Sukses

Ukrida Gelar Resensi Film Internasional, Perkuat Semangat Perdamaian di Generasi Muda

 

Liputan6.com, Jakarta Fakultas Ilmu Sosial dan Humaniora, Program Studi Sastra Inggris Universitas Kristen Krida Wacana (Ukrida) menggelar seminar membahas tentang berbagai film bertemakan perang dan perdamaian (War and Peace), serta dampaknya di masyarakat zaman ini. Acara berlangsung secara hybrid Jumat 29 Juli 2022.

Tampil sebagai narasumber adalah Federico Grandesso yang merupakan jurnalis internasional di bidang perfilman, seni, dan fashion dari Felline Foundation for Cinema EU and Asia Representative Internasional Journalist (New Europe).

Program ini diselenggarakan dalam kolaborasi Fellini Foundation (Switzerland), Program Studi Sastra Inggris Fakultas Ilmu Sosial dan Humaniora, serta Unit Kemitraan dan Hubungan Internasional Ukrida.

Acara dibuka dengan sambutan oleh Ketua Program Studi Sastra Inggris, Siegfrieda Alberti Shinta Mursita Putri,yang mengapresiasi semua pihak yang sudah membuat program ini terlaksana dengan baik.

Sementara itu Kepala Unit Kemitraan dan Hubungan Internasional Ukrida, Athriyana S. Pattiwael, mengatakan salah satu misi Unit Kemitraan dan Hubungan Internasional Ukrida adalah menciptakan dan meningkatkan International exposure and experience melalui berbagai program dan kegiatan internasional.

A session with the Expert on War, Peace, and Cinema yang merupakan program Master Class ini tidak dapat terlaksana tanpa kerjasama dan sambutan positif dari universitas mitra Ukrida dan Fellini Foundation.

Secara umum ada pesan moral yang ingin disampaikan, bahwa melalui karya sastra ataupun perfilman akan muncul berbagai inspirasi yang terus mengupayakan perdamaian dunia.

Perang yang terjadi sejak mulai munculnya konflik antar manusia memang sudah membawa dampak bagi kemanusiaan. Karena itu manusia memang menyadari akan akibatnya walaupun seringkali sulit meniadakannya.

Perang dan damai bisa disebut antinomi dalam kehidupan manusia, dan hadir sebagai kondisi yang tampil silih berganti tergantung pilihan manusia juga. Karya sastra, termasuk seni perfilman, akan bisa menjadi salah satu media yang merupakan sumber spirit dalam membangun perdamaian, serta cinta tanah air dan melawan segala bentuk penindasan kemanusiaan.

Dibutuhkan waktu tiga bulan untuk diskusi awal dan persiapan untuk merealisasikan acara, dan diharapkan yang akan datang dapat menyelenggarakan program yang sama dengan topik Journalism, Photography, and Cinema.

Program ini disambut hangat oleh sejumlah universitas mitra Ukrida baik dari dalam negeri  maupun dari luar negeri.

Tercatat mitra Ukrida dari dalam negeri yang ikut menghadiri, yaitu Universitas Muria Kudus – Kudus, Universitas Sanata Dharma – Yogyakarta, Universitas Stikubank – Semarang,  Universitas Dhyana Pura – Bali,  Universitas Sintuwu Maroso – Poso, Universitas Bandar Lampung – Lampung. Sementara mitra dari luar negeri yang ikut berpartisipasi adalah Dong A University – Vietnam,  Daffodil International University – Bangladesh, Eastern Samar State University – Philippines.

Sharing Session dimoderatori Emanuella Christine Natalia. Dia terlebih dahulu memperkenalkan narasumber, yang pada awalnya mulai tertarik dengan dunia perfilman saat bertahun-tahun lalu mendapat tugas untuk meliput berbagai festival film internasional, seperti Cannes,Venice, Rome, dll.

Saat melihat langsung acara-acara festival tersebut, beliau dapat melihat sisi sosial-politik yang menarik perhatian beliau dan topik mengenai peperangan di dunia perfilman semakin bertambah tahun, semakin muncul dan terlihat baik dalam genre dokumenter atau dalam genre lainnya.

Para sineas pembuat film juga semakin memberikan banyak ruang pada tema mengenai peperangan ini.

Dia juga menjadi salah satu bagian anggota Felline Foundation, sebuah organisasi yang berdedikasi mengapreasisasi sutradara perfilman Italia.

Ia sudah pernah mengadakan berbagai exhibition di seluruh dunia termasuk di Jakarta bertema “Screenplay about Federico Felline”.

 

2 dari 2 halaman

Kondisi Saat Ini

Narasumber dengan kepiawaiannya menjelaskan bagaimana film-film mengekspos kerusakan yang ditimbulkan dari perang di masa lampau dan perannya dalam mengkampanyekan perdamaian dunia.

Topik mengenai War and Peace pada perfilman sebenarnya sangatlah luas, karena itu narasumber meringkasnya pada beberapa film yang sangat spesial.

Film pertama merupakan film Charlie Chaplin yang berjudul The Great Dictator yang memiliki pesan yang sangat kuat mengenai topik ini. Lalu lainnya ada Full Metal Jacket dan Life Is Beautiful/ La vita è bella.

Selain itu, pada webinar ini membahas juga mengenai peperangan yang sedang terjadi di Ukraina yang sudah dimulai sejak 2014 dan dampak peperangan tersebut pada warganya.

Sebelum webinar berakhir dilakukan diskusi yang sangat interaktif mengenai peran sastra, generasi muda, dan sinema dalam ikut membangun perdamaian.

Sebagai penutup peserta diajak untuk menyaksikan film dokumenter berjudul Mariupolis, karya sutradara yang terbunuh akibat peperangan di Ukraina.

Menurut Emmanuela Christine Natalia yang memandu webinar, selesai acara muncul diskusi spontan informal di luar forum oleh bebrapa mahasiswa, setelah mengikuti paparan narasumber dan menyaksikan film yang ditampilkan.

Mereka sangat terkesan dan opini mereka mulai timbul akan pentingnya menyuarakan dampak peperangan atau kekerasan yang merugikan masyarakat. Selama ini film-film dokumenter tentang peperangan perlu lebih dicermati karena ada nilai-nilai kemanusiaan yang dieksploitasi.

Dalam sejarah perang bisa saja seorang dianggap penjahat oleh satu pihak, tetapi akan dianggap sebagai pahlawan oleh pihak lain terutama pendukungnya.

Semoga akan terus bangkit semangat melalui karya-karya seni perfilman yang menjunjung tinggi martabat manusia guna menyadarkan agar tidak mengulangi kesalahan masa lalu.