Kemensos Perkuat Pengasuhan dan Perlindungan Siswa Sekolah Rakyat Usai Insiden di Pati

Kementerian Sosial mengevaluasi pengawasan dan pengasuhan Sekolah Rakyat di Pati dan Mamuju untuk memperkuat perlindungan siswa.

Diterbitkan 10 Oktober 2026, 20:49 WIB
Share
Copy Link
Batalkan
Jadi intinya...
  • Kejadian di Sekolah Rakyat Pati dan Mamuju telah ditangani dan menjadi evaluasi pengawasan.
  • Insiden terjadi karena kesalahpahaman siswa beragam latar belakang, korban telah ditangani medis.
  • Sekolah dan orang tua mencari solusi, memperkuat pengawasan, serta melindungi privasi anak.

Liputan6.com, Jakarta - Plt. Kepala Pusdiklatbangprov Kementerian Sosial, Afrizon Tandjung, memastikan kejadian yang melibatkan siswa Sekolah Rakyat di Pati, Jawa Tengah, dan Mamuju, Sulawesi Barat, telah ditangani. Kedua peristiwa itu menjadi bahan evaluasi untuk memperkuat pengawasan, pengasuhan, dan pencegahan agar kejadian serupa tidak terulang.

Afrizon menjelaskan, siswa Sekolah Rakyat berasal dari keluarga dengan latar belakang, kebiasaan, dan karakter yang beragam. Proses penyesuaian diri dengan kehidupan bersama di asrama dapat memunculkan kesalahpahaman antarsiswa.

“Ada kesalahpahaman di antara siswa yang memiliki kebiasaan dan latar belakang berbeda. Dalam interaksi antarsiswa terjadi kontak yang mengakibatkan adanya luka. Anak yang mengalami luka sudah mendapatkan penanganan dari tim medis,” kata Afrizon, Sabtu (10/10/2026).

Menurutnya, pihak sekolah juga telah berkomunikasi dan bertemu dengan orang tua untuk mencari jalan keluar terbaik dengan mengutamakan kepentingan dan masa depan anak-anak.

“Sekolah dan orang tua sedang berkomunikasi untuk mencari solusi terbaik. Kami ingin semua persoalan ditangani dengan baik, dengan tetap mengutamakan perlindungan dan kepentingan anak,” ujarnya.

Pengawasan dan Pencegahan Diperkuat

Afrizon menegaskan, apa pun penyebabnya, tindakan yang mengakibatkan siswa terluka tidak dapat dibenarkan. Sekolah perlu memperkuat pendampingan dan pengawasan, terutama dalam aktivitas sehari-hari di asrama.

“Kejadian ini tentu menjadi bahan evaluasi sekaligus penguatan langkah-langkah pencegahan. Kami akan terus mencari jalan keluar, memperbaiki sistem pengawasan, dan meningkatkan kualitas pengasuhan agar kejadian serupa tidak terulang,” katanya.

Menurut Afrizon, Sekolah Rakyat tidak hanya berfungsi sebagai tempat belajar, tetapi juga menjadi lingkungan bagi anak-anak untuk membangun karakter, belajar hidup bersama, memahami orang lain, dan menghargai perbedaan. Karena itu, tenaga pendidik, wali asuh, dan wali asrama didorong untuk meningkatkan pendampingan. Mereka juga berperan membantu siswa beradaptasi dengan lingkungan baru.

“Anak-anak ini sedang belajar hidup bersama, belajar memahami perbedaan, dan membangun kebiasaan baru. Tugas kita adalah membimbing mereka dengan sabar, sekaligus memastikan lingkungan sekolah tetap aman dan nyaman bagi semuanya,” kata dia.

Melindungi Privasi dan Masa Depan Anak

Afrizon juga meminta semua pihak menjaga privasi dan masa depan anak-anak yang terlibat. Setiap anak berhak mendapatkan perlindungan, pendampingan, serta kesempatan untuk melanjutkan pendidikan tanpa terus dibayangi kejadian yang pernah dialaminya.

“Sekolah Rakyat hadir untuk menjaga harapan dan masa depan anak-anak. Karena itu, setiap persoalan harus kita selesaikan dengan baik, setiap kekurangan harus kita perbaiki, dan setiap anak harus tetap kita lindungi,” kata Afrizon.

 

(*)

Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6