Sukses

Mimpi Daendels Pindahkan Ibu Kota Hindia Belanda ke Surabaya

Surabaya - Herman Willem Daendels ternyata betah tinggal di Surabaya, Jawa Timur. Entah lantaran letaknya yang strategis ataukah suasananya. Pastinya, gubernur jenderal tersebut sempat berencana memindahkan ibu kota Hindia Belanda ke Surabaya.

Sejarawan Universitas Airlangga (Unair) Purnawan Basundoro mengakui bahwa Daendels sering mengunjungi Surabaya. Meskipun saat menginjakkan kaki pertamanya di Hindia Belanda adalah di Kota Batavia (Jakarta) dan memindahkan pusat pemerintahan di Buitenzorg (Bogor).

"Ya (Daendels) mendarat di Batavia dulu, terus intens ke Surabaya," ucap Purnawan, yang ditulis JawaPos.com, Rabu, 14 Maret 2018.

Keinginan menjadikan Surabaya sebagai ibu kota, lanjutnya, membuat Daendels serius membangunnya. Menurut catatan beberapa sejarawan yang lain, gubernur jenderal kelahiran Hattem, Belanda, tersebut sempat merenovasi Gedung Negara Grahadi, pada 1810.

Disebutkan pula, Daendels menginginkan rumah kebun di selatan Surabaya itu menjadi sebuah istana.

Meski begitu sang pemimpin Hindia Belanda tidak sempat tinggal di Grahadi. "Saya rasa tidak sampai tempati Grahadi itu," ungkapnya.

Untuk diketahui, Daendels hanya bertugas di Hindia Belanda selama tiga tahun, yaitu mulai 1808-1811.

Baca berita menarik dari JawaPos.com lain di sini.

Saksikan video pilihan di bawah ini:

 

1 dari 4 halaman

Daendels Tak Nyaman di Batavia

Tak ada yang menyebutkan alasan pastinya Daendels ingin memindahkan pusat pemerintahan Jawa di Surabaya. Tapi beberapa literatur mengungkapkan, sejak pertama dia menginjakkan kaki di Batavia, kota tersebut dinilai tidak sehat.

Itulah mengapa dia lantas membuat sebuah istana dan memindahkan pemerintahan ke Bogor. Langkahnya ini lalu diikuti oleh pejabat Belanda lainnya.

Terlepas dari pembuatan istana di Bogor, menurut dosen Universitas Airlangga (Unair) Surabaya tersebut, Daendels juga memperkuat Surabaya dengan persenjataan. Sejumlah pabrik didirikan di kota yang berbatasan dengan Grisse (Gresik) dan Sidoarjo tersebut. "Banyak membuka pabrik senjata di sana," sebutnya.

Daendels ditugaskan oleh Prancis, karena saat itu Belanda di bawah Prancis masa Napoleon, untuk memperkuat Jawa dari ancaman Inggris.

Itulah mengapa dia membuat Jalan Raya Pos, agar memudahkan mobilisasi pasukan. Selain juga mendirikan pusat militer di beberapa kota, seperti Surabaya, Semarang, dan Batavia. Ada pabrik senjata, sekolah militer, dan benteng. Daendels pun memperbanyak pasukan dengan merekut orang pribumi.

Pembangunan besar-besaran itu, setelah peristiwa diserangnya Surabaya dan Gresik oleh pasukan Inggris dari selat Jawa. Hal itu jelas menjadi ancaman bagi Jawa yang saat itu merupakan daerah koloni Belanda dan menyumbang banyak penghasilan bagi Negeri Kincir Angin tersebut.

 

2 dari 4 halaman

Kantor Pos Besar Peninggalan Daendels Tak Terlacak

Beberapa sejarawan menyebutkan, jalan bikinan Herman Willem Daendels dinamakan juga Jalan Raya Pos. Penyebutan ini didasari akan banyaknya pos-pos pengiriman surat di sepanjang jalur tersebut.

Bersamaan saat Daendels membangun jalan raya pos, dia juga mendirikan jasa pos dan telegraf. Dalam catatan yang ditemukan para ahli sejarah menyebutkan, gubernur jenderal tersebut membeli 200 ekor kuda sebagai alat pengangkut Pos. Pembelian tersebut juga sekaligus menandakan proyek jalan Anyer-Panarukan selesai.

Daendels pun memperbanyak baju pegawai pos ini. Bahkan, ia melengkapi pengantar pos dengan atribut pakaian seragam.

Dalam catatan Thomas Stamford Bingley Raffles, seorang pejabat asal Inggris yang pernah menjadi gubernur jenderal di Hindia Belanda dalam bukunya History of Java menyebutkan, Daendels membangun 12 pesanggrahan, 126 stasiun kereta, 51 stasiun untuk pengganti para kuda pos.

Disebutkan juga dalam beberapa literasi bahwa ada tiga kantor pos besar di sepanjang jalan tersebut, yakni di Batavia, Semarang, dan Surabaya. Di ketiga kota itulah pengiriman surat terkosentrasi. Hanya saja, tidak tahu secara pasti di mana letak kantor pos yang didirikan oleh Daendels.

"Saya kurang tahu, mungkin ada di Jalan Rajawali," ujar sejarawan asal Universitas Airlangga (Unair) Purnawan Basundoro kepada Radar Surabaya (Jawa Pos Group), yang ditulis Selasa, 13 Maret 2018.

Memang, tidak ada catatan yang mengatakan di mana lokasi kantor pos besar pada masa Daendels. Letak Kantor Pos Besar Kota Surabaya saat ini di Jalan Kebonrojo yang juga memiliki sejarah panjang, tidak ada bukti bahwa bangunan tersebut peninggalan masa pemerintahan Daendels.

Dari plakat yang ada di depan bangunan Kantor Pos Besar menyebutkan bahwa bangunan tersebut bekas sekolahan.

"Rumah kediaman dan Kantor Kabupaten Surabaya, kemudian dijadikan Hogere Burger School (HBS), Kemudian dijadikan kantor besar," begitu tullisan yang tertera di plakat tersebut.

Dari informasi yang berhasil dikumpulkan, bangunan itu baru dijadikan kantor pos besar pada 1926. Ini berarti satu abad setelah Daendels meninggalkan Hindia Belanda di tahun 1811. Catatan yang termuda dari penggunaan bangunan kantor pos itu adalah 1881 sebagai rumah Regentstraat, yakni rumah dinas Adipati Surabaya.

Ada kemungkinan kantor tersebut berada di Jalan Rajawali. Mengingat Purnawan Basundoro menyampaikan, daerah tersebut sudah berkembang menjadi permukiman orang Eropa sejak akhir abad 18. Hal tersebut berarti jauh sebelum Daendels sudah datang. Namun, di mana tepatnya keberadaan kantor pos zaman Daendels, belum bisa diidentifikasi.

"Wilayah Jalan Rajawali itu sudah ada sebelum Daendels datang dan membuka jalan penghubung antar kota," kata Purnawan.

 

3 dari 4 halaman

Jalan Pos yang Susuri Sungai hingga ke Sidoarjo

Saat datang ke Surabaya dari Batavia, Williem Herman Daendels berpikir, perlu ada jalan penghubung dari Surabaya ke kota lain. Dia pun akhirnya merealisasikan pada tahun 1808.

Jalur penghubung dengan kota lain inilah, yang lantas secara tidak langsung membentuk jalan utama di Kota Surabaya. Jika sebelumnya sudah terbentuk hingga Gedung Negara Grahadi, Deandels melanjutkan jaringan jalan tersebut sampai ke Sidoarjo.

"Daendels ini membangun jalan penghubung antar satu kota dengan kota yang lain. Termasuk dari Surabaya ke Sidoarjo," ujar sejarawan Universitas Airlangga (Unair) Purnawan Basundoro, kepada Radar Surabaya (Jawa Pos Group), Februari lalu.

Dari peta Surabaya tahun 1825, yakni 14 tahun setelah Deandels ditarik kembali ke Eropa, secara samar-samar tampak jalur bagian selatan Surabaya. Tidak seperti jaringan jalan sekarang yang terpusat garis lurus di Jalan A. Yani, melainkan mengikuti Sungai Kalimas. Kalau diamati pada peta yang sekarang, tampak jaringannya melalui Jalan Tunjungan-Jalan Basuki Rahmat.

Dari Jalan Basuki Rahmat tersebut masuk ke Jalan Keputran. Dari sana lanjut ke Jalan Dinoyo menyusuri sungai sampai di Jalan Darmo Kali. Di ujung jalan itulah ada pertigaan yang satu lanjut ke Jalan Joyoboyo sampai Jalan Mastrip. Satu lagi menyebrang Jembatan Wonokromo menuju ke Jalan A. Yani sampai ke Waru, Sidoarjo.

"Jangan dibayangkan jalan Daendels ini selebar sekarang. Dahulu itu kecil, hanya 7,5 meter lebarnya," ucap laki-laki yang akrab disapa Pur ini.

Diakui oleh dosen sejarah Unair tersebut, jalan yang dibangun Gubernur Jenderal Hindia Belanda itu pada perkembangan tata Kota Surabaya menjadi jalan utama. Meski kemudian seiring perkembangannya jalan raya di Kota Pahlawan, apa yang ada masa Daendels tak semuanya jadi protokol.

Perlu diketahui, jaringan jalan yang dibangun Deandels belum ada teknologi pengaspalan. Namun, ketika aspal sudah dikenal di Hindia Belanda, jalan-jalan tersebut semakin besar.

"Seperti Jalan Rajawali di Kawasan Jembatan Merah, ketika teknologi aspal masuk, kemudian di aspal. Kawasan ini menjadi tempat tinggal pejabat di Surabaya. Nama jalan itu dahulu Hereenstraat, yang artinya jalan para pembesar," urainya.

Terlepas dari perkembangan jalan peninggalan Deandels di Surabaya yang masih ada, dipahami juga bahwa tujuan utama dibangun untuk Jalan Pos. Selain mempermudah mobilisasi tentara guna mempermudah pertahanan Jawa dari Inggris. Daendels juga membangun jaringan pos atau pengiriman surat dan barang.

Tiga kantor besar pos diletakkan di Batavia, Semarang dan Surabaya. Di samping pos kecil-kecil untuk tempat istirahat kuda dan petugas pos yang saat itu memakai seragam warna merah di sepanjang jalan penghubung.

Artikel Selanjutnya
Menelusuri Sisa Sejarah Bangunan Pemerintahan Belanda di Garut
Artikel Selanjutnya
Presiden Jokowi Kunjungi Korban Bom Gereja Surabaya