Kisah Muram Blok G Tanah Abang, Ikon Keberhasilan Jokowi Kini Hanya Lorong Gelap dan Sepi

Blok G, pada masa itu, tidak hanya hidup, ia menjadi simbol keberhasilan Jokowi merangkul PKL dengan cara manusiawi. "Ditata, bukan digusur," demikian kalimat yang selalu digaungkan oleh Jokowi.

Diterbitkan 18 November 2025, 08:08 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Deretan kios yang tertutup rapat langsung menyergap siapa pun yang melangkah ke Blok G Tanah Abang. Aroma pesing bercampur sampah menyeruak dari celah-celah lantai.

Tangga besi berderit seperti menahan napas terakhirnya, sementara suara pedagang yang masih bertahan terdengar pelan, jauh dari hiruk pikuk pasar terbesar se-Asia Tenggara yang dulu menjadi ikon.

Lorong-lorong gelap, coretan dinding, dan teralis yang dibiarkan terkunci kini menjadi wajah baru Blok G, seolah pasar ini sudah kehilangan denyut hidupnya.

Namun Blok G tidak selalu muram. Dua belas tahun lalu, di era Gubernur Joko Widodo, blok ini justru menjadi primadona. Keputusan Jokowi merelokasi pedagang kaki lima Tanah Abang ke gedung resmi, termasuk ke Blok G bahkan dipuji sebagai model penataan PKL paling sukses di Indonesia. 

"Bagus, ramai omsetnya. Saya di lantai satu ini, Rp5 juta sehari dapat,‎” kenang J, pedagang pakaian yang sudah puluhan tahun menghuni Blok G. Suaranya bergetar ketika mengenang masa itu. "Ramai sekali. Hidup pasar ini dulu," kata J saat berbincang dengan Liputan6.com, Senin (17/11/2025). 

Blok G, pada masa itu, tidak hanya hidup, ia menjadi simbol keberhasilan Jokowi merangkul PKL dengan cara manusiawi. "Ditata, bukan digusur," demikian kalimat yang selalu digaungkan oleh Jokowi. 

Sekarang: Nol Rupiah dan Lorong Sunyi

Namun kejayaan itu kini tinggal cerita yang terasa semakin jauh. Saat ditanya bagaimana kondisinya hari ini, J hanya mengangkat bahu, menatap lengang bangunan yang selama bertahun-tahun menjadi sumber hidupnya.

“Sekarang nih, nol. Banyak kosong tiap hari. Nggak laris. Nggak ada penghasilan pemasukan,” katanya. 

Pantauan Reporter  Liputan6.com, Rio Ferdinand di lapangan menemukan hanya beberapa kios di lantai dasar yang masih buka. Itu pun bisa dihitung dengan jari. Di sudut lain, sekelompok pria yang menyerupai preman duduk melingkar memainkan kartu.

"Pemandangan itu bikin pembeli makin takut masuk,” bisik J.

Menurut J, kemerosotan Blok G bukan juga karena pandemi Covid-19, sebagaimana yang sering menjadi alasan pemerintah daerah, saat menjawab alasan mengapa Blok G sepi pengunjung. 

“Ini sebelum Covid. Dari Covid makin banyak berkurang, karena udah enggak ada perhatiannya. Jadi susah jadinya,” ucapnya.

Ia menyebut PD Pasar Jaya tidak lagi hadir bagi pedagang. Pedagang merasa dibiarkan bertahan sendiri. "Orang gimana mau bertahan? Ya lari ke bawah buat kehidupan sehari-hari,” katanya.

 

Merasa Jadi Korban Politik

Faktor terbesar hilangnya pembeli, menurut J, adalah diputusnya akses skybridge dari Stasiun Tanah Abang ke Blok G.

"Pas zamannya Pak Jokowi aksesnya dibuka. Setelah itu diputus. Enggak ada tangga, akses mati semua,” jelasnya.

"Dimatikan banget. Itu awal kehancuran Blok G," kata dia. 

Pasar yang dulu ramai karena akses yang terbuka kini seperti dikeluarkan dari jalur utama pengunjung.

Cerita J mengalir semakin getir. Ia menyebut masa-masa ketika PKL dilegalkan di era Gubernur Anies Baswedan, kemudian ditutup lagi. Relokasi ke skybridge pun justru makin mematikan pedagang yang resmi membayar retribusi di Blok G.

“Waktu zamannya Pak Anies, kaki lima dilegalkan di bawah. Itu ditutup semua. Enggak ada pengunjung. Setelah itu dinaikin ke atas skybridge. Parah juga,” katanya.

Jadi kayak korban politik pasar ini," tegasnya lagi. 

Janji Tempat penampungan Sementara yang Tak Pernah Datang

J juga mengungkap janji PD Pasar Jaya yang tak pernah ditepati. Direktur Utama saat itu, Arief Nasruddin, menjanjikan Tempat Penampungan Sementara (TPS) baru agar pembangunan Blok G bisa dimulai.

“Nomor kiosnya sudah dibagi. Disuruh lunasi tunggakan. Kami sampai minjem-minjem duitnya,” cerita J.

Namun setelah pedagang membayar, pembangunan tak pernah dimulai.

“PHP terus. Tiga kali dibohongi… Nggak ada bukti-buktinya,” katanya.

Sebanyak 858 pedagang lantai satu sudah registrasi sejak 2019, tetapi hingga 2025 tak satu pun TPS berdiri.

Tagihan Tetap Datang di Tengah Gelap

Meski Blok G gelap, kosong, dan tak berpengunjung, surat peringatan tetap berdatangan.

“Itu surat peringatan semua,” katanya, menunjuk rolling door yang kusam. “Pengelolanya nggak bisa bekerja. Kami nggak dikasih solusi. Dipaksa bayar terus.”

Lebih menyakitkan lagi, menurutnya, adalah promosi pejabat pengelola pasar yang “asal bapak senang”.

“Security diangkat jadi pengelola pasar. Dia ngerti pasar apa? Memajukan pasar juga nggak tau,” ucapnya.

Premanisme dan Ruang yang Menjadi Mencekam

Saat ditanya apakah benar Blok G jadi sarang preman, ia tak menyangkal.

“Benar, memang ada,” katanya singkat. Kenyataan ini semakin menutup pintu bagi pembeli.

“Dimiskinkan oleh Kebijakan”

 

Tersisa Harapan Tipis di Lorong Gelap

Di akhir percakapan, J menarik napas panjang. "Kasihan pedagang blok ini… Udah dimiskinkan namanya sekarang,” katanya. Bukan oleh malas bekerja—tetapi oleh kebijakan yang saling bertabrakan.

Namun di balik keluhan itu, tersisa secercah harapan. Ia percaya Blok G masih bisa hidup, seperti era Jokowi dulu.

“Ini aset negara. Masih bisa dijaga. Kalau diperhatiin lagi, bisa rame. Seperti zamannya Pak Jokowi,” katanya.

Di tengah bangunan yang nyaris mati ini, beberapa kios masih membuka pintunya. Lampu seadanya, dagangan seadanya. Mereka bertahan bukan karena berharap laris, tetapi karena ini adalah warisan keluarga.

“Kita mempertahankan hak di sini. Ini warisan orang tua,” ucapnya.

Lalu ia menyampaikan permintaan sederhana—yang mungkin tak pernah sampai ke telinga pengambil keputusan.

“Ditinjau dulu, lihat kami ini. Biar tahu. Diperbarui, direnovasi, dihidupin lagi,” katanya.

 

Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6