Sukses

Bisikan Gaib Tuntun Pembangunan Masjid Bata Merah Cirebon

Liputan6.com, Cirebon - Cirebon memiliki sejumlah masjid kaya sejarah yang berdiri kokoh. Sebut saja Masjid Agung Sang Cipta Rasa Keraton Kasepuhan, Masjid Kanoman, Masjid Merah Panjunan dan Masjid Pejlagrahan. Semuanya merupakan jejak perjuangan dakwah Sunan Gunung Djati.

Seiring zaman, sejumlah masjid baru dibangun. Salah satunya adalah Masjid Nurbuat yang berarti cahaya kenabian. Masjid yang memadukan gaya Demak dan China itu dibangun oleh Ustaz Rohim pada 2000.

"Awalnya cuma musala biasa, tapi makin lama malah berkembang jadi Masjid yang unik dan banyak dikunjungi wisatawan juga," kata pengurus DKM Masjid, Suharjo, Selasa, 31 Mei 2017.

Pada 2010, musala kemudian direnovasi dan diperbesar menjadi bentuk masjid kini. Dengan tampilannya itu, masjid yang berlokasi di Kedung Menjangan, Kelurahan Kalijaga, Kecamatan Harjamukti, Kota Cirebon, belakangan banyak disebut Masjid Bata Merah.

Namun, yang menarik adalah cerita awal di balik pembangunan masjid. Menurut Suharjo, sang pendiri mengalami bisikan gaib dari Syekh Abdurrahman Rauf As-Sinqili, seorang ulama sufi dari Aceh. Bisikan gaib itu memberitahu ide dan segala gambaran arsitekturnya.

"Lewat mimpi yang berulang-ulang," kata dia.

Bahkan, pesan gaib juga menegaskan waktu pembangunan masjid hanya bakal berlangsung selama 100 malam. Sesuai pesan gaib, pembangunan Masjid Bata Merah memang diselesaikan selama 100 malam.

"Namun, wallahu a’lam dan hanya kuasa Allah semua itu bisa terjadi. Yang bangun tetap tukang tapi waktunya tengah malam," ujar Suharjo.

Selain nama Masjid Nurbuat, beberapa bangunan juga memiliki arti dan makna. Di sisi luar kanan dekat pintu masuk, tampak menara yang cukup tinggi dengan susunan atap berjumlah sembilan.

Jumlah sembilan pada atap menara ini menjelaskan Wali Songo. Sementara di bawah menara, terdapat sebuah sumur yang dikenal dengan Sumur Wasiat.

Bisikan gaib itu menyampaikan ide pembangunan Masjid Bata Merah berulang kali lewat mimpi. (Liputan6.com/Panji Prayitno)

"Menurut ceritanya tidak pernah kering walaupun sedang musim kemarau," kata dia.
 
Di bagian dalam masjid yang menyatu dengan ruang Imam, berdiri kokoh menjulang ke atas atas 17 tiang atau saka. Itu merupakan simbol dari jumlah rakaat salat wajib dalam sehari.

Sedangkan, bagian luar masjid ini memiliki 33 tiang yang berdiri kokoh dengan warna merah hingga tembok luar dari masjid ini. Jumlah tiang di bagian luar ini merupakan simbol dari jumlah wirid tasbih, hamdalah, dan takbir seusai salat.

"Jadi kalau diamati, hanya ada dua warna yang tampak pada masjid ini. Merah pada bagian luar persalatan masjid ini hingga ke pelataran juga ornamen luarnya. Warna putih pada bagian dalamnya yang menyatu dengan pengimaman menjelaskan kesucian yang seringkali tersemat bagi orang saleh," tuturnya.

Masjid ini berdiri di atas tanah wakaf milik Keraton Kanoman dengan luas tanah sekitar 2000 meter persegi. "Masih mengalami perluasan bangunan guna dibuatkan ruangan pertemuan," dia menambahkan.