Sukses

Mbuletnya Kiai Rembang Membingungkan Israel

Liputan6.com, Rembang - Rembang dan NU di Jawa Tengah adalah dua gambar berbeda dalam satu keping uang logam. Menjadi wajar jika banyak guyonan atau candaan NU dan kehidupan di Rembang juga penuh hal-hal yang absurd menggembirakan.

KH Yahya Cholil Staquf (Gus Yahya), salah satu pengasuh pondok pesantren Roudlotul Tholibin yang merupakan keponakan KH Mustofa Bisri (Gus Mus) bercerita bahwa absurditas itu bahkan sempat membingungkan dunia internasional.

"Dari keluarga saya saja, kakek bernama Bisri Mustofa (Bisri bin [Zainal] Mustofa). Anak kedua kakek atau paman saya, diberi nama Mustofa (seperti nama ayah kakek saya). Ayah saya, diberi nama Kholil (seperti nama gurunya)," kata Yahya Staquf.

Jadi, nama paman atau pakliknya Gus Yahya adalah Mustofa (bin) Bisri. Sampai sekarang, nama Bisri Mustofa masih cukup sering disebut-sebut orang. Nama itu juga dijadikan nama jalan depan rumah Gus Yahya, Jnl. KH Bisri Mustofa. Jadinya KH Mustofa Bisri alamat di Jalan KH Bisri Mustofa Rembang. Ini bukan guyonan NU.

"Namun, ada generasi baru yang kurang mengenal kakek saya dan lebih mengenal paklik atau anak kakek saya, yakni Mustofa Bisri. Dari sini saja sering terjadi kerancuan antara dua nama yang saling terbalik itu," kata Gus Yahya.

Salah satunya adalah ketika Nyai Bisri Mustofa wafat. Wafatnya nenek Gus Yahya ini menimbulkan kekacauan informasi di media sosial. Banyak pengguna media sosial mengira bahwa yang meninggal adalah bulik Gus Yahya (istri Gus Mus).

"Saya sendiri tidak ngetwit, meskipun sudah punya akun. Sejumlah teman menelepon saya untuk meminta kejelasan," katanya.

KH Yahya Cholil Staquf tentu saja menjelaskan dengan gamblang, tak berani melontarkan candaan NU yang legendaris.

Simak panduan mudik ke Jateng dalam video berikut:

 

2 dari 3 halaman

Gus Mus Menulis Sejak Bayi?

Kali yang lain, datang seorang ustaz dari Malaysia. Sang ustaz itu keturunan Jawa dan sudah beberapa tahun beristikamah mengajarkan kitab tafsir karya Kiai Bisri Mustofa "Al Ibriz". Ia datang ke Rembang mencari KH Mustofa Bisri (Gus Mus) dengan maksud minta ijazah kitab tersebut demi menyempurnakan barokah.

"Oh, silakan. Sejak ditulis kitab itu memang sudah diniatkan ijazah ilmu," kata Gus Mus menyambut.

Sang Ustaz Malaysia menjadi lega karena mendapatkan izin langsung. Artinya apa yang ia kerjakan dengan kitab itu tentu lebih berkah.

"Ngomong-ngomong, kapan kitab ini selesai ditulis?" kata sang ustaz.

"Yaa… sekitar awal tahun 60-an," jawab Gus Mus.

Sang ustaz kaget bukan kepalang. Ia pandangi Gus Mus dan seakan meneliti makhluk asing yang baru ditemukan.

"Memangnya panjenengan sekarang usia berapa?" tanya sang ustaz.

"Enam puluh atau enam puluh satu," jawab Gus Mus.

"Waduh. Waktu nulis Al Ibriz itu panjenengan usia berapa?" tanya sang ustaz.

Gus Mus tak menjawab namun malah tertawa terbahak-bahak. Lalu menjelaskan kekeliruan yang menganggap Mustofa Bisri sebagai Bisri Mustofa.

 

3 dari 3 halaman

Ruwetnya Bisri

Cerita yang lebih ruwet masih ada, yakni ketika dikaruniai anak lelaki satu-satunya, KH Mustofa Bisri memberinya nama Bisri. Sehingga jika ditulis secara runtut menjadi Bisri (bin) Mustofa bin Mustofa (bin) Bisri bin Bisri (bin) Mustofa.

"Bingung?" kata Gus Yahya.

Saat diajak berziarah ke Palestina, Bisri yang merupakan putra bungsu KH Mustofa Bisri itu sempat ditahan berjam-jam di pos imigrasi Israel. Ia diperiksa dengan seksama dan harus minta bantuan ke mana-mana untuk membebaskannya.

Setelah lolos baru disadari bahwa otoritas imigrasi Israel ternyata bingung membaca data identitas di paspornya:

Nama : Bisri Mustofa bin Mustofa Bisri

Alamat: Jalan KH Bisri Mustofa

"Saya bayangkan, petugas imigrasi Israel pasti berpikir 'Ini beneran atau guyon?'" kata Gus Yahya.

Loading