Sapi Kurban (dari) Presiden

Sapi yang diberikan presiden bukanlah sapi biasa, tapi sapi premium dengan bobot 800 kg sampai 1,3 ton.

Diterbitkan 27 Mei 2026, 20:56 WIB
Share
Copy Link
Batalkan
Berdasarkan opini dari:
Penulis, Pengusaha, dan Aktivis

 

Liputan6.com, Jakarta - Tahun ini, Presiden Prabowo menyalurkan 1.098 ekor sapi kurban ke seluruh Indonesia. Ini bukan ibadah personal, ini adalah kepedulian seorang kepala negara untuk rakyat kecil di setiap pelosok negerinya. Di negeri dengan populasi mayoritas muslim terbesar di dunia, kebahagiaan Idul Adha tidak boleh dirasakan segelintir orang saja, bukan?

Saya ingin memulai catatan sederhana ini dari ingatan masa kecil. Setiap Idul Adha tiba, ayah saya pulang dari masjid membawa plastik kecil berisi daging kurban. Saya selalu bahagia mengenang momen itu. Ada sesuatu yang berbeda di hari itu—rasa yang tidak bisa diukur dengan alat timbangan panitia kurban manapun.

Setiap tahun, ibu selalu punya cara memasak daging kurban secara berbeda. Aromanya menggugah selera. Di hari istimewa itu, para tetangga berkumpul, anak-anak berlarian, aroma sate dan rendang memenuhi udara kampung kami. Untuk satu hari saja dalam setahun, semua orang di kampung kami merasa jadi orang kaya.

Mengenang momen-momen itu, ada satu pertanyaan yang sering saya renungkan: Di Hari Raya Idul Adha, berapa banyak anak-anak di pelosok Indonesia yang merasakan kegembiraan yang sama?

Saya kira jutaan. Bahkan mungkin puluhan juta jumlahnya.

Dan dari titik inilah, saya kira percakapan tentang 1.098 sapi Presiden Prabowo harus dimulai. Bukan dari analisis redaksi media, bukan dari debat APBN, bukan dari komentar pengamat politik, tetapi dari rumah-rumah kecil di kampung yang menanti hari istimewa itu tiba dan mengepulkan asap sate di halaman rumahnya—melukis senyum di wajah anak-anak.

Berbeda dari presiden-presiden sebelumnya, mengapa Presiden Prabowo menyalurkan bantuan masyarakat dalam bentuk hewan kurban dalam jumlah yang banyak? Mengapa pakai uang negara? Mari kita urai percakapan ini pelan-pelan.

Pertama, kita perlu adil melihat bahwa 1.098 sapi yang disumbangkan Presiden di Hari Raya Kurban bukanlah ibadah pribadi. Ini adalah bantuan Presiden untuk masyarakat (banpres) dalam bentuk hewan kurban. Tujuannya untuk inklusi kurban dan memberi kebahagiaan kepada sebanyak mungkin rakyat Indonesia di hari yang istimewa. Negara sedang hadir untuk memberi contoh, inspirasi dan kepedulian. Ini cara seorang kepala negara berkata kepada rakyatnya, "Aku tahu hari ini istimewa untukmu. Aku ingin kamu bergembira."

Kedua, faktanya Presiden Indonesia membagikan sapi kurban untuk rakyat bukanlah fenomena baru. Presiden Jokowi melakukannya empat tahun terakhir lewat pos anggaran yang persis sama, yakni Banpres, dengan jumlah satu sapi per provinsi.

Presiden Prabowo memang berbeda. Ia melihat 1 sapi per provinsi tidaklah cukup, bantuan sapi kurban dari Presiden seharusnya merata ke setiap kota agar lebih banyak rakyat ikut merasakan kegembiraannya. Maka tahun 2025 lalu, Presiden Prabowo menyumbang 985 ekor sapi, dan tahun ini ditambah menjadi 1.098 ekor—termasuk untuk ke pesantren-pesantren. Angka ini bukan untuk gagah-gagahan, tapi sebuah komitmen: jangan ada satu pun kota di Indonesia yang merasa ditinggalkan. Jangan sampai pesantren merasa presiden tidak memikirkan mereka.

Ketiga, mungkin ada yang bertanya bukankah Rp 100 miliar terlalu besar untuk bantuan hewan kurban? Jawaban untuk pertanyaan ini sebenarnya bergantung pada bagaimana cara kita melihat. Angka Rp 100 miliar dari ribuan triliun APBN kita sebenarnya bukanlah angka yang besar. Untuk satu negara muslim terbesar di dunia seperti Indonesia, Rp 100 miliar dipakai untuk kegembiraan kurban adalah sebuah ekspresi kehormatan dan kebanggaan.

Bukan Sapi Biasa

Sapi yang diberikan presiden bukanlah sapi biasa, tapi sapi premium dengan bobot 800 kg sampai 1,3 ton, dari ras unggul seperti Simmental, Limousin, Belgian Blue, dan Charolais. Sapi-sapi ini dibeli dari para peternak lokal di berbagai kota, sehingga dana ini sekaligus menggerakkan ekonomi mereka. Para peternak bahagia sapi-sapinya dibeli negara dan disalurkan untuk bantuan hewan kurban.

Terlepas dari semua itu, sekarang mari berhenti sejenak dan bayangkan sesuatu yang lebih sederhana: Di sebuah pesantren kecil di Sulawesi Tengah, santri-santrinya adalah anak-anak yang dititipkan keluarga karena kesulitan ekonomi. Mereka jarang sekali makan daging sapi. Mungkin beberapa kali saja dalam setahun.

Pada Idul Adha tahun ini, pesantren mereka menerima bantuan sapi kurban dari Presiden. Sapi itu disembelih dengan benar sesuai fiqh, dimasak bersama di dapur pondok, dimakan bersama di asrama. Di kepala santri-santri itu mungkin muncul satu pemikiran kecil, "Ternyata kami tidak terlupakan. Untung lebaran ini ada sapi dari presiden!"

Itulah pesan yang sebenarnya sedang dikirim. Banpres hewan kurban bukan semata tentang jumlahnya, anggarannya, atau kalkulasi para ahli di timeline media sosial. Ini adalah bentuk ucapan selamat hari raya dari negara kepada warganya yang paling sunyi.

Hari ini, ketika sebagian kecil masyarakat di media sosial memperdebatkan jumlah banpres hewan kurban yang diberikan presiden, sebagian besar masyarakat di kampung-kampung berkumpul di masjid setelah shalat Idul Adha. Mereka antusias melihat "sapi raksasa" yang dikirim Presiden, tak sabar menunggu dagingnya dibagikan. Ada kegembiraan di sana. Ada hati yang tersapa diam-diam.

Jika di antara mereka ada yang bilang, "Ini sapi Prabowo!" atau "Ini dari Prabowo!", itu adalah ekspresi polos kebahagiaan rakyat. Rakyat yang mencintai pemimpinnya dan merasa cintanya terbalas. Jangan salahkan bahasa rakyat yang mengatakan sapi itu kurbannya presiden. Mereka mungkin tak punya cukup kosa kata untuk mengekspresikan secara lengkap bahwa sapi itu adalah "banpres hewan kurban dari Presiden".

Idul Adha kali ini Presiden sedang di Perancis untuk kunjungan kenegaraan penting yang sudah terjadwal. Di momen hari raya, Presiden bersama rombongan melaksanakan shalat Ied di Wisma KBRI Paris.

Inilah yang menyentuh. Fisik Presiden ada di Eropa, tapi sapi-sapinya sudah berangkat ke berbagai penjuru kota di Indonesia. Sebagian besar sudah tiba di kandang-kandang masjid kampung di seluruh Nusantara dan siap dipotong sesuai syariat. Ini adalah bukti bahwa rakyat selalu hadir dalam pikiran dan di hati Presiden—bahkan ketika tubuhnya jauh, ketika urusan negara menyita waktunya di belahan dunia yang lain.

Idul Adha datang sekali setahun. Sebagian dari kita merayakannya biasa-biasa saja, karena daging sapi sudah akrab di rumah dan meja makan sehari-hari. Tetapi di banyak tempat di Indonesia, di kampung-kampung yang jauh, di pesantren yang tak terlihat, hari raya ini adalah momen yang dinanti. Mereka layak mendapatkan kegembiraan itu. Dan negara, untuk satu hari saja dalam setahun, layak hadir di dapur-dapur mereka. Itulah filosofi 1.098 sapi kurban (dari) presiden.

Saya ingat masa kecil saya. Bersama teman-teman menonton hewan-hewan kurban yang berbaris dan siap dipotong. Mata kami berbinar. Seorang teman bertanya, "Tadi punya siapa yang gede?" Jawab saya, "Punya Pak Haji!"

Mungkin ada anak-anak seperti itu juga hari ini, yang takjub dengan sapi berbobot lebih dari 1 ton di masjid kabupaten atau di halaman pesantren. Anak itu bertanya pada temannya, "Itu sapi punya siapa?" Temannya menjawab sambil menaikkan kedua bahunya, "Katanya dari Presiden." Bisiknya.

Selamat Hari Raya Idul Adha. Selamat berbahagia.