Wamenkomdigi Sebut Korban Terdampak Bencana di Aceh Dapat Internet Starlink Gratis Selama Sebulan

Wakil Menteri Komunikasi dan Digital (Wamenkomdigi), Nezar Patria mengatakan, sejumlah wilayah terdampak bencana di Aceh mendapat bantuan layanan internet satelit Starlink. Layanan ini diberikan secara gratis selama satu bulan.

Diterbitkan 10 Desember 2025, 19:07 WIB
Share
Copy Link
Batalkan
Jadi intinya...
  • Starlink gratiskan internet satu bulan di Aceh untuk daerah terdampak bencana.
  • Bantuan ini kebijakan global Starlink untuk konektivitas darurat di seluruh dunia.
  • Kemkomdigi koordinasi dengan PLN/Pertamina pulihkan BTS dan konektivitas Aceh.

Liputan6.com, Jakarta - Wakil Menteri Komunikasi dan Digital (Wamenkomdigi), Nezar Patria mengatakan, sejumlah wilayah terdampak bencana di Aceh mendapat bantuan layanan internet satelit Starlink. Layanan ini diberikan secara gratis selama satu bulan.

"Berdasarkan yang diumumkan oleh Starlink untuk daerah bencana di Aceh selama satu bulan diberikan (internet) gratis," kata Nezar saat ditemui di Jakarta Selatan, Rabu (10/12/2025).

Nezar menjelaskan, program layanan internet gratis tersebut merupakan kebijakan dari perusahaan yang bertujuan untuk membantu daerah-daerah terdampak bencana.

"Jadi bukan cuma di Aceh saja atau di Sumatera saja, tapi hampir di seluruh tempat di dunia. Di mana Starlink ada, mereka selalu memberikan bantuan seperti itu, digratiskan selama satu bulan," ujarnya.

Bantuan internet satelit telah disalurkan di sejumlah titik seperti di Pidie, Pidie Jaya, Bireun, Aceh Tamiang, Bener Meriah, dan Takengon.

Penuhi Kebutuhan Konektivitas

Menurut Nezar, bantuan tersebut membantu dalam memenuhi kebutuhan konektivitas para warga di posko bantuan. Jaringan internet Starlink secara umum berjalan dengan baik meski terkadang mengalami sedikit latensi akibat hujan deras yang mengguyur sebagian wilayah Aceh.

"Secara keseluruhan dia (Starlink) bekerja dengan baik untuk memberikan pesan-pesan dan juga komunikasi antar warga, terutama untuk memberitahukan mereka yang terdampak di daerah Sumatera, baik di Aceh, Sumut (Sumatra Utara), maupun Sumbar (Sumatra Barat) kepada warga mereka yang berada di luar daerah tersebut," jelasnya.

Nezar memaparkan, tingkat konektivitas di Aceh cenderung fluktuatif yang dipengaruhi oleh suplai listrik. Berdasarkan data per 5 Desember 2025, dari total 3.414 BTS di Provinsi Aceh, sebanyak 1.789 BTS atau 52,4 persen telah kembali aktif.

Pemerintah menargetkan, jumlah BTS yang dapat beroperasi kembali di Aceh mencapai 75 persen pada masa tanggap darurat.

"Angkanya up and down (naik turun) ya karena suplai listrik. Jadi kita pernah 54 persen, lalu pernah juga 62 persen. Target kita sebenarnya 75 persen untuk bisa segera di masa tanggap darurat ini," ucapnya, dilansir Antara.

Komdigi Koordinasi dengan PLN Pulihkan Suplai Energi untuk BTS

Kemkomdigi terus berkoordinasi dengan PLN guna memulihkan suplai energi untuk BTS yang belum beroperasi. Kordinasi dengan Pertamina juga dilakukan untuk memasok bahan bakar genset sebagai sumber energi BTS di wilayah yang belum terhubung listrik.

"Paling tidak bisa ter-cover daerah-daerah yang masih kritikal dan butuh bantuan telekomunikasi, agar memperlancar jalur bantuan logistik ke daerah-daerah yang terdampak," kata Nezar.

Dia menuturkan, Kemkomdigi melalui tim Balai Monitoring bersama satuan tugas yang dibentuk bersama operator seluler terus berupaya untuk memulihkan jaringan di Aceh.

"Kita koordinasi juga dengan BNPB (Badan Nasional Penanggulangan Bencana), pemda (pemerintah daerah), TNI, Polri, dan lainnya untuk mendeteksi di mana kebutuhan-kebutuhan sinyal itu harus terpenuhi," ucap Nezar.

 

Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6