Banyuwangi Jadi Pusat Diskusi Nasional Industri Udang, Soroti Isu Ekspor dan Inovasi Budidaya

Menurut Bupati Ipuk, Banyuwangi merupakan salah satu daerah penghasil udang terbesar di Indonesia, sehingga pertemuan ini penting sebagai sarana memperkuat kolaborasi antarpelaku usaha di sektor tersebut.

Diterbitkan 14 Oktober 2025, 18:18 WIB
Share
Copy Link
Batalkan
Jadi intinya...
  • Forum Shrimp Fair di Banyuwangi bahas dinamika ekspor udang, terutama ke Amerika Serikat.
  • Isu utama adalah pengetatan impor AS akibat temuan radioaktif di UPI Cikande, Serang.
  • Pemerintah pastikan ekspor aman dengan sertifikat Bapetan, peluang pasar AS tetap terbuka.

Liputan6.com, Jakarta Ratusan pelaku industri udang dari berbagai daerah di Indonesia berkumpul di Banyuwangi dalam ajang Forum Shrimp Fair yang berlangsung selama tiga hari, 14–16 Oktober 2025. Agenda besar ini menjadi ruang diskusi strategis untuk membahas dinamika ekspor udang ke sejumlah negara, terutama Amerika Serikat.

Forum ini diinisiasi oleh Shrimp Club Indonesia (SCI) ini dihadiri para pengusaha, pembudidaya, eksportir, hingga penyedia sarana tambak udang dari berbagai wilayah, mulai dari Sumatera, Jawa, Bali, hingga Nusa Tenggara Barat (NTB).

Banyuwangi Dukung Penguatan Ekosistem Industri Udang Nasional

Bupati Banyuwangi Ipuk Fiestiandani menyambut positif terselenggaranya forum ini. Ia menegaskan, Banyuwangi merupakan salah satu daerah penghasil udang terbesar di Indonesia, sehingga pertemuan ini penting sebagai sarana memperkuat kolaborasi antarpelaku usaha di sektor tersebut.

“Ini jadi momentum untuk kita semua duduk bareng, saling menguatkan, sehingga ketika ada masalah bisa diselesaikan secara bersama-sama. Semoga melalui forum ini persoalan ekspor udang ke AS bisa terselesaikan,” ungkap Ipuk.

Dalam forum ini, isu utama yang menjadi perhatian adalah pengetatan aturan impor udang oleh otoritas Amerika Serikat (AS), menyusul temuan paparan radioaktif Cesium-137 (Cs-137) di salah satu Unit Pengolahan Ikan (UPI) di kawasan industri Cikande, Serang. Temuan tersebut sempat berdampak terhadap kelancaran ekspor udang Indonesia ke pasar AS.

Pemerintah Pastikan Ekspor Aman dan Peluang Pasar Tetap Terbuka

Kepala Balai Besar Perikanan Budidaya Air Payau Jepara, Supito, menegaskan bahwa temuan radioaktif tersebut tidak ditemukan di lokasi budidaya udang, melainkan hanya di satu area UPI di Cikande, Tangerang.

“Secara teknis temuan tidak ada di lokasi budidaya, temuan hanya di UPI, itu pun hanya ada di satu lokasi Cikande, Tangerang. Di luar wilayah itu yang lain tidak ada masalah,” kata Kepala Balai Besar Perikanan Budidaya Air Payau Jepara, Supito.

"Pemerintah memastikan di luar Cikande, produk udang dari UPI kawasan lainnya dipastikan aman dari paparan zat berbahaya," tegasnya.

Supito mengatakan untuk mengatasi hal tersebut, Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) hingga Kementerian Koordinator Bidang Pangan, telah menerapkan standar operasional prosedur (SOP) penerbitan sertifikat bebas radioaktif yang dikeluarkan oleh Badan Pengawas Tenaga Nuklir (Bapetan), agar ekspor produk udang dapat kembali berjalan normal.

“Peluang ekspor ke Amerika Serikat masih terbuka lebar. Karena hanya satu lokasi saja yang di-red list (UPI Cikande), sedangkan daerah lain tetap bisa ekspor asal melengkapi sertifikat bebas radioaktif dari Bapetan,” katanya.

Sementara Dewan Penasehat Shrimp Club Indonesia (SCI) Banyuwangi, Hardi Pitoyo, mengatakan dari forum yang digelar di Banyuwangi diharapkan juga bisa menemukan inovasi dan pemikiran baru, agar industri udang di Indonesia terus berkembang

“Dinamika usaha memang seperti ini. Kita harus bisa mengikuti, mengantisipasi, dan kemudian mencari solusi yang terbaik,” kata Pitoyo.

Selain seminar kegiatan ini juga diisi pameran teknologi, peralatan, hingga produk budidaya tambak udang. 

Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6