Bongkar Pasang Jabatan Struktur Elite Nahdliyin, Serangan Balik Gus Yahya di Tengah Polemik Pemecatan?

Alih-alih mundur atau meredam eskalasi, Gus Yahya justru melakukan rotasi pada tataran elite, yaitu lima pejabat struktural PBNU, sebuah manuver yang bagi sebagian kalangan dilihat sebagai serangan balik strategis di tengah upaya pencopotannya sebagai Ketua Umum PBNU.

Diterbitkan 29 November 2025, 06:06 WIB
Share
Copy Link
Batalkan
Jadi intinya...
  • Gus Yahya merotasi lima pejabat PBNU di tengah polemik kepemimpinannya.
  • Rotasi menegaskan kendali Gus Yahya atas PBNU di tengah isu pencopotan.
  • Tujuannya memastikan tugas organisasi berjalan dan memperkuat khidmah NU.

Liputan6.com, Jakarta - Di tengah riuh polemik yang mengguncang tubuh Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU), Yahya Cholil Staquf, atau yang akrab disapa Gus Yahya, mengambil langkah yang mengejutkan.

Alih-alih mundur atau meredam eskalasi, ia justru melakukan rotasi besar-besaran terhadap lima pejabat struktural PBNU, sebuah manuver yang bagi sebagian kalangan dilihat sebagai serangan balik strategis di tengah upaya pencopotannya sebagai Ketua Umum PBNU.

Langkah itu diumumkan seusai rapat tanfidziyah di Kantor PBNU, Jakarta, Jumat (28/11/2025), hanya beberapa hari setelah polemik mengenai legitimasi kepemimpinannya mengemuka ke publik, babak baru dari perpecahan yang memperlihatkan tarik-menarik kuasa di organisasi Islam terbesar di Indonesia tersebut.

“Rotasi ini sebagaimana diatur dalam aturan perkumpulan sebagai forum permusyawaratan tertinggi kedua setelah Muktamar. Ini semua kita maksudkan supaya tugas-tugas yang harus dipertanggungjawabkan oleh PBNU tetap bisa dijalankan dengan baik,” ujar Gus Yahya.

Langkah Restrukturisasi di Tengah Badai

Lima nama dalam struktur penting PBNU digeser. KH Masyhuri Malik berpindah dari Ketua PBNU menjadi Wakil Ketua Umum.

Saifullah Yusuf (Gus Ipul) digeser dari posisi Sekjen menjadi Ketua PBNU, sementara H Gudfan Arif yang semula menjabat Bendahara Umum kini duduk sebagai Ketua PBNU.

Rotasi juga menyentuh  Amin Said Husni, dari Wakil Ketua Umum kini menjadi Sekjen PBNU, serta Sumantri yang naik dari Bendahara menjadi Bendahara Umum.

Di tengah isu bahwa dirinya sudah dicopot dan digantikan kepemimpinannya, langkah struktural ini dianggap menegaskan bahwa Gus Yahya masih memegang kendali komando PBNU dan tidak berniat menyerahkan ruang gerak kepada kubu yang ingin menyingkirkannya.

"Turbulensi Tidak Boleh Menghentikan Khidmah"

Konflik keras yang menyeruak ke publik belakangan ini bagi Gus Yahya bukan alasan untuk menghentikan roda organisasi. Ia menegaskan PBNU tidak boleh larut dalam drama internal dan meninggalkan mandat besar umat.

“Turbulensi PBNU yang terjadi belakangan tidak boleh menjadi penghalang untuk tetap menjalankan tugas-tugas keagamaan dan pengabdian kepada masyarakat. Karena tugas-tugas itu amanat utama, bukan hanya kepada Muktamar, tetapi juga kepada konstituen organisasi, dan ini tanggung jawab ilahiyah di hadapan jutaan orang,” tegasnya.

Rapat tanfidziyah tersebut juga membahas peta jalan NU 2025–2050 serta evaluasi kinerja organisasi. Sebuah sinyal kuat bahwa agenda strategis tetap berjalan meski PBNU didera gejolak politik internal.

Meningkatkan Level Khidmah

Dalam pandangannya, restrukturisasi bukan sekadar mengisi kursi, melainkan upaya memposisikan NU untuk menjemput masa depan.

“Visinya didasarkan pada wawasan tentang peradaban tahun ke depan. Kita tahu perubahan begitu akseleratif dan menyangkut aspek-aspek fundamental dalam kehidupan masyarakat,” ujar Gus Yahya.

Ia menegaskan NU harus memperkuat kapasitas khidmah agar tidak tertinggal dalam perubahan global.

Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6