Delpedro Bacakan Pledoi, Awali dengan Duka Cita Wafatnya Pemimpin Tertinggi Iran Khamenei

Delpedro meyampaikan duka cita atas meninggalnya Pemimpin Tertinggi Iran Ayatullah Ali Khamenei, yang tewas dalam serangan AS dan Israel.

Diterbitkan 02 Maret 2026, 17:10 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Delpedro Marhaen selaku Direktur Eksekutif Lokataru membacakan nota pembelaan atau pledoi dalam perkara dugaan penghasutan yang berujung kericuhan saat aksi demonstrasi pada akhir Agustus 2025. Tidak hanya Delpedro, bersama tiga terdakwa lain yaitu Muzaffar Salim selaku staf dari Lokataru, Syahdan Husein selaku Aktivis Gejayan Memanggil, dan Khariq Anhar selaku Mahasiswa Universitas Riau (Unri), mereka membacakan pledoinya secara terpisah.

Saat membacakan pledoi, Delpedro mengawali dengan ucapan duka cita atas meninggalnya Pemimpin Tertinggi Iran Ayatullah Ali Khamenei, yang tewas dalam serangan Amerika Serikat (AS) dan Israel.

"Saya ingin mengucapkan berduka cita atas meninggalnya, syahidnya Imam Ayatullah Khamenei yang gugur dalam membela keadilan dan kebenaran. Semoga syahidnya menularkan kebenaran dan kebaikan bagi kita semua. Amin," tutur Delpedro pada Senin (2/3/2026).

Delpedro kemudian membacakan nota pembelaan atau pledoi yang diberi judul "Membela Mereka di Agustus". Adapun isinya adalah sebagai berikut: 

"Saya buka dengan dua kutipan. Kutipan yang pertama: 'Untuk mereka, orang muda yang mendambakan adanya perbaikan demokrasi dan hak asasi manusia Indonesia.' 

Kutipan yang kedua: 'Bunda, Ayah, keluarga, dan kekasihku tersayang. Terima kasih karena tak pernah lelah mendampingi, memahami, dan merelakan waktuku yang kerap kuhabiskan untuk kepentingan banyak orang. Semoga kita bisa merayakan hari raya Idulfitri nanti bersama tanpa jeruji.'

Mungkin inilah kesempatan terakhir saya untuk berbicara secara bebas dan utuh di muka umum. Oleh karena itu, saya memohon sedikit waktu dari panjangnya dan melelahkannya seluruh proses hukum yang telah saya jalani, baik sejak tahap penyidikan di Polda Metro Jaya hingga tibanya saat pada agenda pembacaan pledoi di persidangan ini."

Hanya Bacakan 6 Bagian

Delpedro mengatakan, pledoi miliknya terbagi ke dalam sembilan bagian. Namun, dia hanya membacakan enam bagian, yaitu jalan sebagai pembela HAM, generasi muda di Lokataru yang mencintai Republik, Kerusuhan Agustus: Penghasutan atau Advokasi?, mengapa pelajar yang berdemonstrasi harus dibela, orang muda, pelajar dan etika republikan, serta jika Jaksa atau Hakim tertindas, maka saya akan membela mereka.

Isi selanjutnya adalah sebagai berikut:

"Perlu ditegaskan bahwa demonstrasi Agustus pada awalnya adalah ekspresi penolakan publik terhadap rencana kenaikan tunjangan DPR. Ketika masyarakat sedang menghadapi tekanan ekonomi dan ketimpangan sosial, justru wacana kenaikan tunjangan DPR naik. Kemarahan publik semakin memuncak ketika beredar tayangan anggota DPR yang berjoget-joget. Bagi banyak warga, pandangan itu bukan sekadar hiburan melainkan simbol terputusnya empati antara elit dan rakyat.

Peristiwa Agustus bukan sekadar demonstrasi yang menimbulkan kegaduhan sebagaimana disederhanakan dalam tuntutan. Ia adalah fenomena sosiopolitik kolektif yang lahir dari akumulasi ketegangan publik yang panjang. Kerusuhan yang kemudian terjadi dipengaruhi banyak variabel: tindakan represif aparat yang menggunakan kekuatan berlebihan, penyempitan ruang sipil, provokasi narasi 'STM Genteng' di media sosial, hingga terjadi penindasan seorang pengemudi ojek online yang sedang mencari nafkah dan harus meregang nyawa.

Terkait dakwaan penghasutan, izinkan saya bertanya secara jernih: Jika niat saya adalah menghasut dan mendorong orang melakukan tindak pidana, mengapa saya harus capek-capek membangun lembaga riset? Mengapa saya harus melakukan advokasi konstitusional? Mengapa harus menyusun kajian akademik, berdialog dengan pemerintah, menghadiri rapat-rapat resmi? Bukankah jauh lebih mudah bagi saya jika sekadar mengumpulkan orang, mengompori emosi, dan membiarkan kerusuhan terjadi tanpa struktur? Tapi saya tidak melakukan itu."

 

Ajukan Permintaan Tak Lazim

Sebelum saya menutup pledoi, Delpedro mengajukan satu permintaan yang mungkin tidak lazim. Isinya adalah sebagai berikut:

"Hari ini saya tidak hendak menutup dengan kesimpulan argumentasi hukum atau pasal-pasal. Saya hendak menutup dengan nama. Karena hukum yang kehilangan nama akan berubah menjadi angka, dan keadilan yang hanya mengenal angka perlahan akan kehilangan nuraninya.

Majelis Hakim yang arif dan bijaksana, sebelum saya menutup pembelaan ini, izinkan saya mengajukan satu permintaan yang mungkin tidak lazim. Hari ini saya tidak hendak menutup dengan kesimpulan argumentasi hukum atau pasal-pasal. 

Saya hendak menutup dengan nama. Karena hukum yang kehilangan nama akan berubah menjadi angka, dan keadilan yang hanya mengenal angka perlahan akan kehilangan nuraninya.

'Ingatlah 700 Nama Ini'. Karena di balik istilah 'massa', 'kerusuhan', 'penindakan', dan 'tersangka', ada manusia-manusia yang memiliki wajah dan kehidupan.

Kebebasan berkumpul dan menyampaikan pendapat bukanlah hadiah dari negara. Ia adalah hak konstitusional warga negara. Jika hari ini saya duduk di kursi terdakwa, maka saya sadar perkara ini tidak berdiri sendiri. Ia akan menjadi pesan tentang bagaimana negara memandang kritik.

Dengan segala kerendahan hati, saya memohon kepada seluruh hadirin di ruang sidang ini untuk berdiri, memberi ruang penghormatan bagi seluruh warga negara yang meninggal dan ratusan lainnya yang ditangkap dalam berkas-berkas perkara akibat demonstrasi Agustus. Nama-nama yang mungkin bagi negara hanyalah data, tapi bagi keluarga adalah harapan."

 

Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6