Desa Kawasi di Halmahera Selatan, Maluku Utara Berubah Dari Tertinggal Jadi Ecovillage

Desa Kawasi merupakan salah satu pemukiman yang masih tertinggal di Kecamatan Obi, Halmahera Selatan, Provinsi Maluku Utara jika dibandingkan dengan wilayah lain di Indonesia.

Diperbarui 06 Juni 2025, 22:54 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Desa Kawasi merupakan salah satu pemukiman yang masih tertinggal di Kecamatan Obi, Halmahera Selatan, Provinsi Maluku Utara jika dibandingkan dengan wilayah lain di Indonesia.

Meski begitu, Desa Kawasi saat ini sedang melakukan transformasi menjadi ecovillage berstandar internasional.

Transformasi Desa Kawasi ini merupakan komitmen dari Harita Nickel yang terus melakukan pembangunan berkelanjutan. Langkah ini merupakan bagian dari program relokasi masyarakat Kawasi yang dilakukan secara bertahap, kolaboratif, dan penuh pendekatan persuasif bersama Pemerintah Kabupaten Halmahera Selatan.

Analis Politik Center for Publik Policy Studies (CPPS) Indonesia Novarel Saefuddin Zuhry menilai, pencapaian ini menunjukkan wujud tanggung jawab sosial perusahaan (CSR) yang menyatu dengan visi pembangunan daerah.

"Sejak beroperasinya Harita Nickel di wilayah Desa Kawasi, Kecamatan Obi, saya mulai berimajinasi, kelak kemajuan mereka harus sejalan dengan perkembangan Desa Kawasi yang bertransformasi sebagai sebuah desa baru yang maju, terintegrasi dengan air bersih, sanitasi, listrik, informasi dan pasar," ujar Novarel mengutip pandangan mantan Bupati Halmahera Selatan H. Muhammad Kasuba, yang disampaikan melalui keterangan tertulis, Kamis (5/6/2025).

Dia mengatakan, transformasi Kawasi tidak hanya menandai keberhasilan hilirisasi industri nikel, namun juga menjadi bukti kegiatan tambang dapat berjalan beriringan dengan kesejahteraan masyarakat.

"Kawasi yang dulunya masuk kategori desa tertinggal, kini telah menjelma menjadi kawasan hunian layak dengan fasilitas publik lengkap seperti perumahan sehat, akses air bersih, listrik 24 jam, sekolah, puskesmas, rumah ibadah, hingga pusat olahraga dan ekonomi rakyat," terang Novarel.

Menurut dia, komitmen Harita Nickel dalam membangun Ecovillage dilandasi oleh kesadaran akan kondisi geografis Kawasi Lama yang rentan terhadap erosi dan bencana alam.

 

Relokasi Dilakukan

Novarel menyebut, sebelumnya Bupati Halmahera Selatan Bassam Kasuba menegaskan bahwa seluruh proses dilakukan secara demokratis tanpa paksaan. Hingga kini, kata dia, dari 360 kepala keluarga (KK) warga Kawasi, sebanyak 230 KK telah berpindah ke lokasi baru.

Menurut Novarel, selain pembangunan infrastruktur pemukiman, Harita Nickel juga menghadirkan Semarak Pasar Rakyat Kawasi (SAPA Kawasi), sebuah pusat ekonomi masyarakat yang bertujuan menghidupkan roda perekonomian lokal.

"Program pelatihan pertanian berkelanjutan dan dukungan pada nelayan setidaknya turut memperkuat ketahanan ekonomi warga," ucap dia.

Varel mengungkapkan, transformasi ini sejalan dengan cita-cita nasional dalam mewujudkan hilirisasi industri berbasis sumber daya alam.

"Harita Nickel, melalui anak usaha PT Trimegah Bangun Persada Tbk (NCKL), telah menjadi pionir dalam pengolahan dan pemurnian nikel limonit kadar rendah menggunakan teknologi High Pressure Acid Leaching (HPAL)," terang dia.

Novarel mengatakan, produk olahan berupa Mixed Hydroxide Precipitate (MHP) dan Nikel Sulfat (NiSO) kini menjadi bahan utama baterai kendaraan listrik mendukung transisi energi bersih global.

 

Visi Jangka Panjang

Lebuh lanjut, kata Novarel, Desa Kawasi kini bukan hanya menjadi ikon keberhasilan hilirisasi industri nikel, tetapi juga simbol nyata bahwa keberadaan tambang bisa menjadi berkah bagi masyarakat lokal.

"Inilah wujud nyata semangat HARITA: Dari Obi untuk Indonesia. Sebuah filosofi yang mencerminkan komitmen perusahaan untuk menjadikan potensi daerah sebagai bagian penting dari pembangunan nasional," terang Novarel.

Novarel berpandangan, Harita tak hanya menambang nikel, tetapi juga menambang harapan dan masa depan bagi generasi muda di wilayah timur Indonesia.

"Kawasi adalah contoh nyata bahwa perusahaan tambang tidak harus menjadi momok. Sebaliknya, jika dikelola dengan tanggung jawab dan visi jangka panjang, tambang bisa menjadi motor kemajuan masyarakat desa," terang dia.

"Dengan semangat kolaboratif dan pendekatan humanis, Harita Nickel bersama Pemerintah Kabupaten Halmahera Selatan membuktikan bahwa pembangunan berbasis tambang tidak harus mengorbankan manusia dan lingkungan. Kawasi adalah kisah sukses yang layak diapresiasi dan ditiru," tandas Novarel.

Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6