Imlek Bertemu Ramadan? Yuk Intip Keseruan Harmoni Imlek Nusantara di Lapangan Banteng

Imlek dan Ramadan hadir bersamaan di Harmoni Imlek Nusantara, Lapangan Banteng. Intip kemeriahan, kuliner halal, UMKM, dan semangat toleransi lintas budaya.

Diperbarui 28 Februari 2026, 12:06 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Suasana Lapangan Banteng, Jakarta, sepekan ini benar-benar hidup dan berbeda. Tawa pengunjung bercampur dengan aroma kuliner menggoda, lampu warna-warni yang gemerlap, dan hiburan seru yang bikin betah. Rasanya seperti masuk ke dunia festival yang penuh energi positif.

Festival Imlek Nasional 2577 resmi digelar dari 22 Februari hingga 1 Maret 2026, dengan tema Harmoni Imlek Nusantara – “Bhinneka Tunggal Ika: Berbeda-beda Tapi Tetap Satu”. Terlebih perayaan tahun baru Imlek kali ini beriringan dengan Ramadan, sehingga menciptakan suasana unik yang seru termasuk interaksi lintas budaya, dan kebersamaan yang bikin hati hangat.

Pengunjung bisa menikmati banyak hal sekaligus! Mulai dari Museum Terbuka Akulturasi Budaya Tionghoa, aneka pertunjukan budaya, bazar seni, kriya dan kreasi, dan bazar kuliner yang menyediakan ragam makanan minuman. Pas bagi warga yang hendak juga menghabiskan waktu menunggu berbuka sembari war takjil. 

Konsep inklusifitas inilah yang menjadikan festival ini sarat akan nilai toleransi, merangkul siapapun dalam sebuah harmoni, layaknya konsep Bhineka Tunggal Ika: Berbeda-beda tapi tetap satu. 

Atika, pengunjung asal Jakarta Pusat, menyebut momen perayaan Imlek tahun ini terasa istimewa karena berdekatan dengan bulan Ramadan. Menurutnya, perpaduan dua momentum tersebut menjadi simbol toleransi yang nyata.

"Kebetulan Imlek ini berdekatan dengan bulan Ramadan. Itu event yang sangat dinanti-nanti. Karena sangat berdekatan dengan umat Muslim dan menandakan adanya toleransi," ujarnya.

Bagi Atika, perayaan lintas budaya seperti ini memiliki makna yang lebih dalam dari sekadar festival. 

"Mengenal budaya orang lain itu sangat penting untuk meningkatkan toleransi. Antara budaya masing-masing agama, suku yang ada di Indonesia. Secara Indonesia kan sukunya banyak sekali ya. Jadi sangat penting,” ucapnya.

Ia juga menyampaikan pesan tentang pentingnya menjaga kebersamaan. “Toleransi itu indah. Jangan sampai dihancurkan oleh hal-hal yang tidak penting. Ayo kita sering-sering buat acara seperti ini, lintas budaya, untuk meningkatkan toleransi sesama manusia," ajaknya.

Soal fasilitas dan kuliner, Atika mengaku puas. Ia menilai pilihan makanan yang tersedia cocok di lidah masyarakat Indonesia dan suasana acara terasa nyaman.

"Kulinernya sendiri cocok di lidah saya sebagai orang Indonesia asli. Ada cendol, terus ada baso goreng. Kayaknya ada lontong cap go meh. Takjilnya juga ada biji salak khusus umat Muslim yang mau berbuka di sini. Fasilitasnya juga oke, nyaman, tempat duduknya banyak," ujarnya.

Festival Inklusif yang Bikin Bangga 

Melihat perayaan Imlek yang digelar lebih terbuka dan dirayakan secara nasional, Nevita sebagai etnis Tionghoa mengaku bangga. Ia merasa perayaan tersebut semakin diakui sebagai bagian utuh dari identitas Indonesia.

"Dari dulu rasanya sudah terbuka-terbuka saja. Tapi karena sekarang sudah dirayakan secara tingkat nasional, jadi rasanya saya sebagai yang dari lahir sudah merayakan Imlek itu bangga,"

Terkait konsep festival yang inklusif, menghadirkan Imlek Festival sekaligus bazar Ramadan, Nevita melihatnya sebagai sesuatu yang positif dan menarik.

"Bagus ya saat Imlek Festival sambil merayakan bazar Ramadan. Jadi kita bisa saling lihat-lihat bazarnya itu enaknya ada apa, apa sih yang menarik,”

Dari deretan booth yang ada, perhatian Nevita tertuju pada produk fesyen lokal yang memadukan unsur Nusantara dan oriental.

Untuk perayaan Imlek ke depan, Nevita berharap suasana kebersamaan semakin terasa dan bisa dirayakan oleh seluruh lapisan masyarakat. “Semoga perayaannya bisa lebih meriah lagi dan membawakan kebersamaan yang lebih berarti buat kita semua," 

Wisatawan Asing Terpesona dengan Budaya dan Perayaan di Indonesia

Mark, wisatawan asal Skotlandia, mengaku langsung merasakan suasana semarak begitu memasuki area festival. Musik dan aroma makanan menjadi kesan pertama yang menarik perhatiannya. Saat diminta membandingkan perayaan Imlek di Indonesia dengan di negaranya, Mark menilai perayaan di Indonesia lebih besar dan meriah.

“Indonesia jauh lebih besar. Ini perayaan yang besar. Saya sangat menyukai semua lampu-lampu, dekorasi, musik, dan pertunjukan. Sangat bagus.”

Bagi Mark, keunikan perayaan di Indonesia terletak pada perpaduan budaya dan latar belakang masyarakat yang beragam dalam satu ruang yang sama. “Campuran budaya. Ada Katedral di sini, Istiqlal di sini, Imlek di sini. Sangat bagus.”

Meski tertarik dengan pertunjukan budaya, Mark mengaku paling menikmati pengalaman mencicipi ragam kuliner yang tersedia.

“Saya suka menonton persembahan budaya, tapi secara jujur, saya sangat menikmati mencoba semua makanan.”

UMKM Merasakan Semangat Toleransi dan Kreativitas

Di Imlek Festival 2026 ini, berbagai UMKM lintas subsektor ekonomi kreatif dilibatkan, mulai dari kuliner, fesyen, kriya, wastra, hingga produk kreatif lokal dari berbagai daerah. Salah satunya adalah Malaika Creatio menghadirkan produk-produk dengan konsep ramah lingkungan.

Malaika, pemilik brand Malaika Creatio, mengatakan keikutsertaan brand-nya dalam festival yang mengusung toleransi dan kebersamaan ini sangat selaras dengan visi yang mereka usung, yakni mengangkat nilai-nilai Nusantara.

“Ini sangat cocok dengan tema kami, karena kami mengusung tema Nusantara, yaitu budaya, adat istiadat, dan destinasi wisata. Indonesia memiliki berbagai agama, suku, dan ras yang berbeda. Dengan adanya Imlek Festival ini sangat mendukung untuk meningkatkan awareness terhadap kerukunan antar suku dan antar agama,” kata Malaika.

Ke depan, Malaika berharap festival serupa dapat digelar lebih luas dan inklusif, tidak hanya terbatas pada momentum keagamaan tertentu.

“Kami mengharapkan festival yang serupa bukan hanya sekadar festival Imlek maupun festival agama lain atau suku tertentu, tetapi lebih berskala besar sehingga menunjukkan bahwa Indonesia ini sebenarnya bersatu walaupun berbeda-beda,” kata Malaika. Di bazar ini, membawa produk andalan yaitu tumbler dan complong.

Sementara itu, bagi Yulia, Co-Founder Bakpao Gandum RoyalKueID, momen berjualan di festival Imlek yang bertepatan dengan bulan Ramadan sebagai kesempatan unik dan menyenangkan.

“Suatu momen yang sangat indah karena ada keberagaman, bertepatan sekali tahun ini Imlek dan bulan Ramadan. Pas saat buka puasa, pengunjung bisa mencoba varian yang manis dari Bakpao Gandum. Bakpao Gandum ini lebih sehat, lebih banyak serat. Dengan 10 varian rasa saat ini, ada yang asin, ada juga yang manis, cocok untuk buka puasa," ungkapnya.

Selain bazar kuliner, fesyen, dan  hiburan, festival juga menghadirkan layanan kesehatan gratis, mulai dari cek gula darah, kolesterol, pemeriksaan gigi, hingga USG payudara dan screening HPV DNA. Selain pemeriksaan langsung juga ada screening lewat kuesioner. Pemeriksaan kesehatan di lokasi acara dibuka mulai sore hari sesuai rangkaian kegiatan, mulai jam 3 sore - 8 malam, dengan pendaftaran terakhir pukul 6 sore. Kuota layanan dibuka sekitar 50 hingga 100 peserta per hari dan dilaksanakan bergantian oleh puskesmas wilayah DKI Jakarta.

Jelang Puncak Perayaan dan Parade Imlek Nusantara

Jelang Malam Puncak perayaan Imlek Nasional, Ketua Umum Panitia Imlek Nasional yang sekaligus Wakil Menteri Ekonomi Kreatif (Ekraf) Irene Umar bersama Wakil Ketua Umum Panitia Imlek Nasional yang sekaligua Wakil Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA) Veronica Tan dan Utusan Khusus Presiden Indonesia Bidang Pembinaan Generasi Muda dan Pekerja Seni, Raffi Ahmad mengunjungi area bazar, menyapa pengunjung, dan membeli produk UMKM, termasuk karya penyandang disabilitas.

Malam Puncak Perayaan Imlek Nasional dijadwalkan pada Sabtu, 28 Februari 2026, pukul 20.00 WIB, menampilkan barongsai dan liong massal, pertunjukan musik dan tari tradisional, serta simbol harmoni bangsa. 

Sebelumnya, Parade Imlek Nusantara akan berlangsung pukul 15.00–17.00 WIB, mengisi jalan dengan Naga Liong, Barongsai, Wushu, Silat, Ondel-ondel, hingga Mobil Hias Kabinet Merah Putih, dari Jalan Katedral menuju Lapangan Banteng. Acara dilanjutkan dengan buka puasa bersama 5.000 porsi Ketupat Cap Go Meh, yang memadukan aroma masakan hangat, kebersamaan lintas budaya, dan semangat berbagi.

Saksikan Puncak Perayaan Imlek Nasional 2026 secara langsung pada 28 Februari 2026, pukul 20.00 WIB–selesai di Kanal YouTube @ImlekFestival, @bakom_ri, dan @ekrafRI.

 

(*)

Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6