Djoko Santoso: Merah Putih Memudar, Nasionalisme Harus Di-upgrade

Di tengah era globalisasi sekarang ini, budaya lokal semakin tergerus oleh budaya asing.

Diterbitkan 04 Juli 2013, 11:31 WIB
Share
Copy Link
Batalkan
Di tengah era globalisasi sekarang ini, budaya lokal semakin tergerus oleh budaya asing. Maka itu perlu memupuk dan meningkatkan nasionalisme agar nilai-nilai budaya lokal tetap terpelihara.

Demikian disampaikan mantan Panglima TNI Jenderal Purnawirawan Djoko Santoso dalam seminar nasional bertema 'Nasionalisme Kultural' di Gedung Konvensi Taman Makam Pahlawan Kalibata, Pasar Minggu, Jakarta, Kamis (4/7/2013).

"Jiwa nasionalisme kita harus sudah di-upgrade, merah putih sudah buram, jiwa kita sudah mulai rapuh. Sehingga kita tak bisa lagi menepuk dada, inilah Indonesiaku, inilah merah putihku," ujar Djoko.

Djoko menilai, kondisi sekarang semakin jauh dari rasa nasionalisme. Seperti sistem perekonomian Indonesia yang semakin jauh dari karakter bangsa Indonesia, sistem perekonomian belum memenuhi kesejahteraan rakyat.

"Apakah sistem kita masih mendekati Pasal 33 UUD '45 atau tidak? Apakah sumberdaya alam yang terkandung di dalamnya masih digunakan untuk kepentingan negara dan rakyatnya?" tuturnya.

Contoh lain, lanjut Djoko, banyak nelayan dan petani lebih suka merantau ke perkotaan meski harus mengemis. Penambang berhari-hari hanya memperoleh butiran pasir di pertambangan, sementara investor memperoleh berton-ton emas hanya dengan 1 hari.

Terkikis Budaya Asing

Begitu juga dengan kondisi budaya lain, Djoko mengatakan, sulit membedakan 1 kota dengan kota lainya. Seperti arsitektur bangunan tak lagi menampilkan karakter budaya masiang-masing. "Apalagi memasuki gedung ruko dan rumah-rumah, yang ada semua seragam dengan kota lain," imbuhnya.

"Sangat sulit menemukan keberagaman budaya etnik. Budaya kita semakin terkikis budaya asing, merusak tataran budaya kita. Gaya hidup sangat terpengaruh budaya asing dan rendahnya rasa nasionalisme. Muncul lesbian, gay, transgender, musik-musik popular, rasa nasionalisme pudar," terangnya.

Ketua Dewan Pembina Ikatan Persaudaraan Haji Indonesia (IPHI) ini juga menilai, generasi muda saat ini lebih suka mengidolakan tokoh asing, ketimbang tokoh nasional. "Kita butuh kontribusi dari semua lini. Sudah 68 tahun Indonesia merdeka, kita belum mencapai cita-cita bangsa. Itu merupakan utang sejarah kita," kata Djoko.

Untuk menghadapi arus globalisasi, lanjut Djoko, perlu memperkokoh bangsa Indonesia dengan mewarisi karakter dan nilai-nilai bangsa Indonesia yang telah diwariskan dari nenek moyang bangsa Indonesia.

"Nasionalisme kultural sangat penting untuk memperkaya kultur kita dalam rangka memperkokoh persatuan dan kesatuan demi mewujudkan kesejahteraan kita bersama," pungkas Djoko. (Frd/Ism)

Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6