Resep Warisan Nenek yang Mengubah PHK Jadi Harapan

Aroma kacang sangrai dan sayuran segar menjadi penanda bahwa warisan kuliner keluarga itu masih terus hidup, meski sempat nyaris berhenti selama hampir satu dekade.

Diterbitkan 29 Juni 2026, 06:39 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Di tengah menjamurnya kuliner kekinian, makanan khas Betawi tetap memiliki penggemarnya sendiri. Salah satunya adalah sepiring gado-gado dengan bumbu kacang kental yang masih diracik menggunakan resep turun-temurun sejak era 1980-an.

Di sebuah kios sederhana di kawasan Ciracas, Jakarta Timur, pasangan suami istri Babah Fina dan Ummi Labib setiap hari meracik bumbu yang resepnya diwariskan sang nenek. Aroma kacang sangrai dan sayuran segar menjadi penanda bahwa warisan kuliner keluarga itu masih terus hidup, meski sempat nyaris berhenti selama hampir satu dekade.

Tak banyak yang tahu, di balik ramainya pelanggan yang datang hari ini, usaha Gado-Gado Plus pernah vakum bertahun-tahun. Titik baliknya datang ketika Babah Fina terkena pemutusan hubungan kerja (PHK) pada 2019.

Kondisi itu membuat pasangan tersebut harus memikirkan kembali cara menghidupi keluarga.

"Waktu suami kena PHK pada 2019, kami sempat berpikir mau usaha apa. Karena keluarga memang punya pengalaman jualan gado-gado sejak zaman nenek, akhirnya kami memutuskan untuk mencoba meneruskan usaha tersebut," kenang Ummi Labib saat ditemui di kiosnya.

Keputusan itu membawa mereka kembali pada resep keluarga yang telah diwariskan sejak 1980. Meski kini dikelola generasi ketiga, cara mengolah bumbu dan memilih bahan baku tetap dipertahankan agar cita rasa khas Betawi tidak berubah.

Bagi Ummi, usaha ini bukan sekadar bisnis. Ada banyak kenangan yang ikut tumbuh bersama sepiring gado-gado. Sejak kecil ia terbiasa membantu sang nenek menyiapkan pesanan pelanggan, mulai saat masih berjualan di Jakarta Selatan hingga akhirnya pindah ke Jakarta Timur.

Salah satu resep yang tidak pernah berubah adalah racikan bumbu kacangnya.

"Yang unik dari kita ya bumbu kacangnya. Kita campur kacang tanah dan kacang mede. Campuran ini membuat tekstur bumbu menjadi kental dan gurih. Pelanggan banyak yang suka," ujarnya.

Pada awalnya, pelanggan Gado-Gado Plus hanya berasal dari sekitar lokasi karena seluruh penjualan dilakukan secara langsung di kios. Namun, seperti banyak usaha mikro lainnya, ada masa ketika pembeli mulai berkurang.

Situasi itu mendorong Babah Fina dan Ummi mencoba memanfaatkan platform digital. Pada 2020, mereka bergabung dengan  ShopeeFood dan mulai mempelajari berbagai fitur yang tersedia.

Menurut Ummi, proses adaptasi tidak memakan waktu lama. Perlahan, pelanggan yang sempat hilang kembali berdatangan, bahkan berasal dari berbagai wilayah yang sebelumnya tidak pernah mereka jangkau.

"Setelah masuk ke platform online, orang kembali mengenal Gado-Gado Plus. Pesanan mulai datang dari berbagai daerah yang sebelumnya tidak pernah kami jangkau," katanya.

Mereka kemudian memanfaatkan berbagai fitur dan program-promosi untuk memperluas jangkauan pelanggan. Konsistensi menjaga kualitas makanan dan pelayanan juga mengantarkan Gado-Gado Plus meraih predikat Star.

Kini, sekitar 80 persen penjualan berasal dari kanal daring. Dalam sehari, ratusan porsi gado-gado dikirim kepada pelanggannya melalui kanal daring.

 

Bangkit dari Keterpurukan

Bagi Babah Fina, menghidupkan kembali usaha keluarga bukan hanya soal mempertahankan resep lama, tetapi juga tentang bangkit setelah kehilangan pekerjaan.

Di tengah persaingan kuliner yang semakin ketat, ia memilih memadukan warisan keluarga dengan teknologi agar usaha kecilnya tetap bertahan.

"Saya mencoba bangkit dari keterpurukan setelah badai PHK dengan mengandalkan resep turun-temurun keluarga yang sudah ada sejak puluhan tahun lalu. Saya percaya setiap tantangan selalu memiliki jalan keluar," ujarnya.

Perjalanan Gado-Gado Plus menunjukkan bahwa resep warisan puluhan tahun tak harus kalah oleh tren kuliner modern. Dengan menjaga cita rasa, beradaptasi dengan teknologi, dan konsisten melayani pelanggan, usaha keluarga ini berhasil menemukan napas baru sekaligus membuktikan bahwa kuliner legendaris Betawi masih memiliki tempat di hati masyarakat.