Aktivitas Vulkanik Gunung Semeru Ternyata Meningkat saat Hujan, Begini Penjelasan Pakar ITB

Pakar ITB menyatakan, faktor cuaca berperan besar dalam memperkuat tekanan erupsi Gunung Semeru.

Diterbitkan 25 November 2025, 09:32 WIB
Share
Copy Link
Batalkan
Jadi intinya...
  • Musim hujan tingkatkan aktivitas Semeru, picu letusan freatik dan kikis abu.
  • Aliran lahar ancaman terbesar musim hujan, melaju cepat di sungai berkelok.
  • Status Semeru Awas (Level IV) karena peningkatan gempa dan parameter vulkanik.

Liputan6.com, Jakarta - Aktivitas vulkanik Gunung Semeru kembali meningkat seiring memasuki musim hujan. Akademisi Institut Teknologi Bandung (ITB) sekaligus Sekretaris Jenderal Ikatan Ahli Geologi Indonesia (IAGI), Dr. Eng. Mirzam Abdurrachman, menyatakan faktor cuaca berperan besar dalam memperkuat tekanan erupsi di gunung tertinggi di Jawa tersebut.

Menurut Mirzam, curah hujan tinggi dapat memicu letusan freatik ketika air meresap ke zona panas di puncak Semeru.

“Air yang masuk itu akan terpanaskan, berubah menjadi uap, menambah tekanan, dan kemudian letusan terjadi,” ujarnya dalam keterangan tertulis, Selasa (25/11/2025).

Ia menambahkan, hujan juga mengikis lapisan abu yang selama ini menjadi penahan tekanan dari bawah. Kondisi itu membuat akumulasi gas dan energi lebih mudah terlepas.

Selain bahaya letusan, Mirzam menegaskan musim hujan meningkatkan risiko aliran lahar. Ia menyebut lahar sebagai ancaman terbesar pada periode basah karena material vulkanik yang bercampur air dapat melaju cepat di sepanjang sungai.

“Yang paling berbahaya adalah bagian sungai yang berkelok. Lahar kental tidak bisa bermanuver saat menghadapi tikungan,” tuturnya.

Di sisi lain, Gunung Semeru tercatat pernah mengeluarkan awan panas guguran dengan jarak luncur hingga 15,5 kilometer ke arah tenggara. Wilayah tersebut, termasuk zona bantaran sungai, diminta tetap waspada karena potensi aliran lahar dan sebaran abu sangat dipengaruhi arah angin.

Rekomendasi PVMBG

Terkait kenaikan status Gunung Semeru dari Waspada (Level II) ke Siaga (Level III), Dr. Mirzam menjelaskan bahwa PVMBG mengambil langkah tersebut berdasarkan peningkatan parameter vulkanik. Adapun, terkini status Semeru berada di Level IV (Awas).

“Intensitas gempa vulkanik semakin sering, bersamaan dengan perubahan kandungan gas, kenaikan temperatur, hingga deformasi tubuh gunung,” katanya.

Ia mengimbau masyarakat mengikuti rekomendasi resmi PVMBG dan memantau perkembangan aktivitas gunung melalui aplikasi Magma Indonesia. Bagi warga yang masih harus beraktivitas di luar rumah saat abu turun, ia menyarankan penggunaan masker basah untuk menekan risiko paparan.

“Menggunakan masker yang dibasahi dapat meningkatkan daya rekat terhadap abu vulkanik,” ujarnya.

PVMBG terus memonitor aktivitas Semeru dan meminta warga di zona bahaya untuk mengungsi ke lokasi aman hingga kondisi dinyatakan stabil.

Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6