Sukses

3 Awak Kapal Terombang-ambing 30 Jam di Laut Kabaena

Liputan6.com, Kendari - Tim penyelamat dari Pos SAR Kota Baubau, Sulawesi Tenggara, berhasil mengevakuasi KM Nursinta GT06 setelah terombang-ambing selama 30 jam di Laut Kabaena. Kapal itu sebelumnya mengalami mati mesin hingga akhirnya hilang komunikasi.

Kapal pembawa barang bekas milik Singapura itu awalnya berlayar dari Tanjung Pinang, Provinsi Kepulauan Riau, menuju Pulau Wangi-wangi, Kabupaten Wakatobi, Sulawesi Tenggara.

Awak kapal sempat berkomunikasi dengan warga yang kemudian mengabarkan kapal mengalami mati mesin pada Senin siang, 18 Desember 2017, sekitar pukul 11.00 Wita.

Kabar itu kemudian diterima petugas SAR Kendari dari seorang warga di Wakatobi. Informasi yang didapat memetakan kapal tersebut berada pada koordinat 05 42' 33'S-121 53' 58'E atau sekitar 14 mil laut di sebelah selatan Pulau Kabaena, Kabupaten Bombana.

Belum juga sempat diselamatkan, petugas SAR kehilangan jejak. Penyelamatan kapal beserta awaknya oleh petugas SAR itu terhambat oleh badai hebat.

"Tinggi ombak mencapai tiga sampai empat meter, sementara kami memakai perahu Rigid Inflatable Boat (RIB) berukuran kecil, kami mundur dulu mencari perlindungan dari badai," ujar Kepala Kantor SAR Kendari, Djunaidi, Selasa, 9 Desember 2017.

Saksikan video pilihan berikut:

 

2 dari 3 halaman

Akhir Pencarian

Hingga Senin malam, anggota SAR masih belum juga menemukan kapal itu. Kurang lebih 30 jam sejak dilaporkan hilang, kapal pengangkut barang bekas akhirnya ditemukan pada Selasa, 19 Desember 2017, pukul 17.30 Wita.

Lokasi penemuan berjarak 17 mil laut dari wilayah perairan Pulau Kadatua bagian utara, sekitar 60 mil laut dari lokasi mati mesin. Tiga awak kapal berhasil ditemukan dalam keadaan selamat.

Ketiganya, La Aco (37) sebagai kapten kapal, serta dua ABK, Risno (25) dan La Ugu (30), ditemukan dalam keadaan lemah karena kurang tidur.

"Pos SAR Wakatobi juga memberikan bantuan, Selasa sekitar pukul 18.48 Wita, operasi pencarian kapal dinyatakan ditutup," ujar Humas SAR Kendari Wahyudi, Rabu (20/12/2017).

Sementara itu, sebuah kapal tongkang dan tugboat (kapal penarik tongkang) terdampar di Kelurahan Watubangga, Kecamatan Watubangga, Kabupaten Kolaka, Senin, 18 Desember 2017.

Kapal asal Balikpapan itu kandas di pantai setelah dihantam badai di perairan Teluk Bone.

Kapal tongkang dengan nama Serafine 01 dan Tugboat Megawati 03 diketahui akan berlayar dari Kabupaten Kolaka menuju Pelabuhan Kendari, Sulawesi Tenggara. Selanjutnya, kapal menuju Pelabuhan Tanjung Priok Jakarta.

Kapolsek Watubangga Kabupaten Kolaka Iptu Arman mengatakan kapal tugboat yang terdampar ini karena angin kencang. Kapal yang tidak bermuatan itu akhirnya terdampar di pantai Kolaka.

"Kalau air sudah pasang kembali, kapal akan ditarik dan berlayar kembali," ujarnya.

3 dari 3 halaman

Puluhan Kecelakaan Laut

Pada 2017, tercatat 68 kecelakaan laut terjadi di wilayah Sulawesi Tenggara. Jumlah ini termasuk tinggi. Tingginya angka kecelakaan laut di wilayah Sultra menjadi perhatian utama pihak Kantor SAR Kendari.

Menghadapi tahun baru 2018, pihak SAR menyiagakan 108 personel. Personel sebanyak itu akan ditempatkan di 30 lebih lokasi wisata pantai dan keramaian yang tersebar di wilayah Sulawesi Tenggara. Jumlah itu, kata Kepala SAR Kendari, adalah jumlah seluruh anggota.

"Kita pastikan tidak ada libur tahun baru, karena memang siaga semua anggota," ujarnya.

Pihaknya meminta pengelola tempat wisata untuk menyediakan tim penyelamat sendiri. Tim itu akan dilatih untuk melakukan usaha penyelamatan awal sebelum tim SAR tiba.

"Kalau pengelola wisata mau, maka kita akan latih. Kita tunggu konfirmasi mereka ini," katanya.