Urban Farming Jadi Model CSR Berkelanjutan di Kawasan Industri Bekasi

Pemkab Bekasi mendorong Urban Farming sebagai model CSR berkelanjutan di kawasan industri dan perkotaan.

Diterbitkan 18 Desember 2025, 17:30 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Bekasi, Jawa Barat, mengapresiasi program tanggung jawab sosial dan lingkungan perusahaan (CSR) PT Lippo Cikarang Tbk. yang mengusung konsep Urban Farming. Program ini dinilai menjadi contoh konkret kolaborasi sektor swasta dalam mendukung pembangunan berkelanjutan di kawasan perkotaan dan industri.

Sekretaris Bappeda Kabupaten Bekasi Didik Setiadi mengatakan, konsep Urban Farming yang dijalankan di kawasan Lippo Cikarang Cosmopolis diharapkan dapat direplikasi oleh perusahaan lain.

“Urban farming ini diharapkan bisa menjadi contoh bagi kawasan-kawasan industri maupun perusahaan lain sebagai salah satu wujud komitmen menyalurkan CSR,” kata Didik dikutip dari keterangan tertulis, Kamis (18/12/2025). 

Menurut dia, Kabupaten Bekasi masih memiliki banyak lahan tidur yang berpotensi dimanfaatkan sebagai ruang terbuka hijau sekaligus mendukung Asta Cita Presiden Prabowo Subianto, khususnya di sektor ketahanan pangan. Urban Farming dinilai menjadi solusi strategis untuk menjawab tantangan lingkungan dan pangan di wilayah dengan aktivitas industri tinggi.

Selain itu, program CSR ini juga mampu menggerakkan perekonomian masyarakat sekitar melalui pemberdayaan warga dalam penanaman berbagai komoditas pangan, mulai dari sayuran, buah-buahan, hingga cabai. Urban Farming tidak hanya berdampak ekologis, tetapi juga memberi nilai tambah ekonomi secara berkelanjutan.

 

Punya Prospek Ekonomi

Didik menjelaskan, Urban Farming tidak terbatas pada pemanfaatan rooftop atau dinding bangunan. Konsep ini juga dapat diterapkan di pekarangan rumah hingga sempadan sungai.

“Jadi urban farming tidak hanya dapat dilakukan pada lahan-lahan tertentu seperti rooftop, dinding tapi juga di pekarangan maupun sempadan sungai,” katanya.

Jika dikelola secara berkelanjutan dan memiliki prospek ekonomi yang baik, hasil Urban Farming bahkan bisa dipasarkan dalam skala besar untuk memenuhi kebutuhan masyarakat sekitar. Hal ini dinilai mampu mendorong peningkatan kesejahteraan warga.

Pemkab Bekasi pun berkomitmen mendorong perusahaan swasta menjalankan program CSR yang berkelanjutan, termasuk Urban Farming, karena dampaknya yang luas. Mulai dari peningkatan kualitas udara, pencegahan banjir, pengurangan sampah, hingga penguatan ketahanan pangan dan produktivitas ekonomi.

Ke depan, Pemkab Bekasi berharap program serupa tidak hanya berjalan di Lippo Cikarang, tetapi juga di kawasan industri lainnya. Lahan bekas penertiban bangunan liar pun diarahkan menjadi ruang terbuka hijau produktif dengan tanaman pangan dan pohon buah.

 

Menduplikasi di Lokasi Lain

COO PT Lippo Cikarang Tbk. Lukas Budi Setiawan menegaskan, seluruh program CSR perusahaan dijalankan secara berkelanjutan melalui kerangka Lippo untuk Indonesia PASTI, termasuk Urban Farming.

“Jadi ini adalah salah satu bentuk bagian dari program CSR kita, memenuhi ruang terbuka hijau lewat penanaman pohon trambesi dan mahoni di sempadan sungai sekaligus memanfaatkan sebagai tanaman yang bisa difungsikan,” katanya.

Program Urban Farming menjadi bagian integral dari pengembangan Lippo Cikarang Cosmopolis yang menyeimbangkan pembangunan dengan pelestarian lingkungan dan penurunan emisi karbon. Lukas memastikan setiap proyek selalu menyertakan tanaman keras dan penghijauan.

Hasil Urban Farming ini nantinya diberikan kepada masyarakat sekitar untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari secara berkelanjutan. Bahkan, Lippo Cikarang membuka peluang menduplikasi program serupa di lokasi lain.

Founder Green House Bambu Foundation, Eko Jatmiko, menilai Urban Farming ini turut mendukung konservasi Kalimalang dan mencegah degradasi lingkungan.

“Ada seribu lebih bibit dari 30 jenis mulai dari pohon keras hingga tanaman pangan,” katanya.