Jangan Sepelekan Macet, Ini Efeknya ke Performa Mobil

Kebiasaan berkendara dalam kemacetan berpotensi memicu berbagai masalah pada kendaraan jika dibiarkan terus-menerus

Diterbitkan 05 Juli 2026, 06:51 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Kemacetan lalu lintas di kota-kota besar seperti Jakarta sudah menjadi bagian dari rutinitas harian para pengendara. Namun di balik antrean kendaraan yang tak bergerak tersebut, ada ancaman serius yang kerap tidak disadari: kerusakan komponen mobil akibat kondisi stop-and-go yang berkepanjangan.

Tak hanya menguras waktu dan emosi, macet juga membuat mesin bekerja lebih keras dari kondisi normal.

Bahkan, menurut berbagai sumber termasuk laman resmi Toyota, kebiasaan berkendara dalam kemacetan berpotensi memicu berbagai masalah pada kendaraan jika dibiarkan terus-menerus.

Berikut ini empat dampak utama kemacetan terhadap mobil yang perlu diwaspadai:

1. Risiko Overheat pada Mesin Meningkat

Saat terjebak macet, mesin mobil tetap menyala namun kendaraan tidak mendapatkan aliran udara segar secara optimal. Dalam kondisi normal, udara dari depan membantu mendinginkan radiator ketika mobil melaju.

Namun saat berhenti total atau merayap, sistem pendingin sepenuhnya bergantung pada kipas radiator listrik (extra fan).

Jika kinerja sistem pendingin tidak maksimal, suhu mesin dapat meningkat dengan cepat dan berujung pada overheat.

Kondisi ini semakin parah ketika jalanan panas dan mobil dipaksa bekerja dalam waktu lama tanpa jeda.

Untuk pencegahan, pastikan sistem pendingin seperti radiator, selang, kipas, dan cairan coolant selalu dalam kondisi baik dan tidak berkurang.

2. Konsumsi BBM dan Oli Jadi Lebih Boros

Kemacetan membuat mesin bekerja dalam kondisi idle (menyala tanpa bergerak) dan sering melakukan akselerasi pendek secara berulang.

Pola ini membuat konsumsi bahan bakar meningkat drastis dibandingkan saat mobil melaju stabil di jalan bebas hambatan.

Tidak hanya bensin, oli mesin juga ikut terdampak. Oli bekerja lebih keras untuk melumasi komponen mesin yang terus aktif, sehingga volumenya bisa lebih cepat berkurang karena suhu mesin yang lebih tinggi.

Jika diabaikan, kondisi ini dapat menjadi sinyal awal adanya masalah pada sistem pelumasan mesin.

 

3. Kampas Rem dan Kopling Lebih Cepat Aus

Saat terjebak macet, pengemudi cenderung lebih sering menginjak pedal rem untuk menjaga jarak aman. Aktivitas ini menyebabkan kampas rem bekerja lebih intens dibandingkan kondisi normal.

Bagi mobil bertransmisi manual, penggunaan setengah kopling dalam kondisi merayap juga mempercepat keausan kampas kopling akibat gesekan terus-menerus.

Jika dibiarkan, komponen fast moving ini bisa lebih cepat habis dan membutuhkan penggantian lebih dini dari seharusnya.

4. Performa Mesin Menurun Akibat Stop-and-Go

Kondisi stop-and-go yang terus berulang membuat mesin bekerja tidak stabil.

Akselerasi pendek yang sering dilakukan membutuhkan suplai bahan bakar lebih besar, sehingga efisiensi mesin menurun.

Dalam jangka panjang, kebiasaan ini dapat membuat performa kendaraan terasa lebih berat, respons gas kurang optimal, hingga meningkatkan risiko keausan komponen mesin.