Update Terbaru Kasus Ledakan di SMAN 72 Jakarta: 46 Siswa Diperiksa, Pelaku Sudah Sadar

Penyidik Polda Metro Jaya memeriksa 46 siswa dan melibatkan tim psikolog forensik dalam penyelidikan ledakan di SMAN 72 Jakarta, sementara pelaku sudah sadar namun belum dapat dimintai keterangan.

Diterbitkan 13 November 2025, 14:59 WIB
Share
Copy Link
Batalkan
Jadi intinya...
  • Polda Metro Jaya periksa 46 siswa SMAN 72 terkait ledakan, didampingi Apsifor.
  • Gubernur DKI Pramono Anung menyatakan tidak ada bullying di SMAN 72.
  • Pelaku diduga terpengaruh media sosial dan masalah pribadi keluarga.

Liputan6.com, Jakarta Sebanyak 46 siswa SMAN 72 Jakarta, hari ini, diperiksa penyidik Polda Metro Jaya pasca adanya ledakan di sekolah tersebut beberapa waktu lalu.

"Pemeriksaan saksi anak dilakukan paralel dengan observasi dari Apsifor (Asosiasi Psikologi Forensik). Saksi berstatus siswa di sekolah disebut saksi anak," ujar Kabid Humas Polda Metro Jaya Kombes Pol Budi Hermanto di Jakarta, Kamis (13/11/2025).

Tak sampai di sana, kata dia, penyidik juga melanjutkan penyitaan terhadap barang bukti dari korban yang masih dirawat di RS Islam Jakarta (RSIJ) Cempaka Putih.

Budi juga mengungkapkan, ayah pelaku juga telah dimintai keterangannya sebagai saksi.

 

"Diminta keterangan dua hari lalu, hari ini yang diambil keterangan saksi anak," ungkap dia.

Sementara itu, kondisi pelaku, Anak yang Berhadapan dengan Hukum (ABH), mulai membaik pasca menjalani operasi akibat kejadian ledakan tersebut.

"ABH kondisi sudah sadar, akan tetapi masih belum bisa diminta keterangan karena kondisi masih masa pemulihan," tandas Budi.

Pramono: Tak Ada Bullying di SMAN 72, Pelaku Terpengaruh Medsos

Sebelumnya, Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung menyebut tidak ditemukan indikasi perundungan (bullying) dalam kasus ledakan yang dilakukan oleh Anak Berhadapan dengan Hukum (ABH) di SMAN 72, Jakarta Utara.

Menurut Pramono, kesimpulan itu diperoleh usai pihak sekolah dan siswa lainnya di SMAN 72 memberikan keterangan.

“Teman-teman atau anak-anak kita yang dari SMA 72 semuanya menyampaikan bahwa tidak ada bullying,” kata Pramono di Balai Kota DKI Jakarta, Kamis (13/11/2025).

Pramono menjelaskan, kendati tidak ada unsur perundungan di lingkungan sekolah, pelaku diduga memiliki masalah pribadi di luar sekolah.

“Pelakunya ini keluarganya antara bapak ibunya terpisah. Selama ini dia hidup dengan ayahnya. Ayahnya pun kan chef, sibuk,” kata Pramono.

Pengaruh Medsos

Ia menjelaskan, perilaku pelaku yang sampai merakit bom sendiri menunjukkan adanya pengaruh kuat dari media sosial dan konten daring yang ditonton.

“Kalau melihat dari tujuh bom yang dipersiapkan dan kemudian cara dia membawa, kemudian pakaian kayak Rambo dan sebagainya, ya mungkin ini pengaruh dari YouTube, media sosial,” ucapnya.

Pramono menegaskan, kasus ledakan ini menjadi pengingat pentingnya peran sekolah dan orang tua dalam mengawasi aktivitas digital anak-anak. Ia menyebut, telah meminta Dinas Pendidikan (Disdik) DKI Jakarta untuk melakukan langkah penanganan dan pembinaan lebih lanjut.

“Saya sudah minta kepada Ibu Kepala Dinas segera ditangani. Bahwa anak-anak di pelajar itu tidak semudah itu untuk bisa kemudian menginspirasi dia melakukan seperti yang ada di media sosial,” kata Pramono.

Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6