Sukses

Kenalkan Katak Pinokio dari Pulau Waigeo

Liputan6.com, Jakarta - Masih ingat cerita klasik Pinokio? Ya, boneka kayu yang jika berdusta hidungnya memanjang. Jika dalam cerita ada boneka Pinokio, di Waigeo, Papua Barat ada Katak Pinokio. Sesuai namanya, katak ini hidungnya memanjang, tapi bukan karena berdusta.

Sesuai dengan namanya, katak ini memiliki suatu tonjolan di ujung moncongnya yang identik seperti hidung Pinokio. Katak berukuran sekitar 3 cm ini dijumpai oleh Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA) Papua Barat dan tim Fauna & Flora International – Indonesia Programme (FFI-IP) saat melakukan survei keanekaragaman hayati di Pulau Waigeo, Kabupaten Raja Ampat pada 2016 lalu.

Dari tiga tempat di dalam lebatnya hutan Waigeo, BBKSDA dan tim FFI-IP hanya menemukannya di satu lokasi saja. Tepatnya di sekitar kubangan di tepian hutan Cagar Alam Waigeo Barat.

Menzies dan Johnston dalam jurnal Australian Jurnal of Zoology yang dipublikasi pada2015, menyebut Katak Pinokio ini memiliki tujuh jenis saudara lainnya. Katak dengan karakteristik tonjolan “hidung pinokio” di ujung moncongnya itu hanya satu yang tidak berada di Papua daratan. Selebihnya enam jenis lainnya merupakan kekayaan fauna asli Pulau Papua.

Dari data IUCN Redlist, enam jenis itu diketahui memiliki distribusi di daratan utama Pulau Papua saja. Temuan katak pinokio di Waigeo ini merupakan catatan baru distribusi katak tersebut di luar daratan besar Papua.

Bukan sembarang hidung Pinokio, keberadaan tonjolan ornamen pada tubuh katak ini lumrahnya memiliki fungsi kamuflase untuk menghindari pemangsa. Fungsi serupa juga dipakai oleh katak tanduk (Megophrys nasuta).

Penelitian Menzies dan Johnston menemukan hal menarik lainnya, ukuran panjang tonjolan di jenis katak pinokio (Litoria pronimia dan Litoria havina) menjadi pembeda antara katak jantan dan betina. Katak jantan memiliki ukuran “hidung” lebih panjang dibandingkan dengan betinanya.

Katak Pinokio ini sangat bergantung pada genangan air atau kolam. Katak pohon itu menggunakan genangan air dan kolam alami di dalam hutan sebagai tempat berkembang biak dan tempat hidup bagi berudunya. Mereka bukanlah katak yang hidup di tepian sungai, sehingga kolam dan genangan jadi kemutlakan, sehingga tanpa itu, mereka di ambang kepunahan.

Umumnya, katak pohon berbiak di genangan atau kolam memiliki berudu yang kurang bisa beradaptasi pada kondisi arus sungai yang deras. Sebaliknya, berudu yang hidup di sungai berarus deras beradaptasi dengan memiliki semacam organ penghisap di bagian sekitar mulut atau perut berudunya, sehingga mereka bisa bertahan di arus deras.

Secara umum keberadaan katak sangat penting di alam, misalnya sebagai bioindikator perubahan lingkungan, hilangnya suatu jenis dari suatu habitat bisa jadi perubahan atau gangguan pada habitat sangat besar pengaruhnya pada jenis tersebut. Demikian juga dengan Katak Pinokio. ( Andri Irawan – Peneliti Fauna & Flora Internasional Indonesia Programme (FFI-IP))

Saksikan video pilihan berikut ini:

Loading