Sukses

Petik Laut, Simbol Syukur dan Tolak Bala Nelayan Madura

Liputan6.com, Sumenep - Kebiasaan mengungkapkan rasa syukur warga kepada Sang Pencipta atau Tuhan di setiap daerah tentunya berbeda-beda. Salah satunya adalah Petik Laut.

Bukan hanya menyampaikan rasa syukur atas rezeki melimpah, terdapat ritual khusus menjauhkan malapetaka (tolak bala) dengan melarung sesajen di tengah laut.

Ritual Petik Laut yang merupakan tradisi warisan nenek moyang itu biasa digelar setiap tahun oleh nelayan di Desa Aengdake, Kecamatan Bluto, Kabupaten Sumenep, Madura, Jawa Timur.

Dengan cara itulah, masyarakat khususnya nelayan, bisa mensyukuri nikmat berupa rezeki yang diberikan Tuhan dalam kurun waktu satu tahun.

Semua nelayan di desa tersebut pasti mengikuti ritual Petik Laut. "Ini bentuk rasa syukur para nelayan terhadap rezeki yang melimpah dari hasil laut," ucap Homaidi, salah seorang warga di Desa Aengdake, Kecamatan Bluto, Sabtu, 2 Desember 2017. 

**Gempa Cianjur telah meluluhlantakkan Bumi Pasundan, mari bersama-sama meringankan penderitaan saudara-saudara kita di Cianjur dengan berdonasi melalui: rekening BCA No: 500 557 2000 A.N Yayasan Pundi Amal Peduli Kasih. Bantuan akan disampaikan dalam bentuk sembako, layanan kesehatan, tenda, dll. Kepedulian kita harapan mereka.

2 dari 3 halaman

Tolak Bala

Homaidi mengaku, selain menyampaikan rasa syukur, ritual Petik Laut juga terdapat harapan warga akan jauh dari malapetaka. Pasalnya, mayoritas warga setempat bermata pencaharian sebagai nelayan.

Mereka berharap dapat dijauhkan dari musibah yang membahayakan saat melaut. Dengan begitu, upaya mereka dalam mencari nafkah guna memenuhi kebutuhan hidup keluarganya berjalan lancar.

"Jadi yang ikut melarung sesajen bukan hanya nelayan, tapi warga yang bukan nelayan juga ikut ke tengah laut," ujarnya.

Dalam ritual Petik Laut, nelayan dan warga terlihat antusias mengikuti pawai perahu hias milik nelayan ke tengah laut untuk melarung sesajen yang terbuat dari pohon pisang menyerupai perahu dan diisi kepala kambing, kembang tujuh rupa, dan ayam berwarna hitam.

Setelah tiba di tengah laut sebagai tempat melarung sesajen, seluruh perahu nelayan berkeliling membentuk bulat sembari merebut air laut di areal sesajen dilepas dengan harapan dijauhkan dari malapetaka.

3 dari 3 halaman

Pawai Perahu Hias

Warga yang ikut pawai perahu hias tidak hanya kaum lelaki dewasa. Kaum perempuan maupun anak-anak juga turut dalam acara ritual tersebut.

Alhasil, anak-anak yang hendak naik ke perahu harus digendong oleh orangtuanya agar tidak basah saat menyeberangi air laut menuju perahu yang telah disediakan para nelayan.

Bukan hanya Petik Laut, tapi juga bersamaan dengan Rokat Desa. "Makanya, warga cukup antusias mengikuti ritual ungkapan rasa syukur atas rezeki yang diberikan Tuhan," Homaidi menjelaskan.

Selain Petik Laut dan Rokat Desa, warga juga bisa menikmati berbagai hiburan yang disediakan pemerintah desa setempat. Selanjutnya, pada siang hari, mereka bisa menghibur diri dengan musik tradisional karawitan khas daerah setempat.

Pada malam harinya, warga disuguhi hiburan ketoprak ludruk sebagai pamungkas rangkaian kegiatan tersebut.

Saksikan video pilihan di bawah ini:

* Fakta atau Hoaks? Untuk mengetahui kebenaran informasi yang beredar, silakan WhatsApp ke nomor Cek Fakta Liputan6.com 0811 9787 670 hanya dengan ketik kata kunci yang diinginkan.