Sukses

Matahari Terbit, Secangkir Kopi, dan Gunung 'Erotis'

Liputan6.com, Enrekang - Menikmati libur akhir tahun, wisata pemandangan Gunung Buttu Kabobong atau lebih dikenal dengan sebutan Gunung Nona bisa menjadi salah satu destinasi wisata di Kabupaten Enrekang, Sulawesi Selatan. Pemandangan kian asyik saat matahari terbit. 

Gunung Nona sekitar 16 kilometer dari Kota Enrekang, ibu kota Kabupaten Enrekang, atau berada sekitar 240 km arah utara Kota Makassar, Sulsel. Adapun Enrekang berbatasan langsung dengan Kabupaten Tana Toraja di sebelah utara, sebelah timur Kabupaten Luwu, sebelah selatan Kabupaten Sidrap, dan sebelah barat Kabupaten Pinrang.

Enrekang pun menawarkan sebuah lanskap cantik nan menakjubkan, yakni pegunungan yang sejuk dan pepohonan rindang tumbuh di kiri-kanan jalan. Di antara deret gunung dan bukit di Enrekang, terdapat satu gugusan lereng yang memiliki keunikan tersendiri yang oleh warga sekitar dinamai Buttu Kabobong.

"Buttu" berarti gunung, sedangkan "kabobong" bermakna alat kelamin wanita. Masyarakat setempat memberi julukan Buttu Kabobong sebagai "gunung erotis".

Jika dilihat sekilas, bentuknya memang tidak terlalu tampak seperti alat kelamin wanita. Namun, bila diperhatikan dengan lebih seksama, barulah bentuk yang dimaksud itu akan tergambar lebih jelas di ceruk bukit setinggi 700 meter di atas permukaan laut (mdpl).

Lantaran bentuk itulah, Buttu Kabobong dikenal pula dengan sebutan Gunung Nona. Gunung ini berada di Jalan Poros Enrekang-Toraja, Kecamatan Anggeraja, Kabupaten Enrekang.

"Karena bentuknya yang mirip kelamin wanita, makanya disebut Gunung Nona. Di sini setiap libur panjang selalu ramai," ucap Andi Putri Mayasari, salah seorang pengunjung kepada Liputan6.com, Senin, 26 Desember 2016.

2 dari 2 halaman

"Selain karena memang pemandangannya yang indah, Gunung Nona juga menjadi tempat istirahat favorit bagi mereka yang hendak ke Kabupaten Toraja, salah satu kabupaten destinasi wisata favorit di Sulawesi Selatan," ia menambahkan.

Dari Makassar, gunung yang memiliki nama lokal Buttu Kabobong ini bisa ditempuh sekitar enam jam lamanya melalui perjalanan darat. Jalur pegunungan yang dilalui pun berliku dan mengular.

"Jalur berliku, naik dan turun tentu membuat tenaga terkuras. Namun pemandangan yang indah ini menghilangkan lelah itu," tutur Putri sembari terus memandangi pemandangan Gunung Nona.

Pemandangan Gunung Nona bisa dinikmati sambil makan atau sekadar menikmati secangkir kopi hangat di beberapa warung pinggiran jalan. Warung-warung itu pun menyediakan tempat khusus untuk menikmati pemandangan Gunung Nona.

"Udara yang cukup dingin dengan pemandangan indah, memang lebih asyik dinikmati sambil minum kopi hangat atau makan mi rebus," ujar Putri.

Wisatawan mengisi libur akhir tahun di kaki Gunung Buttu Kabobong atau lebih dikenal dengan sebutan Gunung Nona di Enrekang, Sulsel. (Liputan6.com/Fauzan)

Iklim sekitar pegunungan ini sangat dingin. Kebanyakan wisatawan yang menuju Kabupaten Tana Toraja berhenti sejenak di beberapa warung dan penginapan sekitar Gunung Buttu Kabobong.

Mereka menikmati pemandangan pegunungan dan suguhan kopi Kotu ataupun penganan kue tradisional khas Masserengpulu, dep'pa tetekan atau masyarakat Toraja biasa menyebut dep'pa Tori, kue yang terbuat dari tepung beras dicampur gula merah. 

Di sana, pengunjung akan disajikan pemandangan alam yang mengesankan. Yakni, memandang indahnya pegunungan dan perbukitan. Wisatawan dapat pula merasakan kesejukan air sungai. Keindahan lain di Gunung Nona, yaitu keberadaan flora dan fauna seperti monyet, kerbau kerdil, rusa, dan juga bunga anggrek.

Adapun bagi penikmat kegiatan alam bebas bisa mengunjungi Gunung Bambapuang yang berada di sebelah Gunung Nona. Bambapuang dengan ketinggian sekitar 1.021 mdpl. Tebing gunung yang terletak di Desa Bambapuang, Kecamatan Anggeraja, Kabupaten Enrekang, Sulsel itu pun terkenal di kalangan pemanjat tebing di Tanah Air.