Sukses

Jangan Takut Konsumsi Air Hujan, Begini Alasannya

Liputan6.com, Yogyakarta - Bukan hanya padi yang dapat dituai, air hujan pun bisa dipanen. Memanen hujan, demikian istilah yang digunakan oleh Yu Ning, perempuan setengah baya di Dusun Tempursari, Desa Sardonoharjo, Kecamatan Ngaglik, Sleman untuk menggambarkan aktivitasnya sejak 2012.

Seperti namanya, memanen hujan berarti mengumpulkan air hujan. Untuk apa? Jangan jawab untuk mandi, sebab Sri Wahyuningsih, nama asli Yu Ning, pasti akan menolak jawaban itu mentah-mentah.

Air hujan dipanen untuk kebutuhan konsumsi. Air hujan digunakan untuk minum, memasak, menyeduh kopi, teh, dan apa pun yang biasa dilakukan dengan air sumur atau air PAM.

Lewat komunitas bernama Banyu Bening, Yu Ning mengedukasi banyak orang tentang air hujan. Termasuk mematahkan stigma air hujan kotor dan sumber penyakit.

"Awalnya saya penasaran saja dengan air hujan, stigma orang selama ini tentang air hujan itu buruk," ujar Yu Ning yang ditemui di kediamannya, beberapa waktu lalu.

Ia mulai mencoba untuk mempelajari secara detail tentang seluk-beluk air hujan. Hasilnya, air hujan sangat layak dikonsumsi selama cara menampungnya sesuai aturan.

Ada dua cara yang bisa dilakukan untuk menampung air hujan. Yu Ning menggunakan gama rain filter berupa tabung berukuran 1.000 liter. Di dalamnya terdapat penyangga berlapis, jadi ketika air hujan mengalir dari talang air atau atap rumah bisa langsung digunakan untuk memenuhi kebutuhan konsumsi.

Untuk membangun instalasi penyaringan permanen air hujan ini memang membutuhkan biaya yang lumayan, sekitar Rp 6 juta. Namun, ini bukan cara mutlak.

Kalau tidak ada biaya, Yu Ning menyarankan menampung hujan dengan cara manual asal memperhatikan aturannya. Bisa menampung air hujan dengan ember atau panci atau apa pun yang bisa memuat air.

"Akan tetapi hujan yang turun tidak bisa langsung ditampung, harus menunggu sekitar 15 sampai 20 menit setelah hujan turun baru air hujan ditampung," ucap Yu Ning.

Tujuannya, supaya polutan yang terbawa air hujan mengendap lebih dulu, sehingga air yang ditampung sudah bebas dari polusi.

Setelah itu, air hujan bisa digunakan untuk memenuhi kebutuhan konsumsi. Jangan lupa direbus, sebelum dikonsumsi.

Saksikan video pilihan di bawah ini:

2 dari 3 halaman

Bukti Air Hujan Lebih Baik

Ibu dari dua anak ini bukan sembarang omong dan mengklaim air hujan lebih baik. Ia menunjukkan secara langsung percobaan yang membuktikan hal itu.

Air minum yang berkualitas memiliki sejumlah syarat, antara lain Ph minimal 7 dan kandungan mineral tidak lebih dari 50 TDS.

Ia mengeluarkan alat ukur kandungan mineral berupa TDS meter. Yu Ning menyiapkan tiga gelas kecil, yang masing-masing berisi, air sumur, air mineral kemasan, dan air hujan.

Alat itu dicelupkan ke dalamnya. Hasilnya mengejutkan. Kandungan mineral air sumur 78 TDS, air mineral 124 TDS, dan air hujan hanya 4 TDS.

Ia tidak menampik kualitas air hujan di setiap daerah memang berbeda-beda tergantung dari banyaknya tanaman dan tingkat polusi. Meskipun demikian, air hujan tetap yang terbaik jika dibandingkan dengan jenis air lainnya dalam kondisi yang sama.

Dianggap Gila

Yu Ning berupaya keras meyakinkan masyarakat dan pemerintah tentang manfaat air hujan. Sewaktu pertama kali memulai menampung air hujan, ia kerap dianggap gila oleh orang sekitar.

"Empat tahun pertama kerap dianggap gila, air melimpah di Sleman, kok malah pakai air hujan," tuturnya.

Namun, hal itu tidak menyurutkan niatnya untuk mengampanyekan air hujan sebagai air konsumsi.

Salah satu bentuk kampanyenya adalah mengadakan perhelatan rutin tahunan sejak 2016 bernama Kenduri Banyu Udan. Acara ini menggabungkan pesan soal hujan dengan budaya dan kesenian masyarakat.

Kini Yu Ning justru kerap dipanggil untuk menjadi pembicara tentang manfaat dan melestarikan air hujan sebagai sumber air masa depan.

3 dari 3 halaman

Solusi Air Bersih

Ia bercerita ada kajian yang mengatakan persediaan air bersih di Indonesia diperkirakan cukup sampai 2030.

"Generasi di Indonesia kan tidak mungkin berhenti di 2030, jadi air hujan ini bisa jadi solusi," ucap Yu Ning.

Air hujan bisa menjadi solusi bagi pemerintah untuk mengatasi kekeringan. Selama ini kekeringan selalu diatasi dengan cara instan, kirim tangki berisi air bersih. Padahal ada air hujan yang gratis dan tidak ditarik pajak. Kuncinya, terletak di penampungan saja.

Baginya, air bukan sekadar soal kuantitas, melainkan juga kualitas. Dasar itu yang membuatnya mendorong masyarakat untuk deposit air bersih lewat hujan. Selama bumi berputar, matahari bersinar, air hujan tidak akan habis.

Ia juga menegaskan semakin deras hujan, semakin baik kualitas airnya. Jadi, jangan pernah mengutuki hujan deras lagi.

Air Hujan untuk Warga Sekitar

Yu Ning membuka untuk umum garasi rumahnya. Di tempat itu terdapat sejumlah bejana berisi air hujan yang sudah mengalami proses elektrolisa. Ada bejana berisi air ion dengan PH asam dan basa. Keduanya bisa langsung dikonsumsi, tergantung kebutuhan.

Air basa bisa untuk minum sehari-hari, sedangkan air dengan Ph asam biasanya digunakan untuk kesehatan atau detoksifikasi tubuh.

Warga sekitar bisa secara cuma-cuma mengambil air yang terdapat di sana. Di depan garasi rumah, misalnya, ada halaman tetangga yang biasa digunakan anak-anak kecil bermain. Ketika haus mereka bisa langsung masuk ke garasi dan minum air hujan yang sudah siap konsumsi itu.

Ada juga tetangga yang khusus membawa galon kosong dan mengambil air hujan siap konsumsi untuk dibawa pulang.

Yu Ning menyebutkan 90 persen warga sekitar rumahnya sudah menggunakan air hujan untuk konsumsi.

Rasa Air Hujan Lebih Segar dan Tidak Enek

Tidak adil rasanya jika bercerita seputar teknis penampungan air hujan dan manfaatnya, tanpa bercerita soal rasa.

Meminum air hujan sepintas mirip mengonsumsi air putih kebanyakan. Akan tetapi, tegukan pertama mengubah persepsi awal.

Rasa air hujan mirip dengan air yang disimpan di dalam kendi, sangat menyegarkan. Satu gelas habis dalam satu tegukan tidak akan membuat perut terasa kembung.

Gelas kedua, ketiga, sampai keempat pun sanggup dihabiskan. Tidak ada rasa tercekat di kerongkongan. Air hujan meluncur mulus ke dalam tubuh.

Air hujan yang digunakan untuk menyeduh kopi pun juga menghasilkan rasa kopi yang berbeda. Lebih mantap dengan rasa kopi yang seolah terus menempel di lidah.

Loading
Artikel Selanjutnya
Diprediksi Tenggelam 2050, Jakarta Masih Andalkan Sumber Air dari Tanah
Artikel Selanjutnya
Misi Mulia Alirkan Air Bersih untuk Lebih dari 54 Ribu Orang