Pramono Anung Ungkap Alasan Datangkan Ribuan Sapi Australia ke Jakarta

Pemerintah Provinsi DKI Jakarta mulai mengimpor 7.500 ekor sapi hidup dari Australia untuk menjaga stabilitas harga daging menjelang Ramadan dan Idul Fitri.

Diterbitkan 23 Februari 2026, 16:55 WIB
Share
Copy Link
Batalkan
Jadi intinya...
  • DKI Jakarta impor 7.500 sapi Australia untuk stabilkan harga daging jelang Ramadan.
  • Impor ini cegah inflasi pangan, terutama daging, yang biasa terjadi saat hari raya.
  • Impor langsung pertama setelah 28 tahun, bukti kepercayaan dan atasi kurangnya pasokan lokal.

Liputan6.com, Jakarta - Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta mulai mengimpor 7.500 ekor sapi hidup dari Australia untuk menjaga stabilitas harga daging menjelang Ramadan dan Idulfitri.

Hingga saat ini, sekitar 3.100 ekor sapi telah tiba di Jakarta melalui badan usaha milik daerah (BUMD) Dharma Jaya.

"Dengan adanya sapi dari Australia ini saya meyakini bahwa kebutuhan daging terutama untuk di Jakarta mudah-mudahan betul-betul bisa terjaga untuk tidak naik harganya seperti yang selalu kita lakukan untuk menjaga supaya tidak terjadi inflasi," kata Gubernur Jakarta Pramono Anung di Dermaga 101, Pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta Utara, Senin (23/2/2026).

Ia menjelaskan, kenaikan inflasi Jakarta setiap tahun umumnya dipicu lonjakan harga pangan saat Ramadan, terutama daging, cabai, dan beras. Oleh sebab itu, Pemprov DKI memilih menambah pasokan daging sejak awal.

"Faktor inflasi di Jakarta yang utama adalah menyambut Idul Fitri, Ramadan, biasanya daging, cabai, beras. Tapi alhamdulillah tiga yang utama ini mudah-mudahan di Jakarta tidak mengalami kenaikan yang signifikan," ungkap Pramono.

Dia menyebut impor langsung sapi dari Australia ke Jakarta ini baru kembali dilakukan setelah 28 tahun. Menurut Pramono, langkah tersebut menjadi tanda meningkatnya kepercayaan internasional kepada Jakarta.

"Kenapa ini sekarang dilakukan setelah 28 tahun? Karena memang selama ini mungkin kita belum dipercaya, tetapi sekarang kita sudah dipercaya untuk bisa mengimpor langsung sapi dari Australia," jelas Pramono.

 

Belum Mencukupi

Selain itu, kerja sama antarwilayah melalui skema sister city antara Jakarta dan sejumlah kota di Australia disebut turut membuka peluang impor tersebut.

Pramono menyatakan pemerintah pusat sebenarnya telah menyiapkan pasokan sapi dari daerah dalam negeri, termasuk Nusa Tenggara Timur (NTT). Namun, jumlahnya belum mencukupi kebutuhan konsumsi Jakarta.

"Sebenarnya pemerintah pusat pada waktu itu sudah menyiapkan untuk sapi ini bisa dari NTT juga. Tapi kenyataannya memang masih kurang. Sehingga dengan masih kurang itu, harus impor dari luar. Kalau nggak, harganya pasti akan naik tinggi," katanya.

Lebih lanjut, Pemprov DKI juga memastikan kondisi kesehatan ternak impor asal Australia itu aman dari penyakit mulut dan kuku (PMK). Kondisi seluruh sapi yang sudah masuk dilaporkan tidak terindikasi penyakit apapun.

"Penyakit mulut dan kuku enggak ada sehingga dengan demikian yang sudah datang di Jakarta nanti dari 7.500 tidak ada satu pun yang terindikasi sakit," kata Pramono.

Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6