PDIP Ingatkan Kader Tak Pakai Politik Pecah Belah

Hasto mengingatkan kepada para kader PDIP untuk mengedepankan adu program dalam kampanye Pemilu Serentak 2019.

Diterbitkan 27 November 2018, 05:11 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - PDI Perjuangan (PDIP) menyusuri selatan Jawa dalam safari politik kebangsaan selama tiga hari. Sekretaris Jenderal PDIP Hasto Kristiyanto menegaskan, safari ini untuk menggugah semangat kader, terutama berpesan agar merekatkan persatuan dari politik pecah belah.

"Melalui semangat kebangsaan, ada kepentingan nasional, saatnya merekatkan Indonesia yang beragam jangan dirusak dengan politik yang memecah belah," kata Hasto di Kota Sleman, Yogyakarta, Senin (26/11/2018).

Hasto mengingatkan kepada para kader PDIP untuk mengedepankan adu program dalam kampanye Pemilu Serentak 2019.

"Kita ingin mendorong semua bersatu, bersama. Kita ingatkan caleg promosikan program partai, laut halaman depan NKRI, yang diperjuangkan program partai," ucap dia.

Sekretaris Tim Kampanye Nasional Jokowi-Ma'ruf itu mengingatkan ucapan Presiden Joko Widodo. Dalam sisa kampanye ini harus menjaga kerukunan dan persatuan.

"Joko Widodo ingatkan waktu kampanye masih panjang. Kalau ada yang jadi kompor politik, lebih baik agar kompor digunakan buat kopi, digunakan untuk memasak makanan tradisional," ucap Sekjen PDIP ini.

Saksikan video pilihan di bawah ini:

Pilpres Sejuk

Safari kebangsaan ini, kata Hasto, mengilhami bahwa infrastruktur menjadi kebutuhan daerah. Seperti di Jawa Barat perlu membangun jalan untuk akses pariwisata.

"Infrastruktur untuk SDM, kunci adalah manusianya, yang dilakukan pada periode yang kedua, pemerintahan Joko Widodo," kata Hasto.

Ketua DPP PDIP Djarot Saiful Hidayat menemani Hasto selama safari kebangsaan ini. Djarot memetik pesan penting selama perjalanan di pulau Jawa ini.

"Kita adalah satu bangsa. Satu kesatuan, mari kita buat Pilpres 2019 suasana lebih sejuk. Ayo terus ingat, kita itu satu bangsa. Jangan saling menistakan, beda pilihan biasa," kata Djarot.

 

Reporter: Ahda Bayhaqi

Sumber: Merdeka.com