Sukses

Dulu Naik Turun Bus Tawarkan Barang, Wanita Makasar Kini Jadi Pemasok Sepatu di Indonesia

Liputan6.com, Jakarta Kegigihan dan ketekunan kerap berbuah manis bagi mereka yang sedang menjalani bisnis. Salah satunya dirasakan perempuan asal Makasar Sulawesi Selatan bernama Andi Rezky Restu Rakasi.

Dia kini bisa menikmati hasil perih payah membangun bisnis sepatu miliknya, bahkan bisa memperkerjakan belasan perajin lokal di Bogor, Jawa Barat.

Perempuan yang telah menyelesaikan pendidikan S2 Magister Kenotariatan di Universitas Indonesia ini menceritakan awal mula jatuh bangun membangun usaha sepatu miliknya.

Semua bermula di kota kelahirannya, Makasar. Bersama sang suami, dia memulai bisnis online di Makassar dengan sistem dropship.

"Bermula di tahun 2012, awalnya berjualan kosmetik tanpa menstok produk sama sekali,” kata wanita yang lebih dikenal di dunia sosial media dengan nama Mamaky ini memulai cerita.

Ketika bisnisnya telah berjalan beberapa lam, Mamaky memutuskan pindah ke Jakarta untuk membuka bisnis online shop sepatu di 2014. Bermodal uang hasil online shop, dia membuka bisnis pertamanya di Jakarta.

Di Jakarta, perjalanan Andi Rezky Restu Rakasi membangun usaha tak langsung berjalan mulus. “Modal awalnya Rp 5 juta dan waktu itu kami masih ngekos di rumah susun, alhasil kostan kami penuh dengan ratusan pasang sepatu,” papar Mamaky.

Bahkan dia kerap harus berjalan kaki sejauh satu kilometer setiap hari hanya untuk mengirimkan paket karena belum memiliki kendaraan. Sampai akhirnya, bisa membeli sepeda motor untuk mengantar paket ke jasa ekspedisi.

Perjuangan lain perempuan kelahiran 1989 ini, adalah harus bolak-balik naik bus demi mendapat kepercayaan pelanggan.

“Jauh dari keluarga, mau restock produk pun, kami harus bolak-balik naik bus atau KRL. Belum lagi membawa barang dari lantai satu ke lantai 9, karena kami tinggal di lantai sembilan rusun,” jelasnya

Jerih payahnya mulai membuahkan hasil. Beberapa lama menjalani bisnisnya mulai melejit. Dari sini dia memutuskan pindah ke Bogor. Di kota hujan ini dia mempekerjakan 13 karyawan.

 

2 dari 2 halaman

Jasa Maklun

Di Bogor, dia memulai dengan berjualan sepatu secara eceran yang dinilai menguntungkan. Namun dia kemudian memutuskan untuk membuka produksi skala besar serta menawarkan jasa maklun sepatu.

Itu setelah melihat jika pandemi Covid-19 yang datang menghampiri Indonesia turut berdampak, salah satunya ke pengrajin sepatu lokal.

“Sejak wabah Covid-19, banyak pengrajin yang kehilangan pekerjaan, karena produksi menurun. Mengandalkan eceran memang lebih untung tapi dari sisi perajin tidak,” katanya.

Berawal dari dua sampai lima perajin, dia mengaku saat ini sudah ada puluhan perajin sepatu di Bogor yang diberdayakan memproduksi sepatu pesanan miliknya.

Sebagai pengusaha, Andi Rezky Restu Rakasi mengakui jika keuntungan dan kemajuan bisnis menjadi tujuan utamanya.

Namun dia menyadari juga jika usaha yang dirintisnya harus ikut bermanfaat bagi banyak orang. “Setelah bertahun-tahun menekuni dunia bisnis, kami berprinsip agar bisnis itu tidak hanya menguntungkan tapi juga bisa bermanfaat bagi banyak orang,” papar Mamaky.

Selain berguna bagi orang lain, dia berharap bisnisnya bisa bermanfaat untuk UMKM, khususnya yang ingin membuka usaha sandal atau sepatu lokal merek sendiri.

Dia pun membolehkan mereka yang memesan produk maklun dengan skala sedikit. “Mereka bisa maklun dengan kuantiti yang minim, dengan difasilitasi kargo termurah sampai ke pelosok Indonesia. Kami paham, kendala para pebisnis di luar pulau Jawa adalah menemukan supplier yang mau memfasilitasi kargo darat, laut maupun udara. Terkadang mereka tak melanjutkan bisnisnya karena ongkos kirim yang tidak sepadan dengan harga produknya,” ujarnya.

Hingga sekarang, ratusan merek sepatu mempercayakan produksi ke maklun milik Mamaky. Mulai dari Aceh hingga Papua, yang berjualan online maupun offline.

“Dari kapasitas 1.000 pasang per minggu hingga saat ini sudah bisa 5.000 pasang,” ungkap dia.

Terkait tantangan bisnis, dia menyebut jika regenerasi perajin sepatu jadi tantangan dalam bisnisnya. Dia mana dari penuturan para perajin yang berusia lanjut, anak-anak mereka jarang yang antusias melanjutkan profesi orang tuanya sebagai perajin sepatu.

"Mereka menganggap pekerjaan ini tidak menjanjikan, padahal dari tangan-tangan mereka, lahirlah karya-karya yang mengagumkan,” jelas Andi Rezky.

Sebagai pengusaha, Mamaky memiliki mimpi besar, yaitu agar menjadi produsen sepatu lokal yang bisa bersaing di kancah internasional.

“Ingin menjadi produsen sepatu lokal yang bisa memasuki pasar ekspor. Kami juga ingin memberdayakan lebih banyak lagi pengrajin lokal, dan membuka bengkel produksi skala industri dan terus memperluas pasar,” dia menandaskan.