Sukses

Aktivitas Vulkanik Merapi Masih Tinggi, Ini Tandanya

Liputan6.com,Yogyakarta - Sekalipun letusan freatik sudah tidak terjadi seminggu terakhir, namun aktivitas vulkanik Merapi masih tinggi. Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kebencanaan Geologi (BPPTKG) DIY mencatat sejumlah indikator peningkatan aktivitas Merapi.

Indikator yang dimaksud meliputi gempa Volcano Tektonik (VT) yaitu rekaman gempa yang mencerminkan proses retakan batuan pada sumber dalam. Selain itu, MP (Multiphase) adalah gempa yang mencerminkan proses pergerakan fluida diantara rekahan batuan pada sumber yang dangkal (permukaan).

Tektonik adalah rekaman gempa yang mencerminkan rekahan batuan yang tidak disebabkan oleh proses vulkanis, hembusan adalah rekaman gempa yang mencerminkan proses pelepasan gas, dan guguran adalah rekaman gempa yang mencerminkan guguran batuan.

Pasca-letusan freatik terakhir pada 24 Mei 2018 pukul 10.48 WIB, aktivitas kegempaan yang terjadi sebagai berikut, gempa Volcano Tektonik (VT) kurang dari satu kali per hari, hembusan tiga kaliper hari, Multiphase dua kali per hari, guguran tujuh kali per hari, dan tektonik satu kali per hari.

"Aktivitas vulkanik masih cukup tinggi didominasi oleh pelepasan gas yang ditunjukkan oleh Mp dan guguran yang cukup tinggi, sehingga status masih waspada," ujar Agus Budi Santoso, Kasi Gunung Merapi BPPTKG DIY dalam jumpa pers di kantornya, Kamis (31/5/2018).

Ia menyebutkan salah satu indikasi peningkatan aktivitas yang signifikan adalah adanya hembusan, terutama pasca letusan minor 24 Mei lalu. Biasanya, hembusan nyaris tidak ada.

Kesimpulan itu diambil sebab belum ada referensi aktivitas kegempaan setelah letusan freatik. Pada 2006 dan 2010, erupsi yang terjadi langsung magmatik.

Data pemantauan selama ini aktivitas vulkanik tidak bisa ditangkap oleh masyarakat umum, karena harus menggunakan alat. Gempa guguran dan hembusan yang terjadi mengindikasikan pelepasan gas yang cukup tinggi.

Gempa VT yang terjadi pada Merapi Kali ini dalam kondisi sumbat lava yang lega sehingga gempa tektonik yang terjadi pun cukup signifikan.

"Tapi aktivitas tinggi bukan berarti erupsi magmatik," ucapnya.

Saksikan video pilihan berikut ini:

 

 

2 dari 2 halaman

Suplai Gas dari Bawah

Agus memaparkan pelepasan gas cukup tinggi bermakna ada suplai gas dari bawah. Gas ini diproduksi oleh magma di kedalaman yang berarti magma beraktivitas di dalam gunung.

Sumbat dari puncak yang terbuka juga membuat gas mudah keluar. Berbeda dengan kejadian 2006 dan 2010, puncak tersumbat sehingga menimbulkan akumulasi tekanan tinggi dan gempa di permukaan.

"Kalau sekarang gas lepas lewat letusan freatik," kata Agus.

Ia juga tidak memungkiri gas aktif diproduksi karena ada aktivitas di dalam gunung. Ia memperkirakan ada kemungkinan magma sedang berjalan menuju ke atas.

"Untuk posisi persisnya di mana, kami sedang mencari gejala-gejalanya," tuturnya.

Ia berharap ada pergerakan deformasi dan seismic sehingga bisa diketahui keberadaan magma. Berdasarkan seismograf, dapur magma berada di kedalaman empat kilometer dari puncak gunung.

Banjir Kiriman Rendam Satu Kecamatan di Yogyakarta
Loading
Artikel Selanjutnya
Gembira Loka Zoo Berbenah Sambut Libur Lebaran
Artikel Selanjutnya
Gunung Merapi Mulai Kalem, Ini Penyebabnya