Liputan6.com, Jakarta - Ayat Al-Quran tentang rezeki yang halal dan berkah menjadi konsep penting dalam kehidupan ekonomi umat Islam. Rezeki dalam perspekti Al-Qur'an tidak semata dipahami sebagai harta atau kekayaan materi, melainkan mencakup segala bentuk nikmat yang diberikan Allah, baik yang bersifat fisik maupun non-fisik.
Pemahaman yang benar tentang rezeki akan memberikan dampak baik bagi pribadi maupun masyarakat, sementara pemahaman yang keliru dapat menjerumuskan seseorang pada materialisme yang berlebihan. Di sisi lain, Al-Qur'an secara tegas memerintahkan umat manusia untuk mengonsumsi rezeki yang halal dan baik (halalan thayyiban), serta melarang mengikuti langkah-langkah setan yang menyesatkan.
Merangkum berbagai literatur klasik dan studi kontemporer, berikut ini adalah ayat tentang rezeki halal dan berkah, penjelasan para ulama dari berbagai kitab tafsir, serta hikmahnya bagi umat Islam.
Advertisement
Ayat-Ayat Al-Qur'an tentang Rezeki yang Halal dan Berkah
1. QS. Al-Baqarah [2]: 168
Arab: يَٰٓأَيُّهَا ٱلنَّاسُ كُلُوا۟ مِمَّا فِى ٱلْأَرْضِ حَلَٰلًۭا طَيِّبًۭا ۖ وَلَا تَتَّبِعُوا۟ خُطُوَٰتِ ٱلشَّيْطَٰنِ ۚ إِنَّهُۥ لَكُمْ عَدُوٌّۭ مُّبِينٌۭ
Latin: Yā ayyuhan-nāsu kulū mimmā fil-arḍi ḥalālan ṭayyibaw wa lā tattabi‘ū khuthuwātisy-syayṭān, innahū lakum ‘aduwwum mubīn.
Artinya: "Wahai manusia! Makanlah dari (makanan) yang halal dan baik yang terdapat di bumi, dan janganlah kamu mengikuti langkah-langkah setan. Sungguh, setan itu musuh yang nyata bagimu."
Ayat ini merupakan seruan kepada seluruh manusia agar mengonsumsi apa yang ada di bumi secara halal dan baik, serta larangan mengikuti langkah-langkah setan. Ayat ini menekankan bahwa rezeki bukan hanya perkara materi, tetapi juga terkait dengan etika dan kemurnian jiwa.
Ibnu Katsir dalam Tafsir Al-Qur'an Al-'Adzim menafsirkan bahwa maksud ayat ini adalah Allah membolehkan makhluk-Nya mengonsumsi apa saja yang terdapat di bumi selama dalam kondisi halal dan thayyib, yaitu makanan yang dinilai baik dan tidak membahayakan fisik dan akal.
Imam Al-Alusi Al-Baghdadi dalam Ruhul Ma'ani menyebutkan bahwa ayat ini turun untuk kaum musyrikin yang mengharamkan untuk diri mereka sendiri makanan-makanan tertentu seperti bahirah, sa'ibah, wasilah, dan ham—sesuatu yang tidak pernah diharamkan oleh Allah.
Tafsir Kementerian Agama RI menerangkan bahwa ayat ini turun terkait dengan kaum Bani Saqif, Bani Amir bin Sa'sa'ah, Khuza'ah, dan Bani Mudli yang telah mengharamkan makanan-makanan berdasarkan kemauan mereka sendiri, padahal Allah tidak mengharamkannya.
2. QS. Al-Maidah [5]: 88
Arab: وَكُلُوا۟ مِمَّا رَزَقَكُمُ ٱللَّهُ حَلَٰلًۭا طَيِّبًۭا ۚ وَٱتَّقُوا۟ ٱللَّهَ ٱلَّذِىٓ أَنتُم بِهِۦ مُؤْمِنُونَ
Latin: Wa kulū mimmā razaqakumullāhu ḥalālan ṭayyibā, wattaqullāhal-lażī antum bihī mu'minūn.
Artinya: "Dan makanlah makanan yang halal lagi baik dari apa yang Allah telah rezekikan kepadamu, dan bertakwalah kepada Allah yang kamu beriman kepada-Nya."
Imam Al-Baghawi dalam Tafsir Al-Baghawi menegaskan bahwa perintah memakan yang halal akan menambahkan cahaya pada hati serta melembutkannya, dan akan menimbulkan kegentaran serta kekhusyukan dalam beribadah.
Ahmad Mustafa Al-Maraghi dalam Tafsir Al-Maraghi menginterpretasikan bahwa makanan halal dan thayyib terdiri dari berbagai makanan yang bergizi, sehat, aman, dan bermanfaat.
3. QS. An-Nahl [16]: 114
Arab: فَكُلُوا۟ مِمَّا رَزَقَكُمُ ٱللَّهُ حَلَٰلًۭا طَيِّبًۭا وَٱشْكُرُوا۟ نِعْمَتَ ٱللَّهِ إِن كُنتُمْ إِيَّاهُ تَعْبُدُونَ
Latin: Fa kulū mimmā razaqakumullāhu ḥalālan ṭayyibā, wasykurū ni'matallāhi ing kuntum iyyāhu ta'budūn.
Artinya: "Maka makanlah yang halal lagi baik dari rezeki yang telah diberikan Allah kepadamu; dan syukurilah nikmat Allah, jika kamu hanya kepada-Nya saja menyembah."
Tafsir Jalalayn (Jalaluddin Al-Mahalli dan Jalaluddin As-Suyuthi) menjelaskan bahwa Allah menyuruh kaum Muslimin untuk memakan makanan yang halal dan baik dari rezeki yang diberikan Allah kepada mereka.
M. Quraish Shihab dalam Tafsir Al-Misbah menafsirkan bahwa ayat ini memerintahkan orang-orang yang beriman untuk memilih jalan bersyukur dengan memakan segala yang dikaruniakan Allah berupa rezeki yang halal dan baik, serta tidak mengharamkan sesuatu yang halal bagi diri mereka.
4. QS. Al-Mu'minun [23]: 51
Arab: يَٰٓأَيُّهَا ٱلرُّسُلُ كُلُوا۟ مِنَ ٱلطَّيِّبَٰتِ وَٱعْمَلُوا۟ صَٰلِحًا ۖ إِنِّى بِمَا تَعْمَلُونَ عَلِيمٌۭ
Latin: Yā ayyuhar-rusulu kulū minaṭ-ṭayyibāti wa'malū ṣāliḥā, innī bimā ta'malūna 'alīm.
Artinya: "Wahai para rasul! Makanlah dari makanan yang baik-baik, dan kerjakanlah amal yang saleh. Sungguh, Aku Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan."
Ayat ini memerintahkan para rasul—dan secara implisit umatnya—untuk memakan rezeki yang halal lagi baik serta mengerjakan amal saleh.
5. QS. Al-Mulk [67]: 15
Arab: هُوَ ٱلَّذِى جَعَلَ لَكُمُ ٱلْأَرْضَ ذَلُولًۭا فَٱمْشُوا۟ فِى مَنَاكِبِهَا وَكُلُوا۟ مِن رِّزْقِهِۦ ۖ وَإِلَيْهِ ٱلنُّشُورُ
Latin: Huwal-lażī ja'ala lakumul-arḍa żalūlan famsyū fī manākibihā wa kulū min rizqihī wa ilaihin-nusyūr.
Artinya: "Dialah yang menjadikan bumi untuk kamu yang mudah dijelajahi, maka jelajahilah di segala penjurunya dan makanlah sebagian dari rezeki-Nya. Dan hanya kepada-Nyalah kamu (kembali setelah) dibangkitkan."
Ayat ini menegaskan bahwa Allah telah memudahkan bumi untuk dijelajahi manusia dalam rangka mencari rezeki, dan semua yang diperoleh adalah dari rezeki-Nya.
Hikmah Memahami Ayat-Ayat Al-Qur'an tentang Rezeki yang Halal dan Berkah
1. Mewujudkan Kehidupan yang Diridhai Allah
Memahami dan mengamalkan ayat-ayat tentang rezeki halal membawa seorang Muslim pada kehidupan yang diridhai Allah. Rezeki yang halal menjadi tanda hidup bahagia dan berkah, serta menjadikan segala urusan menjadi mudah dan keluarga penuh sakinah.
2. Menjaga Kesucian Jasmani dan Rohani
Makanan yang halal dan baik (halalan thayyiban) akan masuk ke dalam tubuh dan menjadi daging, sehingga penting untuk menjaga tubuh dari hal-hal yang haram. Rezeki halal akan menambahkan cahaya pada hati serta melembutkannya, serta menimbulkan kegentaran dan kekhusyukan dalam beribadah.
3. Mendapatkan Keberkahan dalam Setiap Aspek Kehidupan
Rezeki yang berkah adalah rezeki yang memberi manfaat bagi pemiliknya dan orang lain, baik ketika hidup di dunia maupun di akhirat. Keberkahan tidak semata-mata ditentukan oleh jumlahnya, melainkan pada cara memperoleh dan menggunakannya.
4. Menghindarkan Diri dari Sikap Materialisme Berlebihan
Pemahaman yang benar tentang rezeki akan menjauhkan seseorang dari jurang materialisme atau segala sesuatu yang diukur hanya dengan kasat mata. Rezeki tidak hanya dalam bentuk materi; kepuasan hati, kesehatan, dan ketenangan jiwa adalah kekayaan yang tidak pernah habis.
5. Mewujudkan Keadilan dan Tanggung Jawab Sosial
Rezeki yang diperoleh mengandung tanggung jawab sosial. Dalam harta seseorang terdapat hak bagi orang miskin dan yang membutuhkan. Berbagi rezeki dengan sesama melalui zakat, sedekah, dan infak menciptakan sistem yang saling mendukung di antara umat.
Pertanyaan Seputar Rezeki Halal
1. Apa yang dimaksud dengan rezeki halal dan berkah dalam Al-Qur'an?
Rezeki halal adalah segala sesuatu yang diperbolehkan oleh syariat, baik dari segi zatnya maupun cara memperolehnya. Sedangkan rezeki berkah adalah rezeki yang memberi manfaat bagi pemiliknya dan orang lain, baik di dunia maupun di akhirat. Dalam Al-Qur'an, rezeki halal dan berkah sering disebut dengan istilah halalan thayyiban (halal lagi baik) sebagaimana dalam QS. Al-Baqarah [2]: 168, QS. Al-Maidah [5]: 88, dan QS. An-Nahl [16]: 114.
2. Apa perbedaan antara rezeki halal dan rezeki haram menurut para ulama?
Menurut az-Zamakhsyari dalam Tafsir Al-Kasyaf, rezeki diisyaratkan cara memilikinya harus dengan sah; apa yang tidak boleh dimiliki tidak disebut dengan rezeki. Sedangkan menurut Ibnu Katsir, rezeki digunakan untuk menunjukkan dan diambil manfaatnya, baik yang halal maupun yang haram—namun mayoritas ulama menekankan bahwa rezeki yang hakiki adalah yang halal. Al-Qur'an menggunakan kalimat rizgan hasanan (rezeki yang baik) sebagai isyarat bahwa rezeki juga ada yang tidak baik (haram).
3. Apa saja syarat makanan disebut halal dan thayyib menurut para ulama?
Dalam kitab Ma'ayirul Halal wal Haram, Kiai Ali Mustafa Yaqub menjelaskan tiga pendapat ulama: (1) makanan disebut thayyib jika tidak membahayakan fisik dan akal (pendapat Ibnu Katsir); (2) makanan disebut thayyib jika mengundang selera (pendapat Imam Syafi'i); (3) makanan disebut thayyib jika halal, tidak najis, dan tidak diharamkan (pendapat Imam Malik dan Imam Ath-Thabari).
4. Bagaimana cara mendapatkan rezeki yang berkah menurut Al-Qur'an dan Hadits?
Rezeki yang berkah dapat diperoleh melalui: (1) usaha dan kerja keras dengan cara yang halal, sebagaimana QS. Al-Mulk [67]: 15; (2) bertakwa kepada Allah, sebagaimana QS. At-Thalaq [65]: 2-3 yang menjanjikan jalan keluar dan rezeki dari arah tidak disangka; (3) bersyukur atas nikmat Allah, sebagaimana QS. An-Nahl [16]: 114; (4) beristighfar dan bertaubat; (5) bersedekah dan berinfak; serta (6) menikah dan memiliki keturunan yang saleh.
5. Apakah rezeki hanya berupa harta benda?
Tidak. Menurut Wahbah Az-Zuhaili dalam Tafsir Al-Munir, rezeki dibagi menjadi dua, yaitu materi dan non-materi. Rezeki materi ialah hasil jerih payah manusia dalam bekerja, sedangkan rezeki non-materi ialah ketika orang-orang beriman melakukan kebajikan, melaksanakan perintah-Nya serta menjauhi larangan-Nya, yang akan dihadiahkan rezeki terbesar yaitu surga. Selain itu, anak, kesehatan, pendengaran, penglihatan, ilmu pengetahuan, dan ketenangan hati juga termasuk rezeki.
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4160798/original/079359000_1663319947-1.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9296249/original/006576900_1784009127-Cek_Fakta_Tidak_Benar_Ini_Link_Pendaftaran_-_2026-07-14T124739.847.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5253327/original/062598000_1750044459-cek_fakta_dubes_jepang.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9325714/original/050754000_1786927542-Cek_Fakta_Tidak_Benar_Ini_Link_Pendaftaran_-_2026-08-17T074440.081.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/3133009/original/069410900_1589908304-3482876.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9326301/original/037720100_1786976523-1001567317.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9326254/original/004933700_1786970642-1001565146.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/7768348/original/067053900_1780579165-20260604BL_OT_Timnas_Indonesia_Jelang_Vs_Oman_FIFA_Matchday_2026_8.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5451600/original/031882500_1766313406-WhatsApp_Image_2025-12-21_at_16.57.50.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9318236/original/054661100_1786089464-20260806_Budy_Santoso_Persib_vs_Persebaya_Final_Piala_Presiden_14.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9312566/original/039424900_1785509838-timnas_indonesia.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9326232/original/085877300_1786968196-abe7bf27-220c-4e96-bfc7-34514cbbcf96.jpeg.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4766225/original/046556200_1709881475-masjid-pogung-raya-LhNePx4kde0-unsplash.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5425990/original/034286100_1764245190-20251126AA_PMPC_Persija_Vs_PSIM-18.jpg)