Eks Direktur Pertamina Jelaskan Peran Vital Terminal BBM dalam Sidang Dugaan Korupsi Tata Kelola Minyak Mentah

Mantan Direktur Rekayasa Infrastruktur Darat PT Pertamina Patra Niaga Edward Adolf Kawi menjelaskan peran vital terminal bahan bakar minyak (BBM) milik PT Oil Tanking Merak (OTM) dalam impor dan distribusi BBM ke daerah.

Diterbitkan 11 November 2025, 10:40 WIB
Share
Copy Link
Batalkan
Jadi intinya...
  • Terminal OTM vital untuk impor dan distribusi BBM, kata mantan Direktur Pertamina.
  • OTM menekan biaya impor BBM karena mampu menampung kapal besar.
  • OTM berfungsi sebagai hub, menyalurkan BBM ke depo Pertamina yang lebih kecil.

Liputan6.com, Jakarta - Mantan Direktur Rekayasa Infrastruktur Darat PT Pertamina Patra Niaga Edward Adolf Kawi menjelaskan peran vital terminal bahan bakar minyak (BBM) milik PT Oil Tanking Merak (OTM) dalam impor dan distribusi BBM ke daerah.

Hal itu disampaikan Edward saat bersaksi dalam sidang perkara dugaan korupsi tata kelola minyak mentah dan produk kilang PT Pertamina dengan terdakwa Muhammad Kerry Adrianto Riza yang juga dikenal sebagai putra dari Riza Chalid.

Menurut Edward, Terminal BBM milik OTM dapat menekan biaya impor sekaligus memudahkan distribusi BBM ke daerah. Mengingat untuk BBM impor, kata dia, dibutuhkan kapal dengan ukuran besar sehingga harga dapat jauh lebih murah.

"Memang desainnya OTM ini kan kapal-kapal besar, Pak ya. LR (long range) maupun MR (medium range). Ada ada beberapa GP (general purpose), Pak, dan memang untuk impor itu secara keekonomian, Pak ya, eh cost paling murah adalah kapal dengan size besar," kata Edward saat bersaksi dalam di Pengadilan Tipikor Jakarta, Senin 10 November 2025.

Edward juga menjelaskan, Terminal BBM PT OTM berfungsi sebagai hub atau penghubung. Dari terminal tersebut, BBM disalurkan ke depo-depo Pertamina yang lebih kecil di berbagai daerah.

"Terminal hub, terminal terima impor dengan kapasitas gede, kemudian kami salurkan ke depo-depo atau terminal kami yang lebih kecil," papar dia.

Edward mengakui, tidak semua terminal Pertamina memiliki dermaga dengan kapasitas besar. Contoh, dermaga di Bengkulu hanya mampu disandarkan oleh kapal dengan kapasitas 3.500 dwt (deadweight tonnage). Sementara dermaga di Teluk Kabung, Padang, dapat menampung 35.000 dwt.

 

Contoh Lainnya

Contoh lainnya, lanjut Edward, Terminal BBM di Panjang, Lampung hanya mampu menampung kapal GP dengan kapasitas 17.000 dwt.

Sementara untuk Terminal BBM Kertapati, Palembang, alur Sungai Musi hanya mampu menampung kapal dengan maksimal kapasitas 4.500 dwt dan Terminal BBM di Pontianak kapasitasnya 3.500 dwt.

"Jadi batasannya karena tadi, Pak, kapasitas impor itu harus size-nya gede supaya freight cost-nya murah, kedua ada restriksi di terminal penerima kami yang tidak semuanya punya kapasitas yang besar," dia menandasi.

Sebagai informasi, penjelasan Edward soal kapasitas kapal dan fungsi kerjasama pertama dengan PT OTM guna menjawab pertanyaan jaksa penuntut umum yang mempertanyakan alasan mengapa distribusi BBM harus melalui Terminal BBM PT OTM.

Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6