Sukses

Makam Keramat Titisan Buaya Putih Ramai Dikunjungi Peziarah

Liputan6.com, Makassar - Sebuah makam tua yang tersembunyi berada di pinggiran Kota Makassar , Sulawesi Selatan tepatnya di Kampung Bangkala, Kecamatan Manggala.

Menyimpan sejarah yang diabadikan secara lisan, makam itu oleh sebagian masyarakat disebut sebagai makam keramat.

Tak ada cerita yang jelas itu makam siapa. Banyak orang meyakini makam itu merupakan kuburan seorang lelaki jawara dahulu kala yang bernama Boe Ri Bungung Batu, disebut sebagai titisan sang buaya putih Karaeng Sinri Jala yang memiliki kerajaan di bawah Sungai Tallo, Makassar.

Daeng Nana (80) seorang penjaga dan perawat makam tua tersebut mengungkapkan jika makam tua yang dijaganya sering dikunjungi oleh masyarakat, terutama dari etnis Tionghoa baik yang ada di Makassar maupun dari luar Kota Daeng.

Para pengunjung memiliki beragam tujuan. Ada yang memang telah berniat sebelumnya untuk berkunjung, ada yang datang untuk berniat berobat karena mendapatkan petunjuk dari seseorang bahkan ada yang datang juga katanya mencari berkah.

"Di sini terkadang ramai dikunjungi masyarakat pada malam 1 As-Syurah. Tapi hari hari biasa juga ada itu biasanya masyarakat etnis Tionghoa yang meyakini kekeramatan makam ini," kata Nana kepada Liputan6.com di Makassar, Minggu (31/1/2016)

Nana menjelaskan sejarah makam tersebut yakni bermula sekitar tahun 1930 ketika Boe Ri Bungung Batu datang ke Kampung Bangkala. Kala itu kampung tersebut dalam kondisi perang antara masyarakat Kampung Bangkala dan suku Ende asal Kota Buton, Sulawesi Tenggara (Sultra).

Saat itu pasukan suku Ende menyerang ingin menguasai Kampung Bangkala yang kaya akan hasil buminya, termasuk banyak tanaman padi. Tapi karena adanya lelaki bernama Boe Ri Bungung Batu yang datang membantu masyarakat Kampung Bangkala akhirnya pasukan suku Ende yang dipimpin oleh Cambang Manggala saat itu dapat dikalahkan.

Makam keramat di Makassar dan penjaganya (Liputan6.com/Eka Hakim)

Dari seluruh wilayah di Kecamatan Manggala hanya satu daerah itu yang melakukan perlawanan dan tidak sempat dikuasai oleh suku Ende. Perlawanan Kampung Bangkala juga dibantu warga tetangga seperti dari Kampung Dampang Sero, Kampung Gallarang Bangkala, serta Kampung Tumatenea Ri Biring Tomang.

Selanjutnya masyarakat Kampung Bangkala merasa aman dan hidup damai setelah berhasil menghalau pasukan suku Ende. Namun selang waktu berjalan, Boe Ri Bungung Batu tiba tiba menghilang dan tak ada satu pun orang yang mengetahui keberadaannya.

"Namun para tokoh masyarakat kala itu meyakini kalau laki-laki tersebut (Boe Ri Bungung Batu) menjelma menjadi buaya, dan hingga saat ini keyakinan warga Bangkala memahami kalau Boe adalah salah satu keturunan dari buaya putih dari Sungai Tallo yang merupakan Kerajaan Sinri Jala Raja Buaya Putih," tutur Nana.

Hilangnya Boe diiringi munculnya sebuah pohon besar yang diberi nama pohon pucak. Di bawah pohon tersebut ada sebuah guci atau disebut gumbang oleh masyarakat sekitar.

"Konon ceritanya munculnya pohon dan guci itu hadir di tengah Kampung Bangkala bersamaan hilangnya Boe Ri Bungung Batu," kata Nana.