Kardinal Ignatius Suharyo Terkesan Gen Z jadi Relawan Pendamping Korban Kekerasan di Kepri

Ignatius Suharto terkesan saat berkunjung ke salah satu shelter Safe Migrant. Shelter yang dilayani oleh seorang pastor bernama Romo Paskalis. Di sana, Ignatius Suharyo melihat aksi kemanusiaan yang dilakukan anak-anak muda atau Gen Z terhadap korban kekerasan.

Diterbitkan 04 Desember 2025, 11:31 WIB
Share
Copy Link
Batalkan
Jadi intinya...
  • Kardinal Suharyo terkesan aksi Gen Z di shelter Safe Migrant membantu korban kekerasan.
  • Ia mengapresiasi pengorbanan TNI-Polri menjaga keutuhan NKRI.
  • Keuskupan khusus TNI-Polri dibentuk mendukung perjuangan kemerdekaan Indonesia sejak 1949.

Liputan6.com, Jakarta - Uskup Ordinariat Castrensis Indonesia (OCI) atau Uskup Umat Katolik di lingkungan TNI–Polri Kardinal Ignatius Suharyo, berkunjung ke Tanjung Balai, Kepulauan Riau, beberapa waktu lalu. Ignatius Suharyo berkunjung ke sejumlah kantor lembaga TNI–Polri di Tanjungpinang.

Dalam kunjungannya, Ignatius Suharto terkesan saat berkunjung ke salah satu shelter Safe Migrant. Shelter yang dilayani oleh seorang pastor bernama Romo Paskalis. Di sana, Ignatius Suharyo melihat aksi kemanusiaan yang dilakukan anak-anak muda atau Gen Z terhadap korban kekerasan. 

“Yang juga sangat menarik di dalam lembaga itu adalah ada banyak anak-anak muda yang biasanya disebut Gen Z, tetapi di sana namanya diganti Gen Sa. Maksudnya Sa itu adalah Samaria, Samaritan Jadi mereka itu adalah anak-anak muda, orang-orang muda yang rela mendampingi korban-korban itu,” ujar Ignatius Suharyo.

Menurutnya, anak-anak muda itu memiliki hati yang tulus membantu sesama. Membantu korban kekerasan dan perdagangan orang.

“Sungguh-sungguh dengan sukarela, tidak dibayar dan sebagainya Mereka adalah orang-orang muda yang punya hati melihat korban-korban yang begitu menderita, terluka karena diperlakukan, diperdagangkan, mengalami kekerasan,” jelasnya. 

Ignatius Suharyo juga berkunjung ke berbagai lembaga milik TNI dan Polri. Dia terkesan dengan anggota TNI dan Polri yang rela meninggalkan keluarga demi menjaga keutuhan NKRI.

“Banyak anggota TNI dan Polri yang dengan rela berkorban meninggalkan keluarga, berpisah dengan keluarga dan sebagainya untuk menjaga Republik yang kita cintai ini,” ucapnya.

Kehadiran Keuskupan Khusus TNI dan Polri

Dalam kunjungannya dan bertemu dengan anggota TNI dan Polri, Ignatius Suharyo berbincang mengenai salah satu keusukupan yang paling unik. Yakni keuskupan khusus untuk lingkungan TNI dan Polri.

Kehadiran keuskupan ini terkait dengan sejarah panjang Indonesia. Terbentuknya keuskupan ini didahului oleh pengakuan negara Vatikan untuk kemerdekaan Republik Indonesia pada bulan Juli tahun 1947.

Pada tahun 1949, Sri Sultan Hamengkubuwono IX sebagai Menteri Pertahanan, membentuk satu unit layanan mental rohani. Tujuannya untuk mendukung, memberi kekuatan, memberi motivasi dan inspirasi kepada angkatan perang Republik Indonesia. 

Satu bulan kemudian pimpinan Kerajaan Katolik mendirikan yang dulu namanya Vikaryat Militer menjadi keuskupan untuk umat katolik di lingkungan TNI dan Polri.

“Pendirian keuskupan militer pada waktu itu adalah tanda yang sangat jelas bahwa gereja katolik mendukung perjuangan Republik Indonesia untuk mempertahankan kemerdekaan Republik Indonesia,” jelasnnya. 

Ignatius Suharyo berpesan, agar semangat ini terus dijaga. Agar para prajurit TNI dan Polri yang beragama Katolik selalu menanamkan filosofi dan memahami sejarah keberadaan keuskupan militer.

“Yang memilih profesi sebagai anggota TNI dan Polri memperjuangkannya dengan inspirasi iman katolik. Yang dalam bahasa populer menjadi 100% katolik, 100% Indonesia, 100% DND, 100% Polri,” tutupnya.

Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6