Liputan6.com, Jakarta - Badan Narkotika Nasional (BNN) bersama tim gabungan Badan Intelijen Strategis (BAIS) TNI berhasil meringkus Dewi Astutik alias Mami yang merupakan penyelundupan dua ton narkotika jenis sabu jaringan golden triangle. Sementara, keberadaan sang Escobar Indonesia yakni Freddy Pratama hingga kini masih menjadi misteri.
Saat rilis pengungkapan kasus narkoba sepanjang Januari-Oktober 2025, Dirtipid Narkoba Bareskrim Polri Brigjen Eko Hadi Santoso sempat mengungkapkan kendala penangkapan Freddy Pratama yang telah buron sejak 2014.
"Kendala utamanya yang dikejar lari. Pindah sana-sini," tutur Eko di Bareskrim Polri, Jakarta Selatan, Rabu, 22 Oktober 2025.
Advertisement
Pencarian Freddy Pratama itu pun turut melibatkan Divisi Hubungan Internasional Polri melalui Interpol dengan penerbitan Red Notice. Hanya saja, gerakan gembong narkoba tersebut licin layaknya belut.
Dalam momen yang sama, Kepala BNN RI Komjen Suyudi Ario Seto sempat mengungkapkan dugaan posisi terkini dari Freddy Pratama.
"Kita juga masih berkoordinasi dengan jajaran Bareskrim untuk mengejar kedua tersangka (Dewi Astutik dan Freddy Pratama) ini. Untuk keberadaan yang jelas, ada di satu negara ya," ujar Suyudi.
Belum berbuah hasil Freddy, sasaran buron lain yakni Dewi Astutik tertangkap di wilayah Sihanoukville bagian barat negara Kamboja, saat hendak masuk ke dalam salah satu lobi hotel pada Senin, 1 Desember 2025 sekitar pukul 13.39 waktu setempat. Penangkapan berlangsung sangat cepat hingga nihil perlawanan darinya.
"Saat itu target berhasil diamankan ketika sedang bersama dengan seorang laki-laki," kata Kepala BNN RI Komjen Pol Suyudi Ario Seto dalam konferensi pers di Tangerang, Selasa (2/12/2025).
Dia menyampaikan, setelah diamankan Dewi langsung dipindahkan ke wilayah Phnom Penh untuk proses introgasi sebagai verifikasi identitas guna dilakukan pemulangan ke negara Indonesia.
"Dewi Astutik selanjutnya akan menjalani pemeriksaan intensif untuk mengungkap alur pendanaan, logistik, dan pihak-pihak yang terlibat dalam jaringan internasional yang beroperasi ke sejumlah negara," ungkapnya.
Dewi Astutik alias Mami diketahui merupakan aktor intelektual penyelundupan dua ton sabu jaringan Golden Triangle yang digagalkan pada Mei 2025 lalu serta beberapa kasus besar tahun 2024 yang terkait jaringan Golden Crescent.
Dalam pengendalian Dewi, jejaring ini diketahui beraktivitas sebagai pengambil dan distribusi narkotika berbagai jenis, termasuk kokain, sabu, dan ketamin, dengan tujuan negara Asia Timur dan Asia Tenggara.
"Dia merupakan aktor utama dari penyelundupan dua ton sabu senilai Rp 5 triliun dan kasus narkotika lainnya yang terjadi di wilayah Indonesia. Penangkapan dua ton sabu tersebut berhasil menyelamatkan sekitar 8 juta jiwa dari ancaman bahaya narkotika," kata dia.
Diduga Satu Jaringan dengan Freddy Pratama
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5432406/original/033934500_1764772245-9149c73e-e096-4b74-aa0d-3768358d68ae.jpg)
Badan Narkotika Nasional (BNN) Republik Indonesia mengungkapkan bahwa sosok buron interpol Dewi Astutik terlibat ke dalam salah satu jaringan gembong narkoba Fredy Pratama asal Kalimantan.
"Berdasarkan hasil analisa terdapat dua nama utama asal Indonesia yang mendominasi penyelundupan narkoba di kawasan Golden Triangle, yakni Freddy Pratama," kata Kepala BNN RI Komjen Pol Suyudi Ario Seto dalam konferensi pers di Tangerang, Selasa (2/12/2025).
Ia mengatakan, Dewi Astutik yang juga menjadi buronan aparat penegak hukum Korea Selatan ini terlibat dalam pengendalian perdagangan narkotika jaringan Asia Timur, Tenggara dan Afrika.
"Dewi merupakan rekrutmen dari jaringan perdagangan narkotika Asia Afrika dan juga menjadi DPO dari negara Korea Selatan," ujarnya.
Suyudi bilang, saat ini tim penyidik BNN tengah melakukan pendalaman pemeriksaan terhadap Dewi sebagai mengungkap peran atas keterlibatan dari buron Fredy Pratama. Hasil pendalaman awal, Dewi Astutik sudah merekrut kurir sejak 2023 dan jaringannya mulai beroperasi pada awal 2024.
"Daerah operasi Paryatin (Indonesia-Cambodia) Kurir-kurir Paryatin alias Dewi beroperasi di negara-negara antara lain Indonesia, Laos, Hongkong, Korea, Brazil, Ethiopia," kata Kepala BNN RI Komjen Pol. Suyudi Ario Seto dalam keterangannya kepada wartawan, Rabu (3/12/2025).
Suyudi mengatakan, sejauh ini memang belum ada bukti Dewi merupakan orang dekat atau satu jaringan dengan gembong narkoba Fredy Pratama. Dari analisis awal, jaringannya lebih mengarah pada kombinasi sindikat Kamboja–Nigeria–Brasil. Meski begitu, penyidik tetap menggali kemungkinan kaitan dengan Fredy karena operasi kelompok Fredy Pratama.
"Paryatin sementara merupakan jaringan Cambodia-Nigeria-Brazilia. Jadi belum terkonfirmasi sebagai rekan Fredy Pratama. Ya BNN turut berkolaborasi bersama Polri dan Bea Cukai guna mendalami Operasi Jaringan Fredy Pratama," ujar dia.
Selain mengedarkan sabu, jaringan Dewi juga memasok sejumlah jenis narkotika ke beberapa negara. Informasi yang didapat BNN, Dewi berstatus buronan Korea Selatan. Hal ini diketahui setelah adanya komunikasi dengan Kejaksaan Korsel pascapenangkapan Iqbal, WNI yang direkrut Dewi di Jeju.
"Berdasarkan hasil pendalaman dan analisa, Narkoba yang diedarkan jaringan Paryatin alias Dewi astuty di negara-negara antara lain Indonesia, Laos, Hongkong, Korea, Brazil, Ethiopia, dan dari pendalaman didapatkan info benar Paryatin alias Dewi astuty merupakan DPO Negara Korea Selatan (didapat info saat ada komunikasi BNN dengan Kejaksaan Korea pasca-tertangkapnya Iqbal WNI rekruitan Paryatin alias Dewi, di Jeju Korea oleh Bea Cukai Korsel," ujar dia.
Adapun sosok laki-laki yang ditangkap bersama Dewi Astutik nyatanya adalah warga Pakistan bernama Abdul Halim. Namun, nama dan identitas lelaki tersebut kini masih dilakukan penyelidikan oleh Polisi Kamboja.
"Sementara info didapatkan, lelaki tersebut diakui sebagai WN Pakistan dengan panggilan Abdul Halim, yang diduga sebagai Pacar Paryatin alias Dewi Astutik," ucap dia.
Advertisement
Freddy Pratama Dikejar Polisi 4 Negara
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4575285/original/038167900_1694675998-Banner_Infografis_Memburu_Gembong_Narkoba_Internasional_Fredy_Pratama.jpg)
Freddy Pratama menjadi buronan kelas kakap pihak kepolisian dari empat negara, lantaran sepak terjangnya sebagai salah satu gembong narkoba yang paling dicari akibat pengedaran narkotika lintas negara.
Pejabat Dirtipidnarkoba Bareskrim Polri sebelumnya, Brigjen Mukti Juharsa yang juga Wakasatgas Penanggulangan Peredaran dan Penyalahgunaan Narkoba (P3GN) menjelaskan, Polri telah bekerja dengan kepolisian dari Thailand, Malaysia, dan Australia.
“Perlu saya sampaikan kami pada 2 minggu lalu, melakukan pertemuan di Malaysia dengan 4 kepolisian. Yaitu Australia, Thailand, Malaysia dan Indonesia,” kata Mukti saat jumpa pers, Senin (6/5/2024).
Sementara dari hasil pertemuan kepolisian empat negara, lanjut Mukti, didapat informasi kalau Freddy masih bersembunyi di hutan daerah Thailand. Oleh sebab itu Polri, sampai saat ini masih melakukan perburuan terhadap Freddy.
“Hasil pertemuan kami dengan kepolisian Australia, Malaysia dan Thailand menjelaskan bahwa Fredy Pratama masih berada di Thailand, dan masih berada di dalam hutan,” ujarnya.
Sedangkan, Mukti menjelaskan alasan dari Freddy masih mengedarkan narkoba lewat kaki tangan di Indonesia. Lantaran, pihaknya telah bekerjasama dengan kepolisian Thailand untuk melakukan tindak pidana pencucian uang (TPPU).
“Karena dia sudah kehabisan modal. Karena kami sudah sepakat kemarin, untuk Fredy Pratama akan kita lengkapi perlengkapan dari Thailand, akan dilakukan upaya TPPU terhadap istrinya Fredy Pratama di Thailand,” kata dia.
“Jadi pada udah pengembangan akan dimiskinkannya istri Fredy Pratama di Thailand. Kita sedang melakukan koordinasi terus, agar TPPU nya, berdasarkan laporan polisi kita bisa diungkap Thailand,” tambahnya.
Meski dalam kasus TPPU Freddy ditangani oleh Thailand, namun Mukti menegaskan Polri tetap meminta kepada kepolisian Thailand untuk menulanglan Freddy ke tanah air apabila nanti ditangkap.
“Tapi dari pihak kepolisian Thailand meminta hanya mereka yang ungkap untuk TPPU. Untuk Freddy Pratama sendiri ini masih 50:50. Apakah diserahkan ke Indonesia atau tidak,” jelasnya.
“Kemarin saya desak agar diserahkan ke Indonesia, karena tindak pidana awal adalah di Indonesia, sementara Thailand hanya masalah TPPU,” sambung Jenderal Bintang Satu Polri tersebut.
Adapun sejauh ini Polri telah menyita aset yang terkait Freddy Pratama di Indonesia sebesar Rp432,2 miliar. Dengan total tersangka yang berhasil diringkus sebanyak 60 orang.
Di antaranya 4 orang tersangka pada kasus laboratorium gelap di Sunter telah ditetapkan sebagai tersangka. Secara rinci untuk tahap dua sebanyak 45 tersangka, P-19 sebanyak 1 tersangka, dan masih proses penyidikan sebanyak 14 orang.
Perintah Kapolri Tangkap Freddy Pratama
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4572668/original/087849900_1694517411-TPPU_Fredy_Pratama-IMAM_12.jpg)
Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo telah memerintahkan jajarannya agar segera menangkap gembong narkoba internasional, Freddy Pratama.
"Kita tahu bahwa jaringannya terus kita ungkap namun saya juga sudah perintahkan untuk cepat atau lambat Freddy Pratama harus bisa diamankan," tegas Sigit saat konferensi pers di Rupatama Mabes Polri, Kamis (5/12/2024).
Penyelidikan Freddy Pratama di tangan tangan Polri memang saat ini belum mendapatkan perkembangan yang signifikan.
Freddy juga sempat disebut-sebut tengah berada di dalam hutan Thailand. Anggota polri yang juga sebelumnya pernah dikirim ke sana namun belum mendapatkan perkembangan lebih lanjut.
"Tentunya saat ini saya sudah perintahkan Kabareskrim dan Kadiv hubinter untuk terus melakukan kegiatan, dalam hal ini baik dengan interpol ataupun dengan kegiatan police to police untuk terus mengejar keberadaan dari Freddy Pratama," ungkap Kapolri.
Kabar terakhir soal Freddy Pratama, pejabat Dirtipidnarkoba Bareskrim Polri saat itu yakni Brigjen Mukti Juharsa mengatakan, jaringan gembong narkoba internasional Freddy Pratama masih aktif mengirim ‘barang’ atau narkoba ke Indonesia.
"Dia masih aktif mengirim barang-barang di wilayah Malaysia dan Indonesia," kata Mukti di Gedung Bareskrim Polri, Jakarta, Kamis (28/11/2024).
Dia mengatakan, hingga kini pihaknya terus menangkap jaringan gembong narkoba itu.
"Jaringan Freddy Pratama sudah dapat kemarin, oleh Subdit III. Ada (barang bukti) 25 kilogram. Itu sudah ter-update. Terus kita pantau," ucapnya.
Oleh karena itu, dalam upaya penangkapan jaringan Freddy Pratama di Malaysia, Bareskrim Polri bersama Polis Diraja Malaysia menjalin kerja sama dengan Jabatan Siasatan Jenayah Narkotik Polis Diraja Malaysia (JSJN PDRM).
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4575287/original/050756400_1694676066-Infografis_SQ_Memburu_Gembong_Narkoba_Internasional_Fredy_Pratama.jpg)
Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6
Advertisement
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8810983/original/080616100_1782907341-cek_fakta_-_bibit_ayam_dan_ikan.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/2559129/original/026504800_1546249540-vietnam.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8805424/original/032384700_1782904857-Cek_fakta_-_Anies_baswedan.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5490270/original/075910100_1770004204-Cek_Fakta_Tidak_Benar_Ini_Link_Pendaftaran_-_2026-02-02T104539.335.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4840762/original/096550000_1716452844-IMG-20240522-WA0078.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8256534/original/027399300_1781161052-Vertical_500x656_-_Pentas_Bola_Dunia_2026__3_.png)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8776140/original/038104800_1782846348-063_2284057834.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8711662/original/096717100_1782792792-korsel_3.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8864051/original/078185200_1782929110-063_2284211401.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8933715/original/054098500_1782962062-AP26183008148565.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8929510/original/065051700_1782959692-bos7.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8920532/original/092816500_1782954338-AP26183030266108.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8262489/original/072589900_1781818934-Switzerland_s_Johan_Manzambi.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8888290/original/030850900_1782938816-Senegal_s_Habib_Diarra__21__scores_their_first_goal_against_Belgium_goalkeeper_Thibaut_Courtois.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8898171/original/047299800_1782942914-Belgium_s_Romelu_Lukaku_senegal.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8896227/original/086707700_1782942096-Belgium_s_Romelu_Lukaku.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8782402/original/009814100_1782885154-belanda.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8901298/original/009057900_1782944367-Belgium_s_Youri_Tielemans__left__celebrates_with_Belgium_s_Romelu_Lukaku.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8263282/original/007416900_1781876347-WhatsApp_Image_2026-06-19_at_19.52.19.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8263246/original/014499600_1781871195-WhatsApp_Image_2026-06-19_at_19.10.06.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8263232/original/074996000_1781869809-WhatsApp_Image_2026-06-19_at_18.45.06.jpeg)