Liputan6.com, Jakarta - Banjir bandang, longsor, dan rentetan bencana hidrometeorologi yang melanda berbagai wilayah Sumatera menjadi tanda jelas bahwa alam sedang memberi peringatan keras. Hutan-hutan yang dulu rapat dan basah oleh humus kini terbuka lebar, tercabik oleh pembukaan kebun dan penebangan pohon yang masif.
Sungai-sungai yang dulu tenang berubah menjadi arus liar membawa lumpur dan puing. Ketika akar-akar pepohonan tak lagi memegang tanah, desa-desa tenggelam, dan hidup-hidup manusia kehilangan pijakan.
Di tengah situasi itu, di antara deru mesin gergaji dan suara banjir yang membawa duka, ada sosok perempuan yang memilih berdiri sebagai penjaga. Teguh Santika (44), perempuan adat Suku Batin Sembilan. Dia yang menolak menyerah pada kerusakan. Baginya, menjaga hutan bukan slogan, tapi soal mempertahankan rumah, kehidupan, dan masa depan anak cucu.
Advertisement
Lahir, tumbuh besar, menikah, hingga memiliki anak di tengah rimbunnya pepohonan tropis, Bi Teguh, panggilannya, seperti menyatu dengan hutan. Ia merasa memiliki tanggung jawab moral untuk melindunginya.
“Sayo dari kecil, dibesarkan dan sampai punya suami ya tetap di hutan ini. Sampai bibi punya cucu nanti yo tetap di sini (hutan),” tutur Bi Teguh, beberapa waktu lalu, dengan logat khas Batin Sembilan yang begitu kental.
Di kawasan Hutan Harapan, sisa terakhir hutan tropis dataran rendah di Provinsi Jambi, Bi Teguh dan masyarakat Batin Sembilan membangun peradaban mereka sendiri. Semasa kecil, ia mengenang bagaimana orang tuanya menghidupi keluarga dengan mengambil getah damar, rotan, jernang, dan madu yang kemudian ditukar dengan kebutuhan pokok di desa terdekat.
Hidupnya kala itu adalah perjalanan seminomadik, pindah mengikuti aliran sungai dalam hutan.
“Dulu itu kalau sudah berbulan-bulan di satu tempat, barang yang dicari pasti habis. Jadi, pindah lagi, pindah lagi. Macam itu masa kecik bibi,” kenangnya.
Kini ia tinggal menetap di dalam kawasan restorasi ekosistem Hutan Harapan di Kabupaten Batanghari, Jambi, tetapi ritme hidup leluhurnya tetap melekat. Sesekali ia masih menyusuri hutan mencari penghidupan, sebagaimana dilakukan Batin Sembilan secara turun-temurun.
Namun hutan tidak lagi sekaya dulu. "Kalau dulu segala macam obat-obatan ado, makanan banyak di hutan ini. Kalau musim buah kami pergi ke situ. Di sini ado cempedak-nyo banyak, di situ duriannya sekian banyak. Kalau sekarang mano?” ucapnya pelan.
Perempuan Menjaga Hutan
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4563894/original/095073800_1693897687-Bi_Teguh_Ardi_Wijaya_Hutan_Harapan__10_.jpg)
Kesadaran bahwa hutan adalah sumber hidup membuat Bi Teguh ikut patroli hutan bersama tim penjaga. Ia menyusuri jalur-jalur hutan bukan hanya untuk mencari damar atau rotan, tetapi mencegah aktivitas perambahan kebun dan penebangan liar.
“Kalau cuma bapak-bapak patroli, mungkin anggotanya sedikit. Jadi kami ibu-ibu ikut bantu. Kalau dak macam itu hutan ini makin habis. Orang buka kebun sampai dekat dapur kami,” katanya.
Ia percaya, perempuan punya peran besar. "Kato kami orang Batin, betino itu penting dengan hutan daripada bapak-bapak. Kami banyak yang butuh hutan—kayu bakar, umpan pancing, rotan, damar. Jadi kami betino ikut jago hutan,” ujarnya.
Bi Teguh dan ibu-ibu Batin Sembilan juga mencari sumber ekonomi alternatif, menganyam rotan dan resam menjadi tangguk, bakung, ambung, piring, dan topi untuk dijual melalui PT Restorasi Ekosistem Indonesia (REKI).
Hutan Harapan seluas 98.555 hektare menyimpan 20 persen keanekaragaman hayati Sumatra dan menjadi rumah bagi Harimau Sumatera, Gajah Sumatera, Tapir, Beruang Madu, dan ratusan spesies flora-fauna lainnya.
Pernah dikunjungi Pangeran Charles pada 2008, kawasan ini kini berada di bawah tekanan kuat perambahan.
"Kelompok masyarakat adat seperti Batin Sembilan punya peran penting menjaga hutan karena hutan adalah rumah mereka,” ujar Hospita Simanjuntak, Manajer Komunikasi PT REKI.
Advertisement
Warisan untuk Anak Cucu
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/139859/original/100806bfoto-sumatera.jpg)
Bi Teguh mungkin tidak menyebut istilah perubahan iklim atau karbon. Tetapi ia memahami dengan caranya sendiri bahwa hutan harus tetap berdiri.
Namun di tengah laju perubahan iklim, dengan daya dan upayanya, perempuan adat seperti Teguh Santika, tetap berupaya menjaga hutan sebagai tempat kelahirannya. Ia tak ingin kerusakan hutan semakin parah.
"Harapannya bukan hanya untuk bibi. Tapi untuk dulur-dulur bibi yang ado di hutan ini, harapannya tetap akan menjadi hutan, akan menjadi lestari. Mungkin sekarang banyak yang terbuka, tapi mungkin 10 atau 15 tahun ke depan akan menjadi hutan lagi,” ujarnya.
Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8805424/original/032384700_1782904857-Cek_fakta_-_Anies_baswedan.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5490270/original/075910100_1770004204-Cek_Fakta_Tidak_Benar_Ini_Link_Pendaftaran_-_2026-02-02T104539.335.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8627383/original/048072800_1782622786-153948.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8782357/original/057831900_1782883984-Cek_fakta-_disabilitas.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4563893/original/033021200_1693897616-Bi_Teguh_Ardi_Wijaya_Hutan_Harapan__3_.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8256534/original/027399300_1781161052-Vertical_500x656_-_Pentas_Bola_Dunia_2026__3_.png)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8261515/original/075937400_1781733992-IMG-20260618-WA0000.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8578726/original/087210500_1782537285-063_2283517405.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4937793/original/094395600_1725589798-AP24249749330750.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8261539/original/051141200_1781743137-IMG-20260618-WA0008.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8264054/original/059677500_1782070488-Spain_s_Mikel_Oyarzabal_celebrates_with_teammate_Lamine_Yamal.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8389971/original/012637700_1782270142-AP26174800285397.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5556659/original/033473100_1776274063-000_A6D679V.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8782365/original/061503000_1782884376-AP26181805083891.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8782203/original/029416800_1782879842-mex4.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8782208/original/070447800_1782879843-mex9.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8776307/original/030285700_1782873381-AP26182087478676.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8524757/original/078321100_1782454482-AP26176835585287.jpg)