Semangat Warga Aceh Tamiang Bangkit dari Kesedihan Usai Diterjang Banjir Bandang

Ibu Arnis, pemilik warung makan di Aceh Tamiang bekerja keras membersihkan lumpur 1 meter agar usahanya bisa bergeliat.

Diterbitkan 02 Januari 2026, 15:22 WIB
Share
Copy Link
Batalkan
Jadi intinya...
  • Ibu Arnis bangkit kembali membuka rumah makan Salero Awak pasca banjir Aceh Tamiang 2025.
  • Pembersihan rumah makan dari lumpur setebal 1 meter memakan waktu tiga minggu.
  • Tanggung jawab kemanusiaan terhadap 15 karyawan memotivasi Ibu Arnis untuk bangkit.

Liputan6.com, Jakarta - Ibu Arnis mulai bangkit. Dia tak mau terus larut dalam kesedihan panjang usai banjir bandang menerjang usahanya dan permukiman warga Aceh Tamiang pada akhir November 2025 lalu.

Ibu Arnis adalah pemilik rumah makan Salero Awak di Aceh Tamiang, Aceh. Sebulan setelah kejadian memilukan itu, dia putuskan bangkit. Dia memberanikan membuat rumah makannya. Hasilnya, Alhamdulillah sangat baik.

“Alhamdulillah omzetnya bagus. Walaupun dengan keterbatasan. Insya Allah ada kehidupan baru di balik musibah ini. Pasti ada peningkatan ekonomi, terutama Indonesia," kata Arnis, dikutip di Jakarta, Jumat (2/1/2025).

Tertimbun Lumpur Setebal 1 Meter

Ibu Arnis baru membuka kembali rumah makannya sekitar enam hari terakhir, setelah melalui proses pembersihan yang panjang dan melelahkan. Sebab, lumpur sisa banjir di warungnya mencapai satu meter. Tak hanya itu, peralatan dapur dan perabotan berserakan.

"Tiga minggu (pembersihan). Seminggu kita dengan nyorong (bersihkan) lumpurnya saja. Lumpurnya sedalam satu meter. Posisi alat-alat berserakan. Meja di atas meja, lemari di atas meja,” kata dia.

Di tengah kerusakan yang ditinggalkan bencana, Arnis memilih untuk memaknai musibah dengan keteguhan hati. Baginya, kehilangan adalah ujian yang harus dikembalikan kepada Sang Mahakuasa.

“Kalau nengok apa, sedih ya, tapi itu hanya titipan kan. Kita kembalikan saja ke Yang Kuasa,” ujarnya.

Tanggung Jawab Kemanusiaan

Keputusan untuk bangkit dan kembali berjualan tidak lepas dari rasa tanggung jawab kemanusiaan. Ibu Arnis mengaku memiliki 15 orang karyawan, sebagian di antaranya merupakan janda dan berada dalam kondisi ekonomi terbatas. Banyak dari para pekerjanya juga kehilangan rumah akibat banjir.

“Dengan nengok (melihat) pada karyawan saya, rata-rata rumahnya hilang. Habis. Itulah yang membuat ibu bangkit. Rasa kemanusiaan. Kalau gak bangkit kembali, kita mau kasih makan apa. Itulah yang membuat semangat ibu kembali,” ucapnya.

Dengan dukungan dari petugas Pekerjaan Umum (PU) serta para relawan, Rumah Makan Salero Awak akhirnya dapat kembali beroperasi. Meski belum sepenuhnya pulih, roda usaha mulai bergerak. Ibu Arnis menyebutkan omzet penjualan perlahan menunjukkan tanda-tanda perbaikan.

 

Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6