Sukses

Kampung Warna-warni 3 Dimensi, Pojok Selfie Cantik Kota Malang

Liputan6.com, Malang – Kampung Jodipan dan Kesatrian persis berada di sisi timur Jembatan Embong Brantas Kota Malang, Jawa Timur. Kedua kampung yang saling bertetangga itu hanya dipisahkan oleh Sungai Brantas.

Kedua kampung itu tengah populer sebagai salah satu tujuan wisata alternatif di Kota Malang. Jika Kampung Jodipan di selatan sungai lebih dikenal sebagai kampung warna-warni, Kampung Kesatrian yang berada di utara sungai terkenal dengan kampung tiga dimensi (3D).

Tiap hari, terutama sore, anak muda sampai orangtua rela menyusuri gang sempit berliku laiknya labirin. Mereka asyik berfoto di pelataran rumah warga di kedua kampung itu atau memanfaatkan tangga berundak di dalam kampung untuk ber-wefie ria.

Berada di tepi bantaran sungai, kedua kampung ini merupakan kawasan padat penduduk dengan kesan kumuh. Kreativitas para anak muda membuat wajah kampung kini berubah jadi cantik.

Hampir semua tembok rumah warga dicat dengan kombinasi warna yang mencolok mata dan dilukis dengan format tiga dimensi.

Mirip Desa Riomaggiore di Italia, Boo-Kaap di Afrika Selatan, hingga Desa Gamcheon di Korea Selatan, penampilan Kampung Jodipan dan Kesatrian itu tetaplah cantik dari atas Jembatan Embong Brantas. Tak kalah dengan Kampung Code di Gondokusuman Yogyakarta yang juga semakin cantik.

"Awalnya, ada mahasiswa datang ke sini. Dia praktikum dan menawarkan gagasan mewarnai kampung ini. Warga setuju dan menerima ide itu," kata Soni Parin, Ketua RW 2 Kampung Jodipan ditemui di rumahnya, Senin, 5 September 2016.

Sekelompok mahasiswa itu menawarkan gagasannya ke sebuah perusahaan. Gayung bersambut, proposal mahasiswa itu diterima karena perusahaan juga memiliki program corporate social responbility (CSR).

Pada Juli, pengerjaan pun dimulai dengan seluruh tenaga pengecatan melibatkan semua pihak. Lambat laun, penampilan kampung di RW 2 yang terdiri dari RT 6, RT 7 dan RT 9 itu semakin cantik setelah diguyur sekitar tiga ton cat dan menarik perhatian warga luar untuk berkunjung.

Kunjungan turis dadakan itu menggerakkan hati 105 kepala keluarga di kampung itu untuk lebih menjaga kebersihan. Mereka tak lagi membuang sampah sembarangan, termasuk menghentikan kebiasaan membuang sampah di sungai.

"Malu kalau sampai ada sampah berserakan, sekarang semua saling menjaga kebersihan. Apalagi kami juga dibantu bak sampah," ucap Soni.

Bayar dan Gratis

Warga yang masuk ke kampung ini dikenai retribusi sebesar Rp 2.000 per orang. Uang itu disebut Soni untuk membayar tukang sampah yang tiap hari datang mengangkut sampah mereka.

Sejak banyak wisatawan datang, volume sampah memang pun ikut meningkat di kampung itu. Pada hari biasa, ada 200–300 orang datang berkunjung. Saat hari libur, bisa sampai 600 orang yang datang.

"Kami selalu jelaskan ke pengunjung uang itu dipakai untuk bayar tukang sampah, mereka tak ada masalah," ucap Soni.

Usai di Kampung Jodipan, pengunjung bisa bergeser ke RW 12 Kelurahan Kesatrian di sisi utara. Kampung ini lebih menonjolkan lukisan 3D di berbagai sudutnya. Masuk ke kampung ini gratis tanpa dipungut biaya.

"Perusahaan cat menyediakan bahan cat, pemuda kami yang melukis. Kebetulan banyak pemuda kami yang bisa seni airbrush," ujar Nuryanto, Sekretaris RW 12 Kelurahan Kesatrian alias Kampung 3D.

Meski sejak pagi sampai petang banyak pendatang hilir mudik ke kampung, warga tak terganggu. Bahkan, itu menjadi berkah lantaran pendapatan ekonomi mereka ikut bertambah.

Warga terutama yang berdagang makanan kecil dan minuman ringan merasakan imbas positifnya. "Lumayan ada pendapatan tambahan. Warga juga semakin sadar dengan menjaga kebersihan bersama," kata Nuryanto.

Pemerintah Kota Malang menyadari kedua kampung ini berpotensi untuk dikembangkan menjadi salah satu tujuan wisata baru. Beberapa hari lalu, Wali Kota Malang M Anton meresmikan Kampung Warna–Warni Jodipan sebagai kampung wisata.

Berbagai konsep pengembangan pun mereka gagas. Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) Kota Malang, Wasto mengatakan, pengembangan dilakukan secara bertahap dan saat ini baru Kampung Jodipan yang masuk dalam rencana pengembangan potensi wisata.

"Kami tengah siapkan rencana pelatihan untuk pemberdayaan ekonomi warga seperti budidaya jamur," ujar Wasto.

Selain itu, fasilitas umum berupa pembangunan penerangan jalan umum (PJU) di Kampung Jodipan telah disiapkan. Apa yang dibutuhkan oleh warga untuk membenahi pemukiman mereka juga akan diakomodir.

"Sehingga, kampung tak hanya layak secara fisik tapi juga berdaya secara ekonomi," kata Wasto.