur biasa. Termasuk di pinggiran pantai, lantaran terdampar terbawa ombak.

Praktisi makanan laut, Steve Saputra mengatakan, ubur-ubur tudung biru dikenal sebagai ubur-ubur api. Hewan ini, menurut dia, memang berbahaya.

Ubur-ubur api ini tak lazim dikonsumsi lantaran berbahaya. Hanya menyentuhnya saja, bisa menyebabkan iritasi lantaran semburan Venom atau racunnya.

"Menyebabkan iritasi, bahkan melepuh," ucap Steve.

Saksikan video pilihan berikut ini:

Artikel Selanjutnya
Berkah di Laut Selatan, Tak Ada Ikan Ubur-Ubur Pun Jadi
Artikel Selanjutnya
Batu Besi, Penangkal Sengatan Ubur-Ubur ala Gorontalo