Sukses

Kisah Guru Bahasa Inggris Dipasung Akibat Ketidaktahuan

Liputan6.com, Yogyakarta - Anto Sg terkenang kembali kejadian yang dialaminya 17 tahun lalu di Tulungagung, Jawa Timur. Sebuah peristiwa yang masih menyisakan trauma pada laki-laki yang kini berprofesi sebagai guru Bahasa Inggris itu.

"Tangan dan kaki saya diikat di ranjang puskesmas karena saya berusaha minggat," ujar pemilik nama asli Agus Sugianto yang ditemui di Fakultas Psikologi UGM Yogykarta, Jumat, 7 Oktober 2016.

Bukan tanpa sebab Anto diperlakukan seperti itu. Dipasung, dalam bahasa dan pemahamannya. Kedua orangtuanya kebingungan menghadapi sikapnya yang berubah drastis ketika itu.

Ia lebih banyak diam dan bermuram durja. Berkali-kali dibawa ke puskesmas untuk mendapatkan pengobatan, tak juga kunjung membaik.

Dokter saat itu mendiagnosis Anto mengalami gangguan jiwa berat. Sebuah vonis yang membuatnya dijauhi lingkungan sekitar. Tetangga, teman, keluarga tak ada satu pun yang dirasanya memberi dukungan.

Anto yang usianya baru menginjak kepala dua kala itu merasa frustasi dengan kondisinya. Dia tidak boleh kemana-mana, hanya di rumah. Tidak boleh bepergian apalagi bergaul dengan rekannya karena saat itu tidak seorang pun yang bisa menerima kondisi laki-laki kelahiran 1978 itu.

"Karena semakin tertekan saya putuskan pergi dari rumah, eh tapi ketahuan dan justru dipasung di puskesmas," ucap dia.

Anto sebenarnya maklum. Waktu itu fasilitas layanan kesehatan belum seperti sekarang. Bukannya membaik, dipasung justru memperparah kondisinya yang putus asa, tertekan, sedih, tidak bisa tidur, bahkan pernah terlintas ingin bunuh diri.

Orangtuanya yang hanya mengenyam pendidikan sampai SD tidak memfilter saran kerabat soal pengobatan Anto. Semua saran diterima, diterapkan, yang justru memperparah kondisi anak laki-lakinya yang tertekan. Anto merasa terbuang dan terhina.

Tidak ada psikolog ataupun petugas medis yang paham betul menangani pasien dengan gangguan jiwa. Depresi berat yang diidapnya dianggap sebagai gila. Karena itu, Anto diberi obat skizofrenia.

2 dari 2 halaman

Kuliah Menekan Jiwa

Serangan depresi berat dialami pertama kali oleh laki-laki berkulit cokelat itu. Selama setahun, ia hidup dalam tekanan pikiran dan berusaha untuk meloloskan diri dari penyakit itu.

Semula dia ingin kuliah seusai lulus SMA dengan berniat jadi guru bahasa Inggris. Orangtuanya tidak mampu membiayai sehingga Anto harus bekerja supaya bisa membayar keperluannya sendiri untuk melanjutkan pendidikan di salah satu universitas di Kediri.

Namun, ia tidak kuat menahan beban pekerjaan dan pendidikan ketika itu. Pekerjaannya terbengkalai, ia dikritik habis-habisan sampai memutuskan hengkang. Demikian pula dengan kuliahnya, tidak kalah berantakan.

"Akhirnya kuliah dan kerja sama-sama berhenti, saya tidak punya back up plan ketika itu," tutur dia mengenang titik terendah hidupnya.

Lebih dari tiga tahun, Anto berjuang sendiri melawan depresi beratnya. Seharusnya, kata dia, mendapat dukungan dari orangtua dan lingkungan sekitar. Tetapi saat itu, keinginan sembuh hanya datang dari dirinya sendiri.

Setiap hari, ia memotivasi diri sendiri dengan melawan gangguan yang bisa datang sewaktu-waktu. Terkadang putus asa muncul kembali, tetapi Anto kembali ingat soal kemauannya untuk hidup normal.

"Pada 2004, saya dinyatakan sembuh," ucap dia.  

Dorongan dari dalam dirinya membuat laki-laki yang berdomisili di Tulungagung itu memutuskan untuk kuliah lagi. Profesinya saat ini lumayan banyak, mulai dari guru Bahasa Inggris, desainer batik, sampai diundang menjadi narasumber advokasi kesehatan jiwa.

Dia sadar gangguan jiwa bisa muncul dan kembali kambuh. Namun, Anto sudah punya cara untuk mengatasinya.

"Yang terpenting adalah sadar soal penyakit itu dan menerima sebagai ujian hidup yang harus dijalani serta memotivasi diri sendiri," kata dia yang pada akhir Oktober ini mengikuti fellowship tentang kesehatan jiwa di Melbourne dari Kementerian Kesehatan dan Kementerian Sosial.

Loading