Ritual Meminta Hujan, Budaya Warisan di Bondowoso

Masyarakat Desa Sukorejo, Kecamatan Sumber Wringin, Bondowoso, Jatim, mengenal upacara itu dengan sebutan pepujen atau pojian. Selain berharap hujan turun, acara digelar untuk menyambut Ramadan.

Diterbitkan 01 November 2003, 08:23 WIB
Share
Copy Link
Batalkan
Jadi intinya...
  • Ritual Pojian di Bondowoso meminta hujan dan menyambut Ramadan, terutama saat kemarau.
  • Ritual melibatkan memanjat bambu 8 meter dan membakar diri, diiringi gamelan.
  • Kesenian Pojian berasal dari Ki Remas, leluhur Desa Sukorejo, Bondowoso.

Liputan6.com, Bondowoso: Masyarakat Kota Bondowoso, Jawa Timur, sangat mengenal atraksi pepujen atau pojian. Ritual tahunan ini digelar sebagai permohonan meminta hujan kepada Tuhan. Kesenian pojian sejak dahulu kala dibudayakan penduduk Desa Sukorejo, Kecamatan Sumber Wringin, Bondowoso. Saking sakralnya, upacara hanya sekali dalam setahun atau dipentaskan sekali-kali jika kondisi sosial tengah dilanda bencana. Bencana musim kering berkepanjangan yang melanda sebagian Jatim, baru-baru ini, mendorong masyarakat Bondowoso mengadakan pepujen. Acara terpusat di alun-alun Kota Bondowoso dan dihadiri ratusan orang. Selain meminta hujan, pojian juga ditujukan untuk menyambut Bulan Ramadan. Memanjat sebatang bambu setinggi delapan meter dan membakar diri menjadi bagian dari ritual itu. Dengan iringan gamelan dan tabuhan kendang, sejumlah orang mencoba menaiki bambu. Keahlian memanjat bambu diturunkan dari Ki Remas, leluhur Desa Sukorejo yang akhirnya terkenal sebagai pembuat ide upacara itu. Tanpa rasa takut, seorang demi seorang anak cucu Ki Remas dan warga setempat bergantian menaiki bambu. Meski berlangsung sederhana, acara selama satu jam itu ramai dan menarik perhatian penonton.(KEN/Christanto Rahardjo)

Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6