Kenangan Kawan Kecil Affan Kurniawan: Hobi Nongkrong, Bercanda, lalu Makan

Sumbar mengenal Affan sejak kecil dan masih mengingat kebiasaan sederhana mereka sebelum tragedi 28 Agustus 2025.

Diterbitkan 28 Agustus 2026, 07:05 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Bagi Sumbar, ingatan tentang Affan Kurniawan tidak berhenti pada kabar kematiannya pada 28 Agustus 2025.

Ada kenangan lain yang jauh lebih sederhana, Affan datang malam-malam, mengajaknya duduk, memainkan telepon genggam, bercanda sebentar, lalu mengajak makan.

Sumbar mengenal Affan sejak kecil. Mereka tinggal di lingkungan yang sama di Jalan Tayu, Menteng, Jakarta Pusat.

Perbedaan usia yang cukup jauh tidak membuat keduanya sulit bergaul. Affan, kata Sumbar, merupakan anak muda yang mudah berbaur dengan orang-orang di sekitarnya.

"Yang penting enak diajak bergaul. Yang penting tujuannya positif," ujar Sumbar saat ditemui Liputan6.com.

Sumbar paling sering bertemu Affan pada malam hari. Sekitar pukul 21.00 atau 22.00 WIB, ketika belum mengantuk, Affan kerap keluar rumah mencari teman. Jika melihat Sumbar sedang nongkrong, Affan biasanya menghampiri.

"Pak, sini nongkrong," kata Sumbar menirukan ucapan Affan.

Mereka kemudian duduk bersama. Affan lebih sering memainkan telepon genggam. Sesekali mereka bercanda atau mengobrol. Tidak ada agenda khusus dalam pertemuan itu. Kadang mereka kemudian pergi mencari makanan.

"Makan yuk," ujar Sumbar kembali menirukan Affan.

Begitulah pertemanan mereka berjalan. Pertemuan terakhir terjadi sekitar sepekan sebelum Affan meninggal. Saat itu Sumbar hendak pergi ke Yogyakarta. Sebelum berangkat, mereka masih sempat bertemu dan makan bersama di sekitar Pasar Rumput.

"Biasa aja," kata Sumbar mengenang pertemuan tersebut. Ia tidak menyangka pertemuan itu menjadi yang terakhir.

 

Mengenal Affan Sejak Kecil

Ketika kabar kematian Affan datang, Sumbar sedang berada di Yogyakarta. Ia menerima pesan WhatsApp dan melihat foto-foto yang beredar. Wajah dalam foto itu langsung dikenalnya.

"Wah, ini Affan," katanya.

Sumbar kemudian kembali ke Jakarta. Ia mengenal perjalanan Affan sejak masih kecil. Bahkan, beberapa kali Sumbar mengaku pernah memarahi Affan ketika masih muda.

Ketika dewasa, Affan sempat bekerja sebagai petugas keamanan di lingkungan tempat tinggal mereka sebelum kemudian menjadi pengemudi ojek online.

Menurut Sumbar, Affan menjadi salah satu tulang punggung keluarganya. Ia merupakan anak kedua dari tiga bersaudara.

Sumbar juga mengingat Affan sebagai sosok yang berani. Ia bercerita, Affan pernah menangkap seorang pencuri seorang diri ketika masih bekerja sebagai petugas keamanan.

"Berani orangnya," kata Sumbar.

Meski begitu, keberanian bukan hal pertama yang terlintas di benaknya ketika mengingat Affan. Ia lebih mengingat Affan sebagai anak muda yang pendiam, tidak banyak bicara, tetapi mudah bergaul.

"Orangnya enak," ujarnya.

Affan juga dikenal sejumlah warga di lingkungan tersebut. Beberapa tukang kopi di sekitar kawasan itu mengenalnya. Ia bisa bergaul dengan orang yang baru ditemuinya.

Kebiasaan yang Berhenti

Setelah Affan meninggal, kebiasaan kecil itu ikut berhenti. Sekitar 40 hari setelah kematian Affan, keluarga disebut meninggalkan rumah kontrakan tempat mereka tinggal. Rumah tersebut kemudian ditempati orang lain.

Sumbar juga tidak lagi melihat kakak Affan nongkrong seperti sebelumnya. Namun, yang paling ia rasakan bukan perubahan rumah atau lingkungan tempat tinggal keluarga Affan.

Ia kehilangan teman yang biasa muncul pada malam hari ketika belum mengantuk.

Tempat nongkrong mereka masih ada. Jalan-jalan yang biasa dilewati masih sama. Warung makan di sekitar Pasar Rumput juga tetap berjalan seperti biasa. Hanya Affan yang tidak lagi datang. Tidak ada lagi suara yang memanggilnya untuk duduk bersama.

"Pak, sini nongkrong."

Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6