Hasil Sidang Isbat Lebaran 2026 Menetapkan Kapan Idul Fitri 1 Syawal 1447 H

Kementerian Agama menggelar sidang isbat Lebaran 2026 untuk menetapkan kapan Idul Fitri 1 Syawal 1447 H pada Kamis, 19 Maret 2026.

Diperbarui 19 Maret 2026, 19:49 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Kementerian Agama menggelar sidang isbat Lebaran 2026 untuk menetapkan kapan Idul Fitri 1 Syawal 1447 H pada Kamis, 19 Maret 2026. Sidang dimulai pukul 16.00 WIB dan berlangsung hingga malam hari dan dapat dipantau melalui live report di tautan ini.

"Pelaksanaan sidang didasarkan pada data hisab dan hasil rukyat yang diverifikasi, serta melalui mekanisme yang terbuka kepada publik," ujar Direktur Jenderal Bimbingan Masyarakat Islam, Abu Rokhmad, Sabtu (14/3/2026).

Menurutnya, sidang isbat merupakan forum penting yang mengedepankan kehati-hatian, keilmuan, dan kebersamaan umat.

"Seperti biasa, sidang isbat diawali dengan seminar pemaparan posisi hilal oleh Tim Hisab Rukyat Kementerian Agama. Setelah itu dilanjutkan dengan sidang tertutup untuk membahas hasil rukyatul hilal yang masuk dari berbagai daerah, sebelum akhirnya diumumkan kepada masyarakat," ujar Abu Rokhmad.

Pantau Hilal di 117 Lokasi

Kementerian Agama akan melakukan pemantauan hilal (rukyatul hilal) di 117 lokasi di Indonesia yang hasilnya akan dibahas bersama dalam sidang isbat yang akan dihadiri berbagai pihak. Antara lain perwakilan duta besar negara sahabat, Ketua Komisi VIII DPR RI, Mahkamah Agung, Majelis Ulama Indonesia (MUI), Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG), Badan Informasi Geospasial (BIG).

Kemudian, Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Bosscha Institut Teknologi Bandung (ITB), Planetarium, para pakar falak dari organisasi kemasyarakatan Islam, serta anggota Tim Hisab Rukyat Kementerian Agama.

Hasil Hisab Sementara

Ia menjelaskan berdasarkan perhitungan astronomi (hisab), pada hari rukyat atau 29 Ramadhan 1447 H yang bertepatan dengan Kamis, 19 Maret 2026, ketinggian hilal di seluruh wilayah Indonesia berada di atas ufuk dengan kisaran antara 0°54’27’’ hingga 3°7’52’’. Sementara itu, sudut elongasi hilal berkisar antara 4°32’40’’ hingga 6°6’11’’.

Menurutnya, seluruh sistem hisab juga menunjukkan bahwa ijtimak menjelang Syawal 1447 H terjadi pada 19 Maret 2026 sekitar pukul 08.23 WIB. Meski demikian, penentuan awal Syawal tetap menunggu hasil rukyatul hilal yang dilakukan di berbagai wilayah Indonesia.

"Penetapan awal Syawal 1447 H akan menunggu laporan hasil rukyatul hilal dari seluruh daerah yang kemudian dibahas dalam sidang isbat," kata dia.

Prediksi Observatorium Bosscha

Observatorium Bosscha Institut Teknologi Bandung (ITB) memprediksi posisi hilal penentu 1 Syawal 1447 Hijriah pada Kamis (19/3) mendatang berada pada posisi yang sangat rendah dan menantang untuk diamati secara astronomis dari wilayah Indonesia.

Berdasarkan data perhitungan Bosscha, posisi bulan pada 29 Ramadhan 1447 Hijriah tersebut berada sangat dekat dengan matahari saat terbenam. Ketinggian hilal di Indonesia terpantau hanya berkisar antara 0 hingga 3 derajat di atas ufuk, khususnya di wilayah bagian barat.

"Secara astronomis, kondisi tersebut menunjukkan bahwa hilal berada pada batas yang menantang untuk diamati. Keberhasilan pengamatan akan sangat dipengaruhi oleh kondisi atmosfer dan transparansi langit," kata Peneliti Observatorium Bosscha ITB Yatny Yulianty di Bandung, Rabu.

Yatny menjelaskan parameter geometri menunjukkan elongasi geosentrik di wilayah Indonesia berkisar antara 4,6 hingga 6,2 derajat.

Sementara itu jarak sudut pandang pengamat dari permukaan bumi atau elongasi toposentrik berada pada kisaran lebih rendah yakni 4,0 hingga 5,5 derajat.

Guna memverifikasi kondisi batas kriteria visibilitas tersebut, tim astronom Bosscha akan melakukan pengamatan di dua titik strategis yakni di Lembang (Jawa Barat) dan Observatorium Lhok Nga (Aceh).

"Observatorium Lhok Nga dipilih karena posisi Bulan di wilayah Aceh berada di sekitar batas kriteria visibilitas hilal yang saat ini digunakan, sehingga pengamatan di lokasi tersebut menjadi penting untuk memverifikasi kondisi batas (constraint)," tutur Yatny yang juga Koordinator Kegiatan Publik Bosscha.

Meskipun menyajikan data ilmiah yang menjadi rujukan nasional, pihak Bosscha menegaskan bahwa kewenangan tunggal penetapan awal bulan Hijriah tetap berada di tangan pemerintah melalui Sidang Isbat Kementerian Agama (Kemenag) pada 19 Maret 2026. Hasil pengamatan menggunakan teleskop dan instrumen pencitraan ini nantinya akan menjadi masukan ilmiah sekaligus memperkaya basis data penelitian jangka panjang mengenai visibilitas hilal di wilayah tropis seperti Indonesia.

Gambaran Awal Hilal di DIY

Kantor Wilayah (Kanwil) Kementerian Agama (Kemenag) Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) akan memusatkan pemantauan hilal 1 Syawal 1447 Hijriah di Pos Observasi Bulan (POB) Syekh Bela Belu, Bantul, pada Kamis (19/3/2026) sore.

Kepala Bidang Penerangan Agama Islam, Pemberdayaan Zakat, dan Wakaf Kanwil Kemenag DIY Nurhuda mengatakan pemantauan hilal tersebut merupakan bagian dari rangkaian penentuan awal bulan Syawal yang hasilnya akan dilaporkan dalam Sidang Isbat Kemenag.

"Insya Allah, nanti di seluruh Indonesia ada 117 titik untuk melakukan rukyatul hilal guna menentukan awal bulan Syawal. Untuk di Yogyakarta, lokasi pelaksanaannya di Pos Observasi Bulan Syekh Bela Belu," kata Nurhuda saat dihubungi di Yogyakarta, Kamis. 

Pemantauan hilal di Yogyakarta didukung data hisab atau perhitungan astronomi sebagai gambaran awal posisi bulan. Berdasarkan data hisab, ketinggian hilal di wilayah DIY diperkirakan berada pada kisaran nol hingga 3 derajat, dengan sudut elongasi sekitar 6 derajat.

Posisi hilal tersebut belum memenuhi kriteria MABIMS (Menteri Agama Brunei Darussalam, Indonesia, Malaysia, dan Singapura) untuk penetapan awal Syawal, yakni tinggi minimal 3 derajat dan elongasi 6,4 derajat. Dengan kondisi tersebut, bulan Ramadhan berpotensi disempurnakan menjadi 30 hari sehingga 1 Syawal diperkirakan jatuh pada Sabtu (21/3).

"Sehingga kemungkinan hari Sabtu. Namun nanti kita tunggu keputusan Sidang Isbat yang dipimpin Menteri Agama," kata Kepala Bidang Penerangan Agama Islam, Pemberdayaan Zakat, dan Wakaf Kanwil Kemenag DIY Nurhuda.

6 Lokasi Pemantauan Hilal di Jakarta

Kantor Wilayah Kementerian Agama DKI Jakarta mengungkapkan terdapat enam lokasi pengamatan hilal untuk penetapan 1 Syawal 1447 Hijriah/2026 Masehi di Ibu Kota Jakarta. Kepala Kantor Wilayah (Kanwil) Kementerian Agama DKI Jakarta, Adib saat dihubungi di Jakarta, Kamis, menyebutkan, pengamatan dilakukan hari ini mulai pukul 15.00 WIB.

"Rukyatul hilal di DKI dilakukan di enam lokasi bekerjasama dengan segenap ormas Islam dan instansi terkait," kata Adib.

keenam lokasi ini, yakni di lantai 7 Gedung Kanwil Kemenag di Jakarta Timur, Masjid Hasyim Asyari di Jakarta Barat dan Masjid Musari'in Basmol di Jakarta Barat. Kemudian, Masjid Raya JIC di Jakarta Utara, Rumah Falak Pondok Labu di Jakarta Selatan dan Pulau Karya/Pramuka di Kepulauan Seribu.

 

Kemenag Jatim Pantau Hilal di 28 Titik

Untuk menentukan kapan 1 Syawal 1447 Hijriah, Kemenag Jawa Timur menggelar rukyatul hilal di 28 titik strategis pada Kamis (19/3/2026), sore. Kepala Kanwil Kemenag Jatim Akhmad Sruji Bahtiar mengatakan, hasil pengamatan hilal itu kemudian dilaporkan secara berjenjang sebagai bahan Sidang Isbat Kemenag RI.

“Rukyatul hilal merupakan upaya ilmiah sekaligus syari dalam menentukan awal Syawal. Kami memastikan pelaksanaannya berjalan profesional dengan melibatkan para ahli serta mengacu pada kriteria yang telah disepakati,” ujar Bahtiar.

Ia menambahkan, lokasi pengamatan dipilih secara selektif dengan mempertimbangkan kondisi ufuk barat yang terbuka, kualitas atmosfer, serta minimnya polusi cahaya.

Berdasarkan data Tim Kemasjidan dan Hisab Rukyat Bidang Urusan Agama Islam, kata dia, pengamatan dilakukan di berbagai daerah antara lain Kota Blitar, Pacitan, Banyuwangi, Probolinggo, Tuban, Madiun, Jombang, Gresik, Lumajang, Jember, Sampang, Ngawi, dan Malang.

Kemudian, lanjutnya, Bondowoso, Mojokerto, Sumenep, Lamongan, Ponorogo, Bangkalan, Kediri, Pasuruan, Situbondo, Pamekasan, Sidoarjo, hingga Bojonegoro.

Hilal Belum Penuhi Kriteria

Ketinggian hilal awal Syawal 1447 Hijriah di seluruh wilayah Indonesia belum memenuhi kriteria Menteri Agama Brunei Darussalam, Indonesia, Malaysia, dan Singapura (MABIMS). Hal itu diutarakan anggota Tim Hisab Rukyat Kementerian Agama (Kemenag) RI Cecep Nurwendaya.

Dalam paparannya menjelang Sidang Isbat 1447 Hijriah di Kantor Kemenag, Jakarta, Kamis (19/3/2026), Cecep menerangkan ketinggian hilal di Indonesia berada di antara 0⁰ 54' 27" (0,91⁰) sampai 3⁰ 07' 52" (3,13⁰), dengan elongasi berada pada 4⁰ 32' 40" (4,54⁰) sampai 6⁰ 06' 11" (6,10⁰).

Merujuk kriteria MABIMS, awal bulan hijriah atau kamariah ditetapkan jika hilal memiliki tinggi minimal 3 derajat dan elongasi atau jarak sudut antara dua benda langit mencapai 6,4 derajat. "Kalau kurva tadi digabungkan, di seluruh wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia tidak memenuhi kriteria awal bulan kamariah MABIMS," kata Cecep.

Sehingga, lanjut dia, 1 Syawal 1447 Hijriah jatuh pada Jumat, 20 Maret 2026 berdasarkan ilmu hisab astronomi.

Namun demikian, metode tersebut harus dikonfirmasi ulang dengan melihat bulan (rukyatul hilal) yang dilakukan di 117 lokasi di Indonesia yang hasilnya akan dibahas bersama dalam sidang isbat.

"Kesimpulannya, seluruh ibu kota provinsi di NKRI dan Sabang tidak memenuhi kriteria MABIMS (terkait) awal bulan Syawal 1447 Hijriah," ujarnya.

Hilal Belum Terlihat di Maluku

Berdasarkan hasil pengamatan yang dilakukan di Negeri Wakasihu, Kecamatan Leihitu Barat, Kabupaten Maluku Tengah, Kamis (19/3/2026), hilal 1 Syawal 1447 Hijriah belum terlihat di wilayah Maluku. Hal itu diungkap Kemenag Provinsi Maluku. 

"Hasil rukyatul hilal menunjukkan ketinggian hilal masih berada di bawah kriteria yang ditetapkan Menteri Agama Brunei, Indonesia, Malaysia, dan Singapura (MABIMS)," kata Kepala Kantor Wilayah (Kanwil) Kemenag Maluku, Yamin. 

Yamin menjelaskan, dari hasil pengamatan, tinggi hilal tercatat sekitar 1,528 derajat dengan elongasi 4,26 derajat. Angka ini masih jauh di bawah kriteria MABIMS, yakni tinggi minimal 3 derajat dan elongasi 6,4 derajat agar hilal dapat terlihat.

Yamin menyebutkan waktu matahari terbenam terjadi pada pukul 18.38.28 WIT, sementara bulan terbenam pada pukul 18.47.49 WIT, dengan posisi azimut bulan berada di 273,442 derajat. Berdasarkan kondisi tersebut, lanjutnya, hilal di wilayah Maluku dinilai tidak mungkin terlihat.

Kemenag: 1 Syawal pada 21 Maret 2026

Tim Rukyat Hilal Kementerian Agama (Kemenag) menyatakan, 1 Syawal 1447 H jatuh pada Sabtu, 21 Maret 2026. Hal itu diungkapkan Anggota Tim Rukyatul Hilal Kemenag, Cecep Nurwendaya dalam Seminar Sidang Isbat di Kantor Kemenag, Jakarta Pusat, Kamis (19/3/2026) sore.

Menurut Cecep, ketinggian hilal di Provinsi Aceh telah memenuhin kriteria MABIMS yakni minikum 3 derajat. Namun, kata dia, hilal tak memenuhi parameter elongasi minimum 6,4 derajat. "Sehingga tanggal 1 Syawal 1447 H secara hisab hatuh bertepatan dengan hari Sabtu Pahing tanggal 21 Maret 2026 M," ujar Cecep.

Secara rukyat, lanjut Cecep, ketinggian hilal di seluruh wilayah NKRI antara 0,91 derajat hingga 3,13 derajat dan elongasi antara 4,54 derajat hingga 6,10 derajat.

 

Hilal di Malang Tak Terlihat

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Stasiun Geofisika Malang menyatakan hilal penentu 1 Syawal 1447 Hijriah/2026 Masehi yang diamati dari Kabupaten Malang, Jawa Timur, tak terlihat karena posisinya terhalang awan tebal.

Kepala Stasiun Geofisika Malang Ricko Kardoso seusai pelaksanaan rukyatul hilal yang diselenggarakan di Command Center Lantai 9 Kantor Bupati Malang, Kamis (19/3/2026) mengatakan, ketinggian hilal di wilayah setempat berdasarkan hasil hisab yang dilakukan saat matahari terbenam pada pukul 17.54 WIB berada di 1,654 derajat.

"Saat matahari terbenam pukul 17.41 WIB hingga kami tunggu dan amati sampai waktu terbenam bulan di 17.50 WIB (hilal) tidak terlihat di ufuk barat, itu tertutup oleh awan. Dari hasil hisab berada di ketinggian 1,654 derajat di Malang dengan elongasi 5,1 derajat," kata Ricko.

Ia menjelaskan ketinggian 1,654 derajat itu adalah kondisi riil di astronomi berdasarkan pengamatan menggunakan peralatan untuk pengamatan hilal. Sedangkan di Malang Raya lainnya, Stasiun Geofisika Malang memperkirakan untuk Kota Batu tinggi hilal mencapai 1,68 derajat dengan elongasi 5,51 derajat. Untuk Kota Malang diperkirakan tinggi hilal mencapai 1,66 derajat dengan elongasi 5,51 derajat.

Hasil Sidang Isbat: Idul Fitri Jatuh pada 21 Maret 2026

Kementerian Agama telah selesai menggelar Sidang Isbat dan memutuskan bahwa Lebaran Idul Fitri 1 Syawal 1447 Hijriah jatuh pada Sabtu 21 Maret 2026.

"Kementerian Agama melalui sidang isbat menetapkan, berdasarkan hasil hisab dan rukyat, 1 Syawal 1447 H disepakati jatuh pada Sabtu 21 Maret 2026," ujar Menteri Agama (Menag) Nasaruddin Umar di Jakarta, Kamis (19/3/2026).

 

Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6