Dukungan bagi UMKM jadi Penguat Usaha Ultra Mikro Perekonomian Nasional

Bagi UMKM atau Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah, masalah utama pengusaha ultra mikro bukan hanya keterbatasan modal, melainkan juga keterbatasan kapasitas.

Diterbitkan 01 Februari 2026, 14:30 WIB
Share
Copy Link
Batalkan
Jadi intinya...
  • Masalah UMKM ultra mikro bukan hanya modal, tapi juga kapasitas dan literasi usaha.
  • Pemberdayaan terintegrasi penting agar modal finansial tidak jadi beban dan usaha produktif.
  • Model PNM dengan pendampingan rutin terbukti tingkatkan ketahanan dan pertumbuhan usaha.

Liputan6.com, Jakarta - UMKM atau Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah sering kali disebut sebagai tulang punggung perekonomian nasional. Namun, di balik angka kontribusi yang impresif terhadap PDB dan penyerapan tenaga kerja, terdapat realitas yang lebih kompleks terutama pada segmen ultra mikro.

Di kelompok inilah ketahanan usaha tidak cukup ditopang oleh pembiayaan semata. Hal itu seperti disampaikan Sekretaris Perusahaan PT Permodalan Nasional Madani (PNM) L. Dodot Patria Ary.

"Dari perspektif ekonomi mikro, masalah utama pengusaha ultra mikro bukan hanya keterbatasan modal, melainkan juga keterbatasan kapasitas. Banyak pelaku usaha memiliki akses pasar yang terbatas, pencatatan keuangan yang minim, literasi usaha yang rendah, serta rentan terhadap guncangan eksternal mulai dari fluktuasi harga hingga bencana alam," ujar Dodot melalui keterangan tertulis, Minggu (1/2/2026).

Dia menyebut, pembiayaan memang penting sebagai bahan bakar awal. Namun tanpa pemberdayaan, kata dia, modal finansial berisiko menjadi beban. Kredit yang tidak dibarengi peningkatan kapasitas akan sulit mendorong produktivitas, apalagi pertumbuhan usaha.

"Pemberdayaan dalam konteks ini mencakup pendampingan usaha, penguatan literasi keuangan, pembentukan disiplin kelompok, hingga penanaman kepercayaan diri sebagai pelaku ekonomi," terang Dodot.

"Pendekatan ini terbukti mampu meningkatkan survivability usaha ultra mikro bukan hanya bertahan dalam jangka pendek, tetapi juga memiliki peluang naik kelas," sambung dia.

Dalam praktiknya, lanjut Dodot, pendekatan terintegrasi antara pembiayaan dan pemberdayaan masih relatif terbatas dilakukan secara konsisten.

 

Dampingi UMKM

Dodot menyebut, salah satu contoh yang menonjol adalah model yang dijalankan oleh PT PNM.

"Melalui pembiayaan ultra mikro yang disertai pendampingan rutin dan berbasis kelompok, PNM menempatkan para ibu-ibu pengusaha yang tergabung dalam program Membina Ekonomi Keluarga Sejahtera (Mekaar) bukan semata sebagai debitur, melainkan sebagai mitra dalam pembangunan ekonomi," terang dia.

Menurut Dodot, pendekatan tersebut memang menjadi fondasi utama PNM dalam mendampingi usaha ultra mikro.

"PNM meyakini bahwa pembiayaan harus berjalan seiring dengan pemberdayaan. Kami tidak hanya menyalurkan modal, tetapi juga hadir mendampingi, membangun kapasitas, dan menumbuhkan kepercayaan diri nasabah agar usaha mereka bisa bertahan dan berkembang secara berkelanjutan," papar dia.

Dodot menjelaskan, ekosistem pemberdayaan dan pembiayaan yang dibangun oleh PNM menciptakan multiplier effect yang lebih kuat. Peningkatan kapasitas individu akan berdampak pada produktivitas usaha, stabilitas pendapatan rumah tangga, hingga ketahanan ekonomi komunitas lokal.

"Keberhasilan UMKM tidak hanya diukur dari besarnya penyaluran dana, tetapi dari sejauh mana mereka mampu mengelola, mengembangkan, dan mempertahankan usahanya hingga memberi dampak sosial bagi lingkungan sekitarnya," tambah Dodot.

"Bagi PNM pembiayaan bukan tujuan akhir namun pemberdayaanlah yang akan menentukan apakah pengusaha ultra mikro mampu benar-benar tumbuh dan naik kelas," jelas Dodot.

Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6